Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 55 - Menjadi Tontonan


__ADS_3

Sidang berjalan dengan agenda gugatan dari pihak Herjuno. Semua alasan dan penyebab ia menggugat cerai ia kemukakan dengan jelas. Dengan hati yang terluka tentu saja.


Suaranya beberapa kali tercekat saat harus menceritakan kembali apa yang sudah terjadi.


Herjuno tertunduk lesu , sudah bisa dipastikan rumah tangganya akan segera berakhir. Ia memejamkan matanya berkali-kali lalu memijit pelipisnya. Dadanya terasa sesak , jika bukan di ruang sidang dia pasti sudah menangis meraung-raung.


"Tergugat setuju untuk bercerai."


Suara seorang pria , yang Herjuno ketahui sebagai pengacara Aurorae membuat ia mendongak. Herjuno tidak terkejut, Aurorae tidak pernah datang bukankah artinya memang setuju berpisah? Ia kembali menundukkan kepalanya.


"Tetapi yang bersangkutan menyangkal semua tuduhan."


Herjuno kembali mengangkat wajah. Keningnya mengernyit ketika dilihatnya pria itu menyerahkan sebuah map ke hadapan hakim.


Lewat layar besar di depan sana , Herjuno bisa melihat jelas apa saja yang pria itu bawa. Beberapa lembar kertas dan... entah. Terlihat seperti foto.


"Ini adalah hasil test DNA yang tadi disebutkan penggugat. Beberapa waktu lalu penggugat menemukan ini di salah satu tas milik tergugat." Pria itu nampak menyodorkan sebuah kertas.


Dan benar , terlihat jelas itu adalah hasil tes DNA yang beberapa waktu lalu ditemukan Herjuno.


"Dan ini, surat keterangan dari rumah sakit yang tertera bahwa rumah sakit tidak pernah melakukan uji sampel DNA atas nama Herjuno Ardhi dengan Ryan Pratama dan Ryana Permata."

__ADS_1


Herjuno reflek berdiri. Terkejut? Tentu saja.


"Tunggu , aku tidak per--"


"Mohon tenang. Biarkan pengacara tergugat menyelesaikan penjelasannya. Saya akan berikan kesempatan untuk Anda bicara nanti." Seorang hakim memotong cepat ucapan Herjuno.


Pengacara Aurorae menyeselaikan penjelasan yang tertunda. Semua foto yang ada disana dijelaskan satu persatu. Tentang perawat gadungan itu yang terlihat jelas memasukkan aplop putih ke dalam tas Aurorae diam-diam. Juga tentang pertemuan perawat itu dengan Megumi.


Herjuno terpaku. Tubuhnya membeku. Dadanya terasa semakin sesak. Ia terduduk lemas di atas kursinya.


"Kami sedang mempertimbangkan untuk mengajukan gugatan pidana terhadap tiga orang yang terlibat. Tergugat juga sudah memberikan sampel DNA Ryan Pratama dan Ryana Permata di rumah sakit Santika. Kalau-kalau penggugat ingin memastikan sekali lagi." Kalimat penutup dari pengacara itu yang reflek membuat Herjuno menoleh pada Gumilar.


Dan dilihatnya Gumilar menatap sendu ke arahnya.


**


"Ayah , maafkan aku. Aku mohon maafkan aku."


Gumilar menarik lembut kedua lengan Herjuno , menatap pria itu yang kini berdiri di hadapannya.


"Ayah tentu saja kecewa. Tapi situasimu, kami semua memahami. Pria mana yang tidak akan marah meledak-ledak saat menemukan hasil tes DNA anak-anaknya tidak cocok." Gumilar menjeda sejenak kalimatnya , memandangi wajah Herjuno yang sudah sangat basah.

__ADS_1


"Bahkan Rae juga tidak marah. Ayah harap , kau bahagia setelah in--"


"Tidak. Tolong aku Ayah. Aku tidak ingin bercerai , tolong aku." Herjuno semakin terisak.


"Kau sudah menjatuhkan talakmu pada Aurorae." Gumilar menghela napasnya. "Juno, dengar. Ini yang terbaik. Istrimu itu tidak akan berhenti mengacau hidup anak dan cucu-cucuku. Berkali-kali ia membuat gaduh hubunganmu dengan Rae , dan berkali kali juga kau lebih mempercayainya."


Gumilar memeluknya sekali lagi. "Sejujurnya Ayah menyayangimu. Ayah tahu kau sangat mencintai Rae , kau ingin yang terbaik untuknya. Tapi Juno, Rae akan semakin tersiksa jika tetap bersamamu."


Herjuno diam , hanya suara isaknya yang terdengar.


"Ada beberapa hal yang mungkin ingin kau tahu, datanglah ke rumah lama Ayah. Dan seperti yang Jeffrey tadi bilang, Aurorae sudah menyerahkan sample DNA anak-anak di rumah sakit santika , kau boleh melakukan tes ulang."


Herjuno berlutut lagi. Tangisnya semakin terdengar kencang.


"Aku tidak akan melakukannya Ayah. Itu sama saja aku mencekik Aurorae untuk kedua kalinya. Ayah , aku mohon , aku tidak ingin bercerai. Aku mohon Ayah. Biarkan Rae datang di sidang selanjutnya."


"Juno, Ayah tidak pernah meminta Rae tidak hadir. Ini adalah keputusannya. Dia lelah , biarkan dia berhenti. Hum?" Gumilar menepuk-nepuk pundak Herjuno agar pria itu bangkit dari bawah sana.


Herjuno terduduk di lantai menatap punggung Gumilar dan Jeffrey -pengacara Aurorae- menjauh dari sana.


Isak tangisnya semakin kencang , tubuhnya bahkan gemetar. Ia tak peduli meski sekarang jadi tontonan banyak orang.

__ADS_1


**


__ADS_2