Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 30 - Jangan Katakan Apapun


__ADS_3

Seusai makan siang, Farhan tergesa menemui Herjuno di ruangannya. Ditangannya sudah ada dua buah map dengan warna yang berbeda.


"Bagaimana?" Herjuno menatap cemas ke arahnya.


"Ternyata lebih parah dari yang kita duga Pak. Rama harus menjalani operasi sore ini." Lapor Farhan sambil menyerahkan dua buah map yang tadi dibawanya.


Herjuno membolak-balik sebentar untuk membaca beberapa bagian yang penting.


"Minta Maudy handle klien kita yang jam dua siang." putus Herjuno cepat.


"Klien Mirabeth Residence Bougenville 12-A bisa kamu yang handle? Hanya tinggal kesepakatan penambahan bangunan setelah akad kredit."


"Baik Pak. Saya siapkan dulu berkasnya , sebelum bertemu klien sore nanti." Farhan mengangguk lalu pamit keluar dengan isyarat saat ponsel Herjuno berdering.


Ia menghela napas pelan saat keluar dari ruangan Herjuno dan matanya menelisik mencari-cari sosok Maudy.


"Klien Kamboja 9-B tolong handle ya. Jam dua ini bisa kan?" Farhan menyerahkan sebuah map saat menghampiri Maudy yang sedang memfotocopy sebuah berkas.


"Kita nggak punya clue apapun karena Rama kondisinya parah , harus operasi. Nggak tega juga aku kalau harus ngeribetin dia soal kerjaan." Farhan melirik pergelangan tangannya dengan cemas. Kurang lebih empat puluh lima menit lagi waktu yang dijanjikan untuk bertemu dengan klien.


Dan saat itu juga dilihatnya Herjuno yang tergesa keluar dari ruangannya.


"Saya harus pulang sekarang, Istri saya sakit. Jika ada yang mendesak , hubungi saya." pesannya pada Tita , yang kebetulan meja nya paling dekat dari ruangan Herjuno.


Aurorae sakit? Sakit apa?


Maudy melambaikan tangan di depan wajah Farhan yang terus menatap Herjuno hingga menghilang di dalam lift.


"Hya! Gimana bisa nggak?" Maudy memekik tepat di telinga Farhan.


"Hah? Apa?" Laki-laki itu hanya berkedip tanpa rasa bersalah. "Bisa apa?"


Maudy mendengus kesal. "Buang jauh-jauh Aurorae dari kepalamu! Dia sudah bahagia bulan madu sampai ke bulan , kamu masih aja di pojokan sambil nyanyi Bulan sampaikan rinduku padanya , Bintang sampaikan cintaku padanya..." ucapnya sembari menirukan nada sumbang Farhan saat karaoke terakhir kali.


"Sembarangan! Kenapa juga aku bernyanyi seperti it--"


"Diamlah! Bisa-bisa aku juga akan berakhir di pojokan bersamamu kalau proyek ini gagal." Maudy berlalu sambil memukul kencang lengan Farhan dengan setumpuk berkas yang baru saja ia fotokopi.


"Tanyakan pada Farel bisa tidak jika dia pergi bersamaku. Setahuku dia yang mengurus konsultan interior bersama Rama sebelumnya." ucapnya lagi sebelum benar-benar berlalu menuju toilet.


Farhan mendengkus kasar. "Wanita itu benar-benar."


**


Aurorae menatap ponselnya cemas. Pesan yang ia kirimkan pada suaminya sejak dua jam lalu tidak dibalas. Mungkin sudah lebih dari sepuluh kali dia melakukan panggilan , juga tidak di angkat.

__ADS_1


Jam dinding sudah menunjukkan angka tiga lewat tiga puluh menit.


Hari ini Herjuno berjanji akan mengantarnya mengunjungi dokter kandungan setelah semalam ia mengijinkan suaminya itu untuk pulang ke rumah istri pertamanya.


Tiga puluh menit lagi adalah waktu yang ditentukan saat ia membuat janji dengan dokter kandungannya. Dan Herjuno malah tidak bisa dihubungi.


Aurorae menyambar kesal kunci mobil dan tas miliknya. Ia memutuskan untuk berangkat sendiri ke rumah sakit tanpa menunggu Herjuno lagi.


Aurorae mengemudi dengan isak tangis. Hatinya sakit sekali. Entah apa yang sebenarnya sedang dilakukan suaminya hingga tidak sempat membalas pesan dan juga mengangkat panggilan.


Apa ada meeting penting?


Ah benar. Mas Juno pasti ada meeting penting karena ini akhir bulan. Kantor sedang sibuk-sibuknya.


Aurorae mengusap kasar air matanya. Senyum perlahan mulai terbit di bibirnya.


Ia meraih ponsel dan menghubungi Dea.


"Ada apa? Aku sedang sangat sibuk." Wanita itu memang tidak pernah ramah jika menjawab telepon.


Aurorae terkekeh.


"Benarkah? Kau sangat sibuk? Tidak bisakah pulang lebih cepat?" Aurorae mulai merengek seperti anak kecil.


"Sekarang adalah jadwalku ke dokter kandungan. Mas Juno sudah berjanji akan mengantar. Tapi dia tidak menjawab telepon dan tidak membalas pesan. Pasti kantor sangat sibuk dan banyak meeting dadakan." Aurorae mendengus pelan.


Sedang dea mengerjapkan matanya. Apa dia bilang ? Herjuno sibuk? Laki-laki itu bahkan sudah pulang hampir tiga jam yang lalu.


Dea menarik napas pelan saat diingatnya siang tadi Herjuno tergesa-gesa pulang karena istrinya sedang sakit.


"Jam berapa jadwal kunjungan doktermu? Aku akan menemani." Dea akhirnya mengalah. Ia membereskan meja kerjanya yang berantakan.


"Jam Empat sore. Apa tidak apa-apa?" terdengar suara Aurorae riang sekali. Dea semakin tidak tega.


"Hum. Aku jemput?"


"Tidak perlu. Bertemu di rumah sakit saja. Aku sudah ada di perjalanan." jawabnya lagi.


**


"Rae.." Seseorang menyapa membuat Aurorae mendongak.


"Farhan. Sedang apa disini?" Aurorae tersenyum menatap Farhan dan mengambil tas miliknya yang ia simpan di bangku sebelah.


Farhan mengernyit. Apa artinya Aurorae mengizinkan ia duduk?

__ADS_1


Farhanpun menjatuhkan bokong di samping Aurorae.


"Menemani Rama. Orang tuanya belum datang jadi tidak ada perwakilan keluarga."


"Apa Rama sakit?" tanya Aurorae penasaran.


Memang banyak dari teman-teman sekantornya dulu yang perantauan. Tinggal sendiri di kota Bandung untuk bekerja , jauh dari keluarga.


Farhan mengangguk. "Entah berkelahi dengan siapa. Aku bertemu dia sudah babak belur di rumah sakit."


Aurorae melongo. Rama berkelahi?


"Bagaimana kondisinya?"


"Masuk ruang operasi lima belas menit lalu. Kau sendiri , sedang apa?" Farhan menoleh ke arah Aurorae.


"Ah , aku baru saja kontrol kandungan." jawabnya sembari mengusap perut. "Sedang menunggu Mbak Dea menebus obat." dagunya mengedik ke arah Dea yang sedang berbicara dengan petugas apotek beberapa meter di depan mereka.


Farhan mengernyit. "Dengan Mbak Dea?"


Bukankah tadi Pak Juno tergesa karena istrinya sakit, kenapa Aurorae malah pergi dengan Dea. Tapi wanita itu tidak terlihat sedih sama sekali.


"Hum." Aurorae mengangguk. "Mas Juno pasti sangat sibuk karena ini akhir bulan." sambungnya lagi seraya tersenyum.


Farhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia lantas berdiri saat Dea menghampiri mereka.


"Kau disini?" Dea menyapa.


"Ya , menemani Rama."


"Ah benar, aku belum memberitahumu Rama terluka." Dea menepuk pelan lengan Aurorae. "Kita sekalian menjenguk tidak apa-apa?" tanyanya.


Aurorae hanya mengangguk.


"Baru masuk ruang operasi lima belas menit lalu, kata dokter kurang lebih butuh tiga sampai empat jam." Farhan memberitahu sembari melirik pergelangan tangannya.


Sudah jam 16.30 . Terlalu malam jika harus menunggu hingga Rama keluar dari ruang operasi.


"Kalau begitu, kami kembali lagi besok." Aurorae memutuskan. Ia tidak mungkin pulang larut malam di kondisinya yang mudah lelah seperti sekarang.


Dea pun sepakat. Sebelum mereka benar-benar beranjak , Farhan sempat melirik dengan tatapan penuh tanya ke arah Dea.


"Jangan katakan apapun." Bisiknya pada Farhan dengan sedikit gelengan.


**

__ADS_1


__ADS_2