
“Apa? Kau menemui Aurorae?” Herjuno menatap Megumi kesal.
“Maafkan aku Mas , aku hanya ingin memperbaiki hubungan dengannya , sampai kapan kita terus begini.”
Megumi mulai menangis , membuat Herjuno iba.
“Aurorae mendorongmu hingga terjatuh?”
Megumi mengangguk.
“Mungkin dia tidak sengaja. Tidak apa-apa.” Isaknya lagi.
“Istirahatlah. Aku akan bicara dengan Aurorae.”
Herjuno beranjak.
“Mau kemana Mas?” Megumi bertanya sebelum Herjuno benar-benar pergi.
“Ke rumah Aurorae. Aku harus bicara.”
“Jangan pergi dalam keadaan marah Mas. Nanti hubungan kita akan semakin memburuk.”
“Hal seperti ini harus segera diluruskan , habiskan makananmu. Jangan lupa minum obatnya , setelah itu istirahatlah.” Herjuno mengusap sayang kepalanya.
**
Aurorae membalut tubuhnya dengan bathrobe sambil bersenandung pelan. Membungkus rambut basahnya dengan handuk kecil , lalu segera keluar dari kamar mandi.
“Astaga Mas, kau mengagetkanku.”
Dilihatnya Herjuno yang sedang bersandar di kepala ranjang.
“Kenapa baru mandi? Ini sudah hampir jam delapan malam.”
Herjuno beranjak mendekati Aurorae, memeluk istrinya mesra.
“Tubuhku bau masakan , tadi aku baru selesai masak.” Aurorae tersenyum.
“Mas sudah makan malam?”
“Belum , cepat pakai bajumu. Aku sudah lapar.” Ia mengecup pelan kening Aurorae, lalu beranjak keluar dari kamar.
Menutup pintu kamar pelan , lalu mendesah. Jauh di lubuk hatinya, ia sangat marah. Tapi ia harus bicara baik-baik dengan Aurorae. Apalagi ia belum mendengar juga cerita kejadian siang tadi dari istri keduanya.
Herjuno segera menuruni tangga. Menunggu Aurorae turun untuk makan malam.
**
“Terima kasih.” Herjuno tersenyum menatap Aurorae yang baru saja menyodorkan sepiring nasi dan lauk pauknya.
Aurorae nampak cantik dengan sleeveless dress panjang berwarna biru laut. Rambutnya di jepit setengah , menyisakan sedikit poni dan anak rambut yang menjuntai ke depan.
“Makanlah yang banyak.” Ia pun tersenyum. Terlihat semakin cantik di mata Herjuno.
“Ehm.. Rae..”
Herjuno membuka pembicaraan saat Aurorae mulai menyantap makanannya.
Aurorae mendongak. Memperhatikan suaminya yang terlihat gugup dan ragu-ragu dengan kalimat selanjutnya.
“Ada apa Mas?”
“Ehm.. apa siang tadi Megumi datang?”
__ADS_1
“Iya.”
Merasa Herjuno akan membicarakan sesuatu yang serius , Aurorae meletakkan sendok dan garpunya.
“Lanjutkan makanmu , kita bicara sambil makan, hem?”
Aurorae mengangguk. Mengambil lagi sendok dan garpu miliknya.
“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Herjuno lagi.
“Tidak ada. Aku tidak nyaman membawanya masuk ke dalam. Kau tahu Mas , aku masih sangat kesal mengingat pertemuanku dengannya di supermarket beberapa hari yang lalu. Lagi pula aku pikir kami tidak dalam situasi yang baik , karena itu aku...”
“Karena itu kau mendorongnya hingga terjatuh dari tangga teras depan?” Herjuno memotong, saat Aurorae belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
Aurorae mendongak. Menatap mata suaminya. Jelas terlihat kilatan amarah di sana. Herjuno menatapnya tajam , dengan kedua tangan menggenggam erat sendok dan garpunya.
“Karena itu aku memintanya bicara diluar.” Aurorae menghembuskan napas nya pelan.
“Apa maksudmu aku mendorongnya?” lanjutnya lagi.
“Rae , aku tahu kau dan Megumi tidak mungkin bisa akur seperti teman. Aku tahu kau memiliki hak yang sama dengan Megumi. Kalian sama-sama istriku aku tahu. Tidak peduli siapa yang pertama dan siapa yang kedua , kau memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai istri. Aku sedang berusaha mewujudkan itu, memperlakukan kalian dengan adil, agar tidak ada yang semakin terluka. Bersabarlah Rae , bukankah dari awal kau tahu aku sudah memiliki seorang istri? Kendalikan dirimu, Megumi pun seperti itu , ia sedang mencoba menerima situasi kita. Menerimamu juga sebagai istriku, status yang sebelumnya hanya miliknya. Jangan begini Rae.. jika ada seseorang yang harus marah , harusnya itu Megumi. Kau lah yang masuk diantara kami, tapi lihatlah , dia singkirkan egonya. Dia datang untuk memperbaiki hubungannya denganmu, kenapa kau memusuhinya? Di supermarket kau berdebat dengannya , mempermalukan diri kalian sendiri, apa menyenangkan menjadi tontonan banyak orang?”
Herjuno mendesah pelan. Mengambil jeda sejenak sebelum kembali melontarkan suaranya.
Sedang Aurorae menunduk, meremat kuat dress di bagian pahanya. Air mata sudah mengalir dengan deras meski tanpa suara.
“Lalu apa yang kau lakukan? Kau mendorongnya tanpa belas kasihan , Tangga di depan cukup tingga Rae , syukurlah kepalanya baik-baik saja. Tapi lengan dan kakinya terluka. Apa harus seperti itu Rae?” lanjutnya lagi. Tanpa menyadari Aurorae menggigit bibir bawahnya menahan agar isakannya tidak keluar.
“Kau mencurigaiku? Sudah ku bilang , aku tidak mendorongnya. Aku bahkan tidak tahu dia jatuh di tangga depan. Aku tidak tahu dia terluka.” Runtuh sudah pertahanan nya , kali ini suaranya bergetar , menahan tangis.
Aurorae mendongak. Menatap Herjuno dengan linangan air mata.
“Ku bilang aku tidak mendorongnya.” Tatapannya berubah menjadi tatapan benci dan muak. Herjuno menyadari itu.
Belum sempat Herjuno menyelesaikan kalimatnya, Aurorae sudah beranjak. Meninggalkan makan malam yang hanya tiga suap, menuju kamarnya di lantai dua.
Herjuno menyusul. Tapi sebelum sempat ia masuk , Aurorae menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Berlari menuju ranjangnya , lalu terisak-isak dibalik bantal.
“Rae buka pintunya! Aku belum selesai bicara.”
“Rae !”
Tanpa sadar Herjuno menendang keras bagian bawah pintu. Membuat Aurorae terperanjat, dan semakin menangis tertahan.
“Rae ... jika kau tidak buka pintu , aku akan pulang!” Herjuno mengancamnya, dan Aurorae tidak peduli.
“Rae kau benar-benar kelewatan!”
“Rae!”
“Baik, aku pulang. Jangan menghubungiku ! Kau benar-benar keras kepala! Kekanak-kanakan!” teriak Herjuno dari depan pintu. Lalu tidak lama terdengar suara langkah kakinya yang menjauh. Dia benar-benar pergi.
**
Herjuno kembali ke rumahnya dengan wajah masam. Sudah jam sepuluh malam, dilihat Haidar sudah terlelap di kamarnya.
“Sudah Bi , tidur saja. Apa Ibu sudah tidur?” tanyanya pada Bi Lilis yang baru saja membukakan pintu untuknya.
“Sudah masuk ke kamar sejak satu jam lalu Pak, setelah Haidar tidur.”
“Obatnya sudah di minum?”
“Sudah Pak, tadi saya sendiri yang menyiapkan.”
__ADS_1
“Baik, terima kasih Bi, istirahat saja.”
Bi Lilis mengangguk , lalu melengang pergi masuk ke dalam kamar yang ia tempati bersama kedua anaknya.
“Mas , kau pulang?” Megumi keluar dari kamar setelah mendengar suara orang bercengkrama.
“Kenapa keluar? Istirahatlah, sudah malam.” Dilihatnya Megumi berjalan tertatih.
“Apa kau sudah makan?” Megumi mengabaikan perkataan suaminya.
“Sudah. Kemarilah.” Herjuno menepuk kursi di sampingnya.
“Aku kira kau menginap di rumah Aurorae malam ini?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Besok ada rapat satu jam lebih awal dari jam masuk kantor , akan lebih dekat jika aku berangkat dari sini.”
Megumi mengangguk pelan.
“Padahal pasti Aurorae merindukanmu Mas , sudah beberapa hari kau menginap di sini, jangan memperlakukannya seperti itu.”. Megumi memancing lagi, seolah tak puas dengan penjelasan suaminya.
“Dia baik-baik saja. Tidurlah , aku akan membersihkan tubuhku lalu menyusul.” Herjuno tersenyum manis sambil mengusap lembut kepala Megumi.
Megumi mengangguk, memamerkan senyum terbaiknya. Senyum wanita yang luar biasa hebat , berhati malaikat meski di perlakukan tidak baik oleh madunya. Itulah yang sedang berusaha ia tunjukkan.
Sepeninggal Herjuno, ia mendengus kesal.
“Cih, perempuan itu pasti menyangkalnya. Dan Mas Juno pasti lebih mempercayai nya.” Megumi melipat kedua tangan di dada , belum mau beranjak dari ruang keluarga.
Kita lihat saja Aurorae Genina , aku atau kau pemenangnya.
**
“Mas , apa kau sudah bicara dengan Aurorae?” tanya Megumi.
Saat ini mereka berdua sudah sama-sama merebahkan tubuh di atas ranjang. Megumi memeluk mesra suaminya , memainkan ujung jari di atas dada Herjuno.
“Hem.” Herjuno mengangguk.
“Apa katanya?”
“Me , maafkanlah Aurorae, dia tidak mungkin ingin mencelakaimu dengan sengaja.” Herjuno menoleh , menatap istrinya. Bingung harus bicara bagaimana, sebab jangankan meminta maaf, Aurorae mengaku pun tidak.
“Aku tahu Mas , tidak apa-apa.” Megumi tersenyum lagi.
“Tidurlah , sudah larut.” Herjuno mengusap pelan kepala istrinya , dan mulai memejamkan mata.
Menyebalkan.
Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?
Aurorae mengaku tidak?
Apa saja yang dia ceritakan?
Apa kau memarahinya?
Huh, kau selalu melindunginya.
**
__ADS_1