Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 58 - Habiskan Makananmu


__ADS_3

"Apa maksudmu, Mas?" Megumi lekas menguasai dirinya. "Dia adalah temanku. Karena video ini kau menuduhku masih menemui Ayah kandung Haidar? Kau sangat tidak masuk akal. Lihat , kami tidak hanya berdua disa--"


"Apa wanita itu juga temanmu?"


"Y.. ya. Mereka sepasang kekasih. Aku tidak sengaja bertemu dengan mereka , dan mengobrol sebentar. Kau benar-benar keterlaluan, jika temanku mendengar soal ini mau disimpan dimana wajahku?" Lancar sekali bibirnya menyudutkan Herjuno.


Herjuno terdiam. Dia menelusuri wajah Megumi dengan tatapan yang entah.


Sesaat kemudian , dia tertawa kencang.


"Wah , selama ini kau bermain peran dengan sangat baik. Meski kau mengkhianatiku, tapi aku tidak menyangka kau menipuku habis-habisan." ucapnya masih di sela-sela tawa.


"Bagaimana bisa aku sangat mempercayaimu , Megumi." suaranya memelan , tatapannya juga meredup tak lagi tajam.


"Mas , deng--"


"Me , cukup. Tidakkah kau lelah?" Herjuno menarik nafasnya pelan.


"Megumi Anastasya, Aku Herjuno Ardhi menceraikanmu. Mulai detik ini, kau bukan lagi istriku." lanjutnya dengan suara tertahan.


"Mas!" Pekik Megumi tidak percaya.


Herjuno berlalu masuk ke dalam kamarnya , tidak menghiraukan Megumi yang sepertinya masih ingin bicara.


Ia mengemasi seluruh pakaian dan barang-barang pribadinya. Memasukkan ke dalam sebuah koper dan tas berukuran besar.


Megumi menghentak kasar tangan Herjuno.


"Apa yang kau lakukan , Mas? Kau menceraikanku? Hah?"


Herjuno bergeming. Ia terus bergerak mengemasi barang-barangnya.


"Jangan memperlakukanku begini, Herjuno. Akulah yang menemanimu di masa sulit saat kau tidak memiliki apa--"


Herjuno membanting koper miliknya , membuat ucapan Megumi terjeda.


"Karena itulah aku akan pergi dari sini. Rumah ini, mobil yang kau pakai , tabungan pendidikan Haidar , dan isi rekeningmu itu adalah hasil kerja kerasku. Aku tidak akan perhitungan meski Haidar bukan anakku! Mari kita akhiri dengan cepat, melihat wajahmu membuatku muak!"

__ADS_1


Herjuno memungut kembali koper dan tas miliknya, berlalu melewati Megumi begitu saja.


"Ah ya , semua yang kau lihat tadi aku dapatkan dari Ayah Aurorae. Bersiaplah , Pak Gumilar tidak akan diam saja padamu , laki-laki itu , juga perawat gadungan yang kau bayar." ucapnya sebelum benar-benar keluar dari kamar.


Megumi merosot ke lantai. Tubuhnya gemetar.


Jadi Ayah Aurorae yang mencari tahu?


Apa saja yang dia tahu?


**


Aurorae menatap padatnya salah satu jalanan Surabaya dari jendela besar di dalam kamarnya. Tangannya bersedekap di dada , angannya memutar lagi kenangan-kenangan indah selama dua tahun terakhir.


Saat pertama kali Herjuno mendekatinya.


Saat mereka menikah.


Lahirnya si kembar.


Aurorae menghela napas pelan. Tidak ada gurat marah dan kecewa yang terlihat jelas di wajahnya. Ia sudah berjanji akan merelakan semuanya.


"Rae , ada Pak Gumilar dan Mbak Dira di bawah." suara Bi Izza membuyarkan lamunannya.


"Apa? Kenapa tiba-tiba datang?" Aurorae meraih kuncir rambut di meja laku melangkah keluar kamar.


Saat turun dari tangga , benar saja ia melihat Ayah dan sahabatnya disana.


"Kejutan, huh? Memangnya aku anak kecil?" Aurorae mencebik. Dia memang sedikit terkejut, karena tidak ada satupun yang mengatakan bahwa Ayah dan sahabatnya itu akan datang.


Dira terkekeh. Membiarkan Aurorae memeluk Gumilar lebih dulu.


"Bagaimana kabar Ayah?" tanyanya tanpa melepaskan pelukan.


"Sangat baik. Anak dan cucu-cucu Ayah bagaimana kabarnya?"


Aurorae tergelak. "Sehat. Semuanya baik-baik saja."

__ADS_1


Gumilar memeluk putrinya erat-erat. "Berhentilah membuat Ayah khawatir , setelah ini kau harus bahagia."


"Maafkan aku , Ayah."


Aurorae beralih memeluk Dira. "Luang sekali waktumu , Nona."


"Ternyata tidak punya suami semenyenangkan ini, aku tidak ingin menikah lagi."


"Jaga bicaramu!" Aurorae menarik pelan telinga Dira.


Gumilar terkekeh sambil beralalu menuju dapur.


Aurorae senang sekali, setelah beberapa hari hanya ditemani si kembar dan Bi Izza, malam ini ia bisa makan bersama Ayahnya dan Dira.


"Kota Malang tidak jauh dari sini, aku dengar disana banyak tempat indah. Ingin berkunjung?" Aurorae menatap Dira ditengah-tengah makan malamnya.


Tapi Dira menggeleng. "Aku harus bekerja keras hingga catering kita sanggup membeli pesawat terbang sendiri untuk distribusi. Tiket pesawatku besok siang."


Aurorae mencebik lalu beralih menatap Ayahnya.


"Ayah , tinggallah disini saja supaya tidak kesepian. Tidak perlu khawatir tentang biaya hidup , Dira berjanji akan bekerja keras." ucap Aurorae asal.


Dira tergelak. "Apa tidak sebaiknya kau sembunyikan dengan baik niat burukmu itu?"


"Untuk apa? Lagipula kau sudah berjanji! Jadi aku hanya akan menikmati hidup disini."


"Ya , Ayah akan menemanimu disini. Rumah di Garut ada Bi Ita yang merawat. Dan rumah di Bandung, Ayah sudah meminta Farhan memasarkan kembali."


Aurorae hanya mengangguk. Mengenang lagi saat-saat Ayahnya urung menjual rumah itu karena Aurorae yang baru saja menikah belum memiliki tempat tinggal.


"Tidak apa-apa kan , Dira?" Gumilar mencoba mencairkan suasana karena melihan Aurorae yang kembali melamun.


Dira tertawa. "Om! Yang benar saja."


Tentu saja Gumilar hanya bercanda. Tabungan pria tua itu bahkan tidak akan habis meski ia dan Aurorae tidak bekerja. Belum lagi bisnis perkebunan yang dia punya, meski dalam skala kecil tapi hasilnya lebih dari cukup untuk sekedar menanggung hidup anak dan cucunya.


Aurorae memeluk Ayahnya dari samping. "Terima kasih." ucapnya lirih.

__ADS_1


"Habiskan makananmu."


**


__ADS_2