Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 45 - Menatap Iba


__ADS_3

Aurorae mendekati Herjuno yang hanya mematung menatapnya.


"Astaga ini parfumku. Maafkan aku , aku tidak mencarinya dengan benar." Aurorae memamerkan deretan gigi putihnya lalu mengedip-ngedipkan matanya gemas. Teringat beberapa bulan lalu menjadikan Herjuno sasaran kekesalannya karena tidak menemukan parfum kesayangannya.


Aurorae hendak membungkuk memunguti barang-barangnya tapi urung karena Herjuno menarik keras sebelah lengannya hingga Aurorae tegak berdiri seperti semula.


Ia menatap Herjuno keheranan , pria itu seperti sedang marah.


Herjuno mendorong kertas yang sejak tadi ia pegang ke dada Aurorae. "Jelaskan!" titahnya dengan suara tajam dan dingin. Jangan lupakan tatapan matanya yang seperti ingin menelan Aurorae hidup-hidup.


Aurorae membacanya dengan seksama. Lalu seketika mendelik. Tangannya bergetar dan napasnya tersengal-sengal.


"Mas , apa ini?" air mata luruh begitu saja di kedua pipinya.


"Itu yang aku ingin tanyakan , apa ini?" Herjuno tidak menghangat , tatapannya masih mengintimidasi.


"Mas , apa maksud--"


"Kau tidak tahu kenapa barang itu ada di dalam tasmu? Kau tidak pernah melakukan tes apapun padaku dan anak-anak? Kau tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi? Dan kau tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya kepadaku? Begitu?" Suaranya meninggi , membentak Aurorae dengan keras.


Aurorae hanya terisak.


"Siapa?"


"SIAPA AYAH MEREKA?" Bentak Herjuno karena Aurorae hanya diam dan menangis.


Aurorae mendongak. "Mas.. aku--"


"Jangan menyentuhku!" Herjuno menarik kasar lengannya yang hampir diraih oleh Aurorae.


"Aku memang sangat mencintaimu. Aku melakukan apapun untuk bisa bersamamu. Aku juga rela semua milikku menghilang asal kau dan anak-anak tidak. Akan aku korbankan apapun , bahkan nyawaku. Teganya kau melakukan ini padaku , Rae." Herjuno merasa sesak , tenggorokannya tercekat.

__ADS_1


Aurorae tahu Herjuno menahan tangisnya. Pria itu pasti sangat terluka.


Herjuno menarik napas dalam-dalam.


"Aurorae Genina , hari ini aku Herjuno Ardhi menjatuhkan talak padamu dengan penuh kesadaran. Mulai detik ini, kau bukan lagi istriku." ucapnya pelan , menatap Aurorae dalam.


"Mas!"


"Aku akan urus perceraian kita di pengadilan." Herjuno berbalik , meninggalkan Aurorae begitu saja.


Dibawah, ia sempat berpapasan dengan Bi Izza tapi mengabaikannya.


Sedang Aurorae luruh ke lantai. Meremat kuat kertas ditangannya sembari terisak-isak.


**


Dea memarkirkan mobilnya asal-asalan di garasi rumah Aurorae. Ia lekas berlari menuju pintu depan di susul dengan Dira dibelakangnya.


Tanpa mengucap salam , Dea mendorong keras pintu hingga terbuka. Tapi sebelum sempat masuk ke dalam, ia menoleh ke arah pagar , dan dilihatnya Gumilar yang turun dari mobil travel. Sepertinya juga langsung datang begitu dihubungi oleh Bi Izza, seperti dirinya.


"Maafkan Mbak Dea, Om. Dia sangat tidak sopan." ucapnya sungkan karena kakaknya itu berlari begitu saja tanpa menyapa.


Gumilar hanya mengangguk sambil menepuk pelan bahu Dira lalu masuk ke dalam. Hatinya juga gelisah tidak tenang.


Sedang di dalam kamar, Dea langsung memeluk erat Aurorae yang terisak di atas ranjang.


"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Ada aku , ada kami. Tidak apa-apa." Hanya itu yang berkali-kali Dea ucapkan sembari mengelus sayang punggung Aurorae.


"Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak apa-apa." Dia terus mengulangi itu entah sampai berapa kali hingga Gumilar dan Dira masuk ke dalam kamar.


Aurorae turun menghambur memeluk Gumilar , tapi tidak lama tubuhnya merosot ke lantai beralih memeluk kaki Ayahnya sambil terus terisak.

__ADS_1


Gumilar menarik kedua lengan Aurorae agar bangkit, lalu memeluknya erat.


"Menangislah banyak-banyak. Tidak apa-apa." ucapnya menahan sesak , lalu membimbing Aurorae untuk kembali duduk di atas ranjangnya.


Dira keluar tanpa mengucapkan apapun. Dia memilih masuk ke dalam kamar anak-anak. Membantu Bi Izza menjaga si kembar yang seperti mengerti kondisi Ibunya , sangat tenang sama sekali tidak menangis sejak dua jam yang lalu.


Malam ini Dira akan menginap. Dia sudah sepakat tadi dengan Dea karena kakaknya itu tidak mungkin menginap mengingat ia memiliki seorang suami dan dua anak di rumah.


Beruntung stok ASI perah di freezer lebih dari cukup bahkan sampai untuk satu bulan ke depan.


**


Gumilar meremat kuat kertas hasil tes DNA antara Herjuno dan si kembar. Disana tertulis Bahwa DNA mereka tidak cocok , Herjuno bukanlah Ayah biologis dari Ryan dan Ryana.


Ia menghela napas pelan. Hatinya sakit sekali melihat Aurorae begitu terpuruk. Terlebih tadi dengan terbata-bata Aurorae tidak tahu kenapa kertas itu ada di dalam tasnya dan Herjuno yang tidak sengaja menemukannya.


Gumilar menarik napas lagi. Meletakkan begitu saja kertas itu diatas nakas kamar Aurorae. Ia keluar menyusul putrinya yang sedang di kamar anak-anak.


"Rae , makanlah dulu. Kau harus tetap sehat untuk anak-anak." Gumilar mengusap pelan kepala Aurorae.


"Biarkan anak-anak dijaga Dira sebentar. Jangan khawatir, Dira akan menginap." ucapnya lagi.


Dira mengangguk.


Ini sudah hampir jam sembilan malam, tapi Aurorae belum juga makan. Sedang Dea sudah pulang dua jam yang lalu.


"Makanlah dulu, aku akan menemani anak-anak." Dira mengusap pelan lengan Aurorae. Lagipula hanya Ryan yang belum tidur , jadi tidak akan terlalu repot.


Aurorae beranjak tanpa mengatakan apapun. Dia keluar untuk makan. Benar kata Ayahnya , ia harus tetap sehat untuk anak-anak.


"Dira , terimakasih." Gumilar tersenyum lalu mengekori Aurorae keluar.

__ADS_1


Dan wanita itu hanya tersenyum , menatap iba pada pintu kamar sebelum beralih menghampiri Ryan di ranjangnya.


**


__ADS_2