Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 43 - Kembali Bekerja


__ADS_3

Herjuno melangkah cepat memasuki rumah. Baru sampai di pintu depan , sudah terdengar jelas tangis si kembar yang bersahutan. Ia bergegas menaiki tangga tanpa memperhatikan sekitarnya.


Gumilar yang sedang di meja makan hanya geleng-geleng kepala.


"Ah , anak Ayah kenapa menangis." Herjuno melempar asal tasnya ke atas sofa, lalu melangkah mendekati Aurorae yang sedang menggendong kedua bayinya dengan tangan kanan dan kiri.


"Mas , mandi dan ganti dulu bajumu." Aurorae memelototinya membuat Herjuno terkekeh.


"Aku akan menatap mereka sebentar." ucapnya lalu berbalik menuju kamarnya untuk mandi dan ganti baju.


Hanya sekitar sepuluh menit membersihkan tubuhnya di kamar mandi , Herjuno lantas keluar dan mendapati Aurorae yang sedang menyiapkan pakaian untuknya.


"Apa anak-anak sudah tenang?" tanyanya sambil menyambar sebuah kaus yang baru saja Aurorae letakkan di atas ranjang.


"Ya , Ryan tidur. Dan Ryana sedang di gendong Bi Izza." Aurorae duduk di atas ranjang.


"Kau sibuk sekali hari ini?" Aurorae bertanya sambil memperhatikan suaminya yang sedang memakai celana pendek.


"Hum. Tuan Thomas berkunjung jadi kantor sedikit sibuk."


"Aku tadi ke rumah sakit dengan Bi Izza." ucap Aurorae saat Herjuno duduk di sampingnya.


Herjuno mengernyit. "Kenapa? Apa kau sakit?"

__ADS_1


Kali ini Aurorae yang tampak kebingungan. "Mas , apa aku lupa? hari ini jadwal kontrol ke dokter anak. Jadi aku membawa anak-anak tadi. Aku bahkan sudah mengirim pesan semalam."


"Ah maafkan aku, aku benar-benar lupa." Herjuno memilih jawaban aman walau sebenarnya ia bahkan tidak tahu menahu tentang pesan yang Aurorae sebutkan.


Sudah pasti Megumi yang membacanya. Herjuno tidak ingin memancing keributan.


"Tidak apa-apa, kau pasti sibuk sekali makanya tadi siang aku juga tidak memberitahumu lagi. Maaf , ya."


Herjuno menarik Aurorae ke dalam pelukannya. "Apa kata Dokter?"


"Baik. Anak-anak sehat , hanya diberikan jadwal beberapa vaksin wajib sampai mereka usia dua tahun."


Herjuno mengelus sayang puncak kepala Aurorae. "Ayo ke kamar anak-anak. Aku sangat merindukan mereka." ucapnya lalu mengecup singkat pipi kiri Aurorae.


Aurorae turun kebawah mengambil Ryana , sedangkan Herjuno masuk ke dalam kamar anak-anak.


Dilihatnya Ryan yang terlelap di atas ranjang. Kedua tangannya ia angkat ke sisi telinga.


"Haiiishh dasar kau benar-benar anak Ayah." gumamnya gemas karena menyadari gaya tidur putranya itu sangat mirip dengannya.


Ia mencubit pelan pipi kanan Ryan yang sudah mulai terlihat gembul. Gemas sekali.


Tidak lama Aurorae masuk menggendong Ryana , dan Herjuno segera mengambil alih. Menghabiskan malam itu dengan bermain bersama.

__ADS_1


Ia hanya turun untuk makan malam , lalu kembali lagi. Membaca buku dongeng untuk Ryana dan juga Ryan yang tiba-tiba terbangun.


Herjuno benar-benar membayar waktu tiga hari yang ia lewati tanpa si kembar.


**


Waktu berjalan sangat cepat. Kini si kembar sudah berusia enam bulan.


Dan selama ini pula Aurorae hampir tidak pernah keluar rumah. Hanya sesekali jika harus ke supermarket atau ke rumah sakit untuk imunisasi anak-anaknya. Bahkan ia tidak pernah ke ruko sama sekali. Beruntung ada Dira yang bisa fulltime mengelola bisnis catering dan frozen food yang mereka rintis. Sedang Aurorae, hanya mengurus tentang keuangan , dan itu bisa ia lakukan dari rumah.


"Mas , apa aku boleh mulai ke ruko lagi sesekali? Daya tahan tubuh anak-anak semakin kuat , jadi sepertinya tidak masalah membawa mereka keluar." tanya Aurorae suatu malam.


"Ya , tapi jangan terlalu sering , hum? Aku banyak khawatir jika kalian sedang di luar rumah."


Herjuno mendekap erat Aurorae yang menelusup di dadanya. Sejak kelahiran si kembar , mereka sudah jarang sekali menghabiskan waktu dengan tenang seperti ini. Kini semakin besar si kembar semakin pintar , apalagi semenjak ada asupan makanan yang masuk kedalam tubuh mereka , tidurnya sudah lebih tenang dan hanya terbangun sesekali untuk meminta asi.


"Ya . Aku tidak akan lama-lama , hanya untuk berdiskusi dengan Dira dan Mbak Dea sesekali."


Herjuno mengangguk. "Jangan terlalu lelah di siang hari, kau butuh tenaga ekstra saat aku ada di rumah." Ia membalik tubuhnya dan secepat kilat menindih Aurorae.


"Mas!" Aurorae merinding geli saat dilihatnya Herjuno memamerkan senyum manis yang terlihat seperti ancaman.


**

__ADS_1


__ADS_2