Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 27 - Murahan Sekali


__ADS_3

Aurorae menatap jauh ke luar jendela. Tangan kanannya menggenggam ponsel, dan tangan kirinya mengusap pelan perut buncitnya.


Beberapa kali ia mendengus. Entah apa yang membebani pikirannya.


“Sesuatu terjadi?” Dea yang sejak tadi hanya memperhatikan, akhirnya menghampiri.


Aurorae menoleh memamerkan senyuman. “Tidak.” Ia beranjak , duduk perlahan di salah satu kursi yang ada.


“Atau mungkin belum.” Jawabnya lagi, kali ini tanpa tersenyum.


Dea mengulurkan segelas jus buah naga.


“Jikapun sesuatu terjadi , jangan membebani pikiranmu terlalu berat.” Dea menarik kursi untuk mendekat.


Ia menatap Aurorae lembut.


“Jangan menatapku begitu, aku jadi merasa terlihat menyedihkan.” Aurorae terkekeh.


“Ingin cerita?”


“Apa boleh? “ Aurorae menoleh dengan tatapan memelas.


“Rasanya aku ingin menangis , tapi tidak tahu apa yang membuatku begitu sedih.” Matanya mulai berkaca-kaca.


“Kau bertengkar dengan Pak Juno?” Dea menatap menyelidik.


Dan Aurorae menggeleng pelan.


“Tidak. Kalau boleh, aku lebih baik bertengkar saja dengan Mas Juno, agar punya alasan mengeluarkan semua perasaanku.” Aurorae mengusap cepat air mata yang jatuh.


Dea hanya diam, memberi kesempatan Aurorae bercerita lebih banyak. Ia hanya terus mengusap pelan punggung wanita hamil itu.


“Kemarin aku bertemu dengan Megumi. Melihat wajahnya membuatku sangat marah. Aku teringat lagi saat beberapa bulan lalu dia memfitnahku, menciptakan kesalahpahaman antara aku dan Mas Juno.”


Aurorae mengambil jeda sejenak , menarik napas perlahan.


“Terlebih, dia mengejekku, mengingatkan lagi bagaimana Mas Juno memarahiku waktu itu.”


Aurorae menoleh. “Wanita itu, aku benar-benar ingin menjambaknya. Tapi akhirnya aku menahan diri dengan baik.”


Aurorae menceritakan semuanya pada Dea. Saat ia bertemu Megumi, saat Megumi membahas lagi kejadian berbulan-bulan lalu, saat Megumi mencondongkan wajah untuk mencemoohnya. Semuanya.


“Lain kali jambak saja , tarik rambutnya sampai rontok dalam genggamanmu. Kenapa repot-repot menahan diri?” Dea memekik kesal.

__ADS_1


Selain karena apa yang diceritakan Aurorae, juga karena apa yang sudah wanita itu lakukan dengan mantan adik iparnya.


Aurorae terisak lebih kencang , membuat Dea tidak tega. Ia menarik Aurorae dalam pelukannya , mengusap lembut punggungnya.


“Aku tidak tahu bagaimana perasaanku. Bertemu kembali dengan Megumi, tiba-tiba memunculkan perasaan sesak yang menyakitkan. Entah apa yang membuatku begitu terluka , aku tidak tahu. Apa karena kejadian berbulan-bulan lalu, atau kenyataan bahwa wanita itu juga adalah istri suamiku. Aku tidak tahu, Mbak.” Aurorae masih terus terisak di pelukan Dea.


Dea mendengus pelan. “Rae , kau sangat tahu bagaimana caranya agar Pak Juno meninggalkan Megumi.”


Aurorae mengangkat wajahnya.


Menatap Dea bimbang.


“Aku.. takut.”


“Pada siapa?”


Aurorae menggeleng. “Aku takut, Mas Juno akan sangat terluka, jika tahu Megumi mengkhianati pernikahan mereka."


Ia menangis lagi.


Entah apa yang membuatnya sangat bersedih. Bukankan bagus jika akhirnya Herjuno meninggalkan Megumi? Ia bisa memiliki suaminya seorang diri.


Dea mendengus sebal. “Dengar , apapun yang terjadi , hanya pikirkan kau dan bayimu. Makanlah dengan baik , istirahat yang cukup. Lakukan apapun yang membuatmu bahagia. Soal lain-lain, biarkan hanya lewat, jangan biarkan menetap di kepalamu ini.” Ia mengacak pelan rambut Aurorae.


Rasanya kesal sekali. Ia ingin mengatakan kepada Herjuno, bagaimana Megumi menjalin hubungan dengan mantan adik iparnya. Kalau perlu, ia ingin mengatakannya di hadapan semua orang yang mengenal Megumi.


Aurorae tidak siap melihatnya. Sebesar apa cinta Herjuno pada Megumi , Aurorae takut itu akan menyakitinya.


Dea menarik napas pelan.


“Ah , aku seperti benar-benar memiliki dua adik sekarang.” Ia mencubit gemas sebelah pipi Aurorae.


Aurorae mendongak. “Dimana Dira? Kenapa dia tidak datang hari ini?”


Dira adalah adik dari Dea. Mantan istri Satya. Mereka resmi bercerai empat bulan lalu.


“Sedang menjemput Ibuku di stasiun.” Dea melirik pergelangan tangannya. “Aku harus kembali ke kantor. Waktu makan siang hampir habis.”


Ia bergegas , menyambar tas kecil di meja , lalu melangkah keluar.


“Benarkah? Ibu berkunjung?” teriak Aurorae sebelum Dea benar-benar keluar.


“Hum. Akan menginap di rumah Dira.” Pekik Dea sebelum masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Aurorae tersenyum. Menatap laju mobil Dea dari balik jendela.


Ia tidak pernah menyangka akan sedekat ini dengan Dea. Dulu saat masih bekerja di kantor yang sama , mereka bahkan jarang mengobrol. Hanya bertegur sapa jika tidak sengaja berpapasan.


Perceraian Dira dengan Satya beberapa bulan lalu, perlahan membuat Aurorae dekat dengan Dea dan keluarganya. Hingga mereka memutuskan membangun usaha kecil bersama , meski Dea tetap bekerja di kantornya.


Aurorae menoleh. Berjalan menghampiri ponselnya yang berdering.


“Ya Mas?”


“Sudah makan siang?”


“Sudah , baru saja dengan Mbak Dea di ruko.” Senyumnya mengembang hanya dengan mendengar perhatian kecil dari suaminya.


“Mas ingin apa untuk makan malam nanti?” tanyanya lagi.


Herjuno terdiam, bingung harus menjawab apa. Hari ini memang waktunya Herjuno pulang ke rumah Aurorae, tapi baru saja Megumi menelepon meminta Herjuno pulang karena ia tidak enak badan.


Herjuno tidak ingin menyakiti Aurorae, tapi meninggalkan Megumi sendiri hanya dengan Bi Lilis dan anak-anak rasanya juga tidak mungkin.


“Ehm.” Herjuno berdehem pelan. “Aku akan makan apapun yang istriku masak.”


Manis sekali. Membuat Aurorae tersipu.


“Baiklah. Aku akan mampir sebentar ke rumah Dira , karena Ibu berkunjung. Nanti aku akan lekas pulang sebelum jam empat sore.”


“Hati-hati di jalan, mengemudi dengan aman!” ucap Herjuno sedikit kesal. Sudah berulang kali ia katakan agar Aurorae berhenti mengemudi sendiri. Lebih baik naik taksi jika Herjuno tidak bisa mengantar. Tapi istrinya itu tidak menurut. Selalu mengatakan ia masih kuat.


Aurorae terkekeh. “Baik. Lagipula rumah Dira tidak terlalu jauh, searah jalan pulang.”


“Jangan terlalu lelah. Tidak apa-apa tidak memasak jika lelah. Pilih makanan pesan antar saja.”


Aurorae tersipu lagi. “Baiklah. Sampai jumpa di rumah Mas.”


Aurorae menangkup kedua pipinya setelah sambungan telepon terputus.


Ia merona lagi.


Ah begini saja sudah bahagia. Murahan sekali.


Ia terkekeh.


Lalu meraih tas dan kunci mobil miliknya.

__ADS_1


“Aku akan pulang sekarang. Hubungi aku atau Mbak Dea jika ada sesuatu yang mendesak.” Pesannya kepada salah satu karyawan sebelum beranjak keluar.


**


__ADS_2