
Farhan menarik nafas perlahan. Tatapannya kosong menatap lantai di bawah kakinya. Sepatu pantofel yang belum sempat ia tukar dengan yang lebih nyaman , ia ketuk ketukkan pelan pada lantai dibawahnya.
Apa kau bahagia, Rae.
Sebenarnya , hidup macam apa yang kau jalani.
Lagi-lagi ia menarik nafas nya kasar.
Menyandarkan punggung ke bangku ruang tunggu tepat di depan ruang operasi. Seakan memejamkan mata tidak cukup membuat gelap, ia juga menutup kedua mata dengan lengan kanannya.
Suara derap langkah yang mendekat tidak lantas membuat Farhan mendongak. Rasanya terlalu malas bahkan hanya untuk menyapa orang lain.
"Bagaimana kondisi Rama?"
Suara Tania. Ah , terpaksa Farhan membuka matanya.
"Entahlah. Tidak ada satu petugas pun yang keluar dari sana." Farhan menoleh ke arah ruang operasi , lalu melirik pergelangan tangannya.
"Kondisinya tidak separah itu kan? Kenapa lama sekali?" Tania terdengar khawatir , ia mengambil posisi duduk di samping Farhan.
Sedangkan Farel hanya berdiri menyandarkan punggungnya di di dinding dan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celana.
Farhan menggeleng pelan. "Dokter belum bicara apapun. Sejak semalam , aku juga tidak bertanya pada Rama. Dia terlalu lemah." Ia menoleh lagi ke arah ruang operasi.
"Haissh dasar berandalan! Dengan siapa dia sebenarnya berkelahi, lihat saja akan aku hajar sendiri nanti jika sudah sembuh." Farhan mengumpati temannya itu masih dengan memandangi ruang operasi.
"Apa dia akan baik-baik saja?" Farel yang sejak tadi diam , akhirnya bicara. Kekhawatiran terlihat jelas dari nada suaranya. "Bagaimana dengan orang tuanya?"
Farhan mengusap wajah dengan kedua tangan, menangkupnya lama. "Dia akan baik-baik saja. Dia harus baik-baik saja , agar Ayahnya bisa menghajarnya."
Mereka bertiga menghibur dan menguatkan diri sendiri. Sesungguhnya diantara mereka semua tidak ada yang percaya diri dengan kondisi sahabatnya.
**
Aurorae merebahkan tubuhnya. Sesaat membolak-balik badan mencari posisi yang nyaman lalu menarik selimut hingga batas leher.
Ia mendengus. Sudah hampir jam delapan malam dan Herjuno belum juga menghubunginya.
Kemana sebenarnya laki-laki itu.
Sibuk? Banyak pekerjaan? Meeting mendadak?
Meski beberapa kali mulut Aurorae mengatakan itu sembari tersenyum, tetapi jauh di dasar hati dia tahu ada hal lain yang menghambat suaminya datang.
Bukan tentang pekerjaan.
Aurorae hanya tidak ingin dikasihani.
Tidak ingin terlihat menyedihkan dihadapan siapapun.
__ADS_1
Ia mulai terisak. Menggigit kuat bibir bawahnya agar tidak ada suara yang lolos.
Tega sekali kamu Mas.
Apa sesulit itu mengirim pesan?
Ia terus tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hingga getar ponsel terdengar.
Sayang maafkan aku, Megumi sakit. Aku tidak sempat membuka ponselku tadi karena harus ke rumah sakit.
Sebuah pesan dari Herjuno , semakin membuat hati Aurorae terasa di remat.
Tidak apa-apa kan kalau di undur besok? Aku akan pulang setelah jam makan siang besok. Maafkan aku , ya.
Aurorae semakin muak. Ia lempar kasar ponselnya sembarang arah. Dan semakin terisak isak menenggelamkan diri di bawah selimut.
**
"Aku akan kembali ke kantor." Dea mengemasi barang-barangnya yang ada di meja.
"Masih ada waktu tiga puluh menit lagi, kenapa buru-buru?" Aurorae mendengus membuat Dea menoleh.
Dira yang juga ada disana sedang memeriksa beberapa pesanan pun menghentikan pekerjaannya.
"Katakan , kau bukan kesal karena Mbak Dea akan kembali ke kantor kan?" Dira menarik kursi mendekat.
"Ada apa?" Dea menyambung.
Hanya melirik sekilas , hingga berhenti dengan sendirinya.
"Kau bertengkar?" tanya Dira penasaran , dan Aurorae menggeleng.
"Katakan dengan benar, pekerjaanku banyak sekali astaga." Dea menimpali kesal.
Aurorae mencebik. "Sudahlah , kembali saja!"
Dea menarik napas pelan , lalu mendekat. Mengusap sayang kepala Aurorae.
"Ada apa adikku sayang? Kakakmu ini harus segera kembali bekerja. Jadi jika ada yang ingin diceritakan , katakan!" tanyanya lembut dengan mengedipkan kedua matanya.
"Menggelikan!" Dira terkekeh.
Lalu Aurorae menceritakan semuanya yang terjadi hari kemarin. Dengan menangis tentu saja. Berulang kali ia tergagap karena isakan di tengah-tengah ceritanya.
Dea menarik napas kasar.
"Kau ini cinta atau bodoh? Daripada menangis diam-diam sendirian , kenapa tidak kau maki-maki saja suamimu itu! Jambak rambutnya , tampar wajahnya. Suka sekali menyakiti diri sendiri!"
Aurorae semakin menunduk terisak.
__ADS_1
"Mbak , tidak perlu memarahi Aurorae seperti itu. Dia sudah sangat sedih." Dira menengahi.
"Nasehati dia. Ceritakan bagaimana kau berjuang untuk rumah tanggamu tapi akhirnya sia-sia saja karena wanita bernama Megumi itu!" Dea memekik kesal.
"Berhenti menangis! Atau aku akan meninju wajah Herjuno didepan semua orang." Ancamnya.
Dea pun berlalu dengan masih mengumpat kesal. Dia memang lebih tua beberapa tahun dari Herjuno , memanggilnya dengan sebutan Pak hanya untuk sopan santun karena Herjuno adalah atasannya di kantor.
Sedang Aurorae menangis semakin kencang dengan Dira yang menepuk punggungnya , menenangkan.
**
Herjuno tengah berdiri di depan pintu saat mobil Aurorae memasuki halaman. Tatapannya tajam , terlihat jelas sedang kesal.
Aurorae menarik napas dalam-dalam, dan membuangnya perlahan sebelum turun dari mobil.
"Darimana saja? Aku telepon berkali-kali kenapa tidak dijawab?" berondong Herjuno ketika Aurorae melangkah kearahnya.
"Maaf." hanya itu jawaban Aurorae sembari terus melangkah masuk, melewati Herjuno.
"Kau marah? Ada apa lagi sekarang?"
Pertanyaan Herjuno otomatis menghentikan langkah Aurorae. Wanita itu mendengus. Tertawa sinis tanpa menoleh.
"Ada apa lagi? Ada apa lagi kau bilang?"
Lagi-lagi Aurorae menarik napas perlahan. Mengelus sayang perutnya yang membuncit.
"Pulanglah Mas, aku lelah." Aurorae melanjutkan langkahnya menuju lantai dua rumah.
"Kau mengusirku?" tanya Herjuno sembari terus membuntuti istrinya. "Aku buru-buru datang kesini meninggalkan pekerjaanku, dan kau mengusirku?"
Aurorae masih belum menjawab apapun.
"Kau juga dulu bagian dari SG , kau tahu persis seperti apa sibuknya kita setiap akhir bulan!"
"Aku menyempatkan waktu kesini , dan kau mengusirku?"
"Katakan , sebenarnya apa kesalahanku? Apa masalahmu?"
"Bukan masalah , hanya aku takut istrimu yang sakit itu membutuhkanmu." Aurorae menarik handle pintu , dan Herjuno menghadang tepat didepan Aurorae.
"Kau marah karena Megumi sakit? Dengar, tidak ada orang yang ingin jatuh sakit, kondisinya darurat , Megumi lebih membutuhkanku kemarin."
Aurorae membalas tatapan tajam suaminya.
"Maka itu sekarang aku memintamu pulang , barangkali istrimu itu sedang sekarat!" suaranya bergetar , ada tangis yang berusaha ia sembunyikan.
"Aurorae Genina !" Herjuno memekik , dengan bola mata memelototi Aurorae.
__ADS_1
"Pulanglah Mas, jangan membuat keributan!" wanita itu tidak gentar , tidak ada raut kaget atau ketakutan saat Herjuno membentaknya. Yang terlihat jelas hanya wajah penuh amarah dan kekecewaan.
**