
Herjuno terdiam. Menatap Haidar yang tersenyum riang.
“Om Satya?” tanyanya sembari berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Haidar.
“Hem. Mama pergi bertemu dengan Om Satya. Apa Om Satya kita ajak juga?” celotehnya bersemangat.
“Tidak , om Satya pasti sibuk. Tidak apa-apa kan om satya tidak ikut?”
“Iya. Tapi Abang Zhafran ikut.” Haidar memastikan.
Herjuno tersenyum. Mengacak-acak rambut Haidar.
“Iya baiklah. Abang Zhafran dan Bi Lilis ikut.”
Zhafran lagi-lagi tersenyum.
**
Di Restauran cepat saji , Haidar menarik-narik lengan Zhafran untuk mendekat ke meja pemesanan. Menunjuk-nunjuk deretan menu yang terpampang besar di dinding.
“Haidar mau yang itu, dua burger pakai kentang dan minum.” Ucapnya riang sambil menunjuk paket A di atas sana.
“Abang mau yang mana?” ucapnya lagi, menoleh menatap Zhafran.
Zhafran terdiam. Tidak tahu harus memilih yang mana , lalu menoleh menatap Bi Lilis dibelakangnya , seolah bertanya Abang pilih apa ya?
“Zhafran pilih apa saja yang kamu mau, tidak apa-apa.” Herjuno menyela. Memutus tatapan Zhafran kepada Ibunya.
“Burger saja.” Jawabnya pelan malu-malu.
“Paket A mau? Sama dengan milik Haidar.” Herjuno bertanya lagi.
Zhafran mengangguk.
Herjuno melangkah ke depan , memesan empat menu paket A untuk mereka , dengan tambahan dua cup eskrim.
Zhafran berbinar. Ia tidak berhenti tersenyum saat melangkah menuju meja.
“Bi , apa Ibu tadi mengatakan akan pergi kemana?”
Herjuno membuka pembicaraan. Pasalnya saat tadi ia menelepon, Megumi mengatakan belum bisa pulang karena masih ada urusan. Menolak ikut dengan mereka.
“Tidak Pak. Hanya bilang ada urusan dan akan pulang malam hari.”
“Apa Ibu mengatakan saya akan pulang hari ini?”
“Tidak, hanya meminta saya menginap lagi malam ini.”
Herjuno hanya mengangguk. Menyudahi pertanyaannya, agar Bi Lilis bisa melanjutkan makannya.
**
Aurorae mendesah pelan. Sedari tadi, ia hanya mengaduk-aduk makanannya.
Kenapa Mas Juno tidak menghubungiku?
__ADS_1
Bahkan tidak mengirim pesan.
Apa aku telepon saja?
Pasti tidak akan diangkat.
Ia mendesah lagi. Hatinya mendadak sakit. Membayangkan Herjuno sedang menikmati waktu bersama Megumi, Aurorae sudah sangat menderita.
Cih. Mas Juno melupakanku.
Aurorae bangkit, membereskan makanan yang sedari tadi hanya di aduk-aduk. Lalu melangkah ke lantai dua , menuju kamarnya.
Drrtt Drrtt
Mengira suaminya yang menelepon, Aurorae tersenyum riang. Tapi ternyata bukan.
“Iya Ayah..”
“Bagaimana kabarmu? Apa sudah makan?” tanya Gumilar di seberang sana.
“Rae baik-baik saja Ayah. Baru saja selesai makan malam. Apa Ayah baik-baik saja?”
“Ayah baik. Suamimu belum pulang?”
Aurorae menggigit bibirnya pelan.
“Mas Juno hari ini pulang kerumahnya, langsung dari kantor sore tadi.” Dadanya sesak.
Terdengar Gumilar mendesah , menahan sesak yang sama.
“Rae baik-baik saja Ayah. Mas Juno memperlakukan Rae dengan baik.” Jawabnya , menahan tangis. Ia tak ingin Ayahnya khawatir.
“Ayah selalu berdoa untuk kebahagiaan mu. Istirahat lah, jangan terlalu lelah.” Gumilar mengakhiri panggilan nya.
Aurorae termenung. Baru sehari Herjuno lepas dari pandangannya, hatinya sudah sakit luar biasa.
Apa aku bisa bertahan?
Sampai kapan aku sanggup?
Bagaimana jika akhirnya aku tidak sanggup?
Seperti apa kira-kira akhir dari pernikahanku?
Banyak pertanyaan berlarian di kepalanya. Pertanyaan yang tidak sanggup ia jawab. Malam ini ia terus melamun , lalu terisak pelan hingga tertidur di tengah malam.
**
Pagi ini, Herjuno sarapan bersama Megumi, Haidar dan Zhafran. Menatapi wajah putranya yang tersenyum riang , sesekali melontarkan candaan di sela-sela mulutnya mengunyah makanan.
“Enak kan Bang?” Haidar menatap Zhafran yang sedang sibuk mengunyah sarapannya.
“Enak banget. Beda sama bikinan Ibu.” Zhafran cekikikan. Sudah tidak canggung dan takut-takut lagi meski di hadapan Herjuno dan Megumi. Menikmati fried chicken yang mereka beli kemarin, dan pagi ini Bi Lilis menghangatkan nya dengan microwave.
Haidar tertawa.
__ADS_1
“Abang pindah saja ke rumah Haidar, nanti aku minta Papa belikan Kentucky tiap hari.” Jawab Haidar dengan mulut penuhnya.
Herjuno terkekeh. Sedang Zhafran , melirik ibunya yang sedang meletakkan teko air putih di meja makan. Bagi anak seusia Zhafran , tentu senang-senang saja jika harus pindah ke rumah majikan ibunya. Rumahnya bagus , nyaman, dan tentu yang terpenting makanan enak selalu tersedia.
“Boleh kan Pa?” Haidar bertanya menatap Herjuno.
“Boleh. Sekolah Abang dengan Haidar kan searah, jadi bisa berangkat bersama-sama.
“Yeeay , tuh bang boleh. Pindah saja kesini.” Haidar bersorak.
Zhafran juga tidak kalah heboh, bersorak-sorai walau hanya di dalam hati. Bibirnya tersenyum tipis sambil lagi melirik Ibunya.
“Bi jika tidak keberatan, tinggallah disini. Zhafran dengan Haidar bisa berangkat ke sekolah bersama-sama.” Herjuno mengalihkan pandangannya menatap Bi Lilis.
Megumi hanya melirik. Lalu berdecih pelan.
Dan Bi Lilis bukan seorang yang tidak peka , dia dapat menangkap jika majikannya itu tidak setuju dengan ide suaminya.
“Maaf Pak, tapi saya punya putri yang masih sekolah. Kelas dua SMA. Kalau saya tinggal disini, dia akan sendirian di rumah. Kakaknya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di luar kota.”
Bi Lilis menolak secara halus.
“Bawa sekalian anak Bibi tinggal disini , tidak apa-apa. Lagi pula , bukankah rumah itu masih mengontrak? Hitung-hitung menghemat biaya kontrak dan makan sehari-hari Bi, uangnya bisa Bibi tabung.” Herjuno meyakinkan.
Jujur saja , dalam hati Bi Lilis pun bersorak sorai. Jika saja Megumi ikut angkat suara agar dia pindah kesini, pasti ia akan langsung menerima dengan suka cita. Menghemat uang kontrakan dan makan sehari-hari benar-benar akan sangat membantu perekonomian nya. Gajinya setiap bulan hanya akan keluar untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya. Dia bisa menabung untuk biaya kuliah Tasya dua tahun lagi.
Tapi Nyonya rumah bergeming, membuat Bi Lilis gamang. Ia masih terdiam , menunduk menimbang-nimbang bagaimana baiknya.
“Pindah saja Bi, tidak perlu sungkan. Bibi sudah kami anggap seperti keluarga.” Lagi-lagi Herjuno meyakinkan, tapi Bi Lilis hanya melirik Megumi sekilas.
“Iya kan Me?” Herjuno mengalihkan tatapannya pada Megumi, menyadari kegamangan hati Bi Lilis.
“Terserah kau saja.” Megumi menjawab acuh , masih dengan menyantap nasi goreng di piringnya.
Setelah itu Bi Lilis mengangguk, dan mengatakan akan segera pindah setelah bicara dengan Tasya, anak keduanya.
Pagi ini, Herjuno meminta Bi Lilis yang mengantar Haidar dan Zhafran ke sekolah, memberikan dua lembar uang seratus ribuan untuk ongkos taksi.
“Kenapa wajahmu itu? Jangan bersikap seolah-olah tidak suka Bi Lilis tinggal disini, kau membuatnya sungkan.” Herjuno meluapkan rasa kesal yang sejak tadi ditahannya.
“Selama ini Bi Lilis selalu pulang pergi, kenapa tiba-tiba memintanya pindah?” Megumi meletakkan remote tv yang sejak tadi di pegangnya.
“Kau tidak dengar Haidar meminta? Dia ingin Zhafran tinggal di sini. Lagi pula ada kamar kosong, jadi apa salahnya?”
“Kenapa membebani putra orang lain untuk menyenangkan putramu? Temani dia bermain setiap hari setelah pulang dari kantor. Kenapa? Tidak bisa? Ah, tentu saja kau tidak bisa. Jika kau selalu pulang ke rumah ini, tubuh jalaangmu itu akan menganggur.”
PLAKK!
“Berapa kali harus aku bilang, Aurorae istriku.” Herjuno mengeram , menampar keras pipi Megumi.
“Cih. Berapa kali kau menamparku untuk membela perempuan itu?” Megumi meringis menahan tangisnya.
“Kendalikan dirimu Megumi, aku sudah muak setiap kau menghubungkan apapun dengan Aurorae.” Herjuno menahan murka terlihat dari rahangnya yang mengeras.
“Mari kita bercerai Mas.” Jawabnya pelan , tertunduk.
__ADS_1
**