
Aurorae gelisah. Sudah dua malam ini ia harus berusaha lebih keras hanya untuk memejamkan matanya. Ada sesak di dada yang dia sendiri tidak mengerti apa penyebabnya, yang jelas dia merindukan suaminya. Malam ini bahkan Herjuno tidak mengirimnya pesan apapun.
Jika menjadi istri kedua ternyata sesakit ini, lebih baik aku tidak menikah dengannya.
Sepertinya aku tidak sanggup lagi.
Ah tidak, apa yang kau pikirkan Rae. Dia menggelengkan kepalanya.
Jangan menyesali apapun.
Tidak ada gunanya kau menyesal sekarang, hanya membuatmu semakin menderita.
Aurorae sibuk dengan segala yang ada di pikirannya. Membolak-balikkan badannya mencari posisi nyaman untuk memejamkan mata. Hingga terdengar suara dari ponselnya , pertanda ada pesan yang masuk.
Rae, apa kau tidur?
Aurorae mengernyitkan dahinya. Pesan dari Mba Dea , salah satu staff marketing senior di perusahaan tempatnya bekerja dulu.
Belum. Ada apa Mba?
Apa kau sudah bekerja di tempat lain? Bisakah kita bertemu besok jika kau tidak sibuk?
Baiklah. Aku akan datang ke Restauran di persimpangan dekat kantor besok saat jam makan siang.
Aku tunggu Rae.
Aurorae sibuk dengan isi kepalanya. Sekeras apapun dia pikirkan, tetap tidak bisa menerka alasan Mba Dea memintanya bertemu.
Saat masih bekerja , Aurorae dan Dea tidak terlalu dekat , hanya mengobrol saat bertemu di kantor , bahkan mereka tidak pernah makan siang bersama di luar kantor.
**
Keesokan harinya Herjuno belum juga menghubungi Aurorae. Bukankah setidaknya ia mengirim pesan ucapan selamat pagi atau menanyakan kabar istrinya.
Aurorae mendengus kesal. Ia mulai uring-uringan dan merasa tidak diperhatikan. Ego nya mulai tidak terima , bertekad membalas apa yang Herjuno lakukan. Jika Herjuno tidak peduli padanya , maka ia pun tidak akan peduli juga.
Bahkan saat Aurorae pergi menemui Dea , ia juga tidak mengirim pesan apapun kepada suaminya.
“Rae, kau sudah lama?” Dea menghampirinya yang kebetulan lebih dulu sampai. Menjatuhkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Aurorae.
“Tidak, ada apa Mba? Minumlah dulu.” Aurorae menyodorkan botol air mineral ke hadapan Dea , saat dilihatnya napas wanita itu ngos-ngosan.
“Apa Mba berlari dari kantor?” ledeknya melihat Dea meneguk air mineral hingga habis setengah.
“Semenjak melahirkan , aku mudah sekali lelah.” Dea tersenyum.
“Ada apa Mba ingin bertemu denganku? Pesanlah sesuatu, aku sudah memesan makan siang untukku tadi.” Kali ini Aurorae menyodorkan buku menu.
“Baiklah , sebaiknya kita bicara sambil makan.” Jawabnya sembari membolak-balik buku menu di hadapannya.
__ADS_1
“Apa Pak Juno tahu kau menemuiku?” tanya Dea tiba-tiba.
Aurorae terkesiap. Lalu sekejap mulai mengendalikan dirinya , tentu saja Dea pasti sudah mendengar jika ia menikah dengan Herjuno.
“Tidak , aku tidak sempat mengirim pesan.” Aurorae menggeleng.
“Rahasiakan pertemuan kita , hem?”
“Kenapa?”
“Ah aku kemarin berfikir seharian harus memberitahumu atau tidak , tapi apapun yang aku katakan nanti, jangan langsung percaya , cari tahu dulu, hem?”
Dea memanggil pelayan restauran dan memesan satu menu untuk makan siangnya beserta segelas jus jeruk.
“Sebenarnya ada apa?” tanya Aurorae lagi, setelah pelayan itu pergi.
“Aku baru tahu dua hari lalu jika kau dan Pak Juno menikah. Jujur saja , aku dengan Maudy dan Rama sempat membicarakanmu, tentang kau dan Pak Juno, dan tentang Bu Megumi.”
Dea menarik napas pelan.
“Karena pembicaraan itulah, aku mulai teringat jika beberapa hari sebelumnya aku dan adik perempuanku pernah memergoki adik iparku bersama Bu Megumi, di suatu restauran.”
“Adik ipar Mba Dea? Suami dari adik perempuan Mba?”
Dea mengangguk.
“Megumi mantan kekasih adik ipar Mba? Lalu kenapa? Apa anehnya seseorang memiliki mantan kekasih?”
“Aneh jika mereka berdua bertemu lagi Rae. Ck, kau ini.”
“Aku juga beberapa kali tidak sengaja bertemu mantan kekasihku di kafe atau mall Mba.” Aurorae terkekeh.
“Jangan tertawa. Kau tidak melihat , seperti apa Bu Megumi dan Satya saat itu.”
Ah ternyata namanya Satya. Batin Aurorae.
“Mesra sekali , mereka bahkan berciuman dengan tidak tahu malu.”
Aurorae mendelik. Dan Dea mencebik melihat tatapan Aurorae.
“Cih. Apa kau pikir Dira akan menangis terisak-isak jika hanya melihat suaminya bertegur sapa dengan perempuan lain karena tidak sengaja bertemu?”
“Mba apa tidak salah lihat? Aku takut sekali membicarakan ini, kalau Mas Juno tahu dia pasti akan marah besar mengira aku menyelidiki Megumi.” Aurorae mulai bergidik.
“Percayalah padaku. Awalnya memang aku tidak mengenali jika wanita itu Bu Megumi. Tapi setelah bergosip dengan Maudy , aku mulai mengingat-ingat wajahnya , beberapa bulan sebelum aku cuti melahirkan aku sempat melihat Bu Megumi datang ke kantor bertemu Pak Juno.”
Dea mendesah lagi, lalu mengunyah makanannya yang sudah datang sejak lima menit lalu. Sementara Aurorae sudah tidak berselera.
“Malamnya aku memastikan itu kepada Dira , aku tunjukkan foto Bu Megumi yang ada di akun media sosial milik Pak Juno, dan adikku mengkonfirmasi itu. Dia mengatakan bahwa suaminya kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasih nya yang bernama Megumi itu. Dan kau tahu? Itu sudah berjalan lama , adikku menyembunyikan segalanya dari orang tuaku.” Dea mulai mengeram kesal.
__ADS_1
Aurorae tidak tahu harus merespon seperti apa. Dia hanya mengaduk-aduk makanan di hadapannya.
“Kau ingat tidak Rakernas terakhir sebelum aku cuti melahirkan?” Dea bertanya, menatap Aurorae.
“Yang di cabang sebelas? Kenapa?”
“Saat itu aku tidak bisa pergi, karena kehamilanku sudah besar, Pak Juno mengutus Farhan bukan?”
Aurorae mengangguk. Saat itu memang Farhan pergi menggantikan Dea yang sudah tidak memungkinkan untuk bepergian terlalu jauh.
“Saat itu Dira keguguran, di larikan ke rumah sakit karena terjatuh dari tangga.”
Aurorae terperangah.
“Bagaimana keadaannya?”
“Bukan itu yang penting, kondisinya sudah baik-baik saja sekarang. Tapi dia kehilangan bayinya. Baru kemarin aku tahu, jika saat itu dia tidak terjatuh , tapi di dorong oleh Satya sampai membentur sisi bagian meja makan.”
Aurorae mendelik lebih lebar.
“Dan kau tahu karena apa? Karena Bu Megumi membatalkan liburan mereka dan lebih memilih menemani Pak Juno ke luar kota untuk Rakernas. Satya kalap , dan saat Dira bertanya dengan kesal dia mendorongnya.”
Dea menunduk. Terlihat jelas menahan air matanya.
Dan Aurorae menyatukan kepingan memori di kepalanya , mengingat-ingat saat Herjuno membawa Megumi ke luar kota beberapa bulan lalu. Dia sendirilah yang meminta Megumi mengikuti Herjuno, agar ia dan Herjuno tidak memiliki kesempatan menghabiskan waktu berdua.
“Cih. Tapi anak itu benar-benar ingin menutupi perbuatan suaminya sampai akhir. Dia bahkan memohon padaku untuk tutup mulut.”
Sebulir air mata jatuh di pipi Dea.
“Maafkan aku , tidak tahu harus bereaksi bagaimana.” Ucap Aurorae, lirih.
“Rae , bisakah kau membantu adikku?”
Aurorae mendongak.
“Tidak bisakah kau katakan pada Pak Juno apa yang kau dengar hari ini?”
Aurorae lekas menggeleng.
“Tidak mba , maafkan aku. Posisiku serba salah. Aku tidak ingin di bilang memperkeruh hubungan Mas Juno dengan Megumi.” Jawabnya pelan, merasa bersalah.
Dea mendesah pelan. Tidak ingin memaksa , kurang lebih dia pun mengerti situasi Aurorae.
Siang itu banyak hal lagi cerita yang mereka bagi berdua. Tentang Megumi yang mengizinkan Herjuno menikahi Aurorae, Cerita tentang Megumi dan Satya yang di ketahui Dea dari adiknya, dan juga tentang Dira yang tidak ingin bercerai dari Satya.
Siang itu, Aurorae membuka banyak hal yang terjadi pada dirinya. Mendadak merasa memiliki seseorang untuk berkeluh kesah.
**
__ADS_1