Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 66 - Sembilan Tahun Kemudian


__ADS_3

Sejak Aurorae dan anak-anaknya pindah ke Bandung, Herjuno jauh lebih bersemangat lagi menjalani hidupnya. Ia merasa lebih berguna sebagai Ayah.


Herjuno tidak pernah melewatkan mengantar anak-anak ke sekolah , kecuali jika ada pekerjaan mendesak yang mengharuskan ia berangkat ke kantor pagi-pagi sekali.


Ia juga selalu berusaha pulang sebelum larut agar bisa mampir untuk sekedar menyapa , bertanya apa saja yang anak-anaknya lakukan hari ini.


Seperti yang Ryana pernah bilang, sekarang ia jadi lebih sering makan bersama layaknya sebuah keluarga.


Menyaksikan tumbuh kembang anak-anaknya setiap hari, membuat separuh hidup Herjuno terasa hadir kembali.


"Ayah.. besok jadi kan menemani Abang membeli sepatu futsal?" Ryan memecah keheningan di tengah makan malam.


Herjuno mengangguk. "Ayah jemput siang, hum?"


Besok adalah hari Minggu, jadi Herjuno berjanji akan membawa Ryan ke pusat perbelanjaan untuk membeli sepasang sepatu futsal. Sejak pindah ke sekolah barunya , Ryan menemukan teman-teman yang memiliki hobi sama , sepakbola.


"Ryana?" Gadis itu mengernyit , melayangkan protes yang berkedok pertanyaan.


"Tidak. Aku ingin pergi berdua dengan Ayah!" Ryan melempar tatapan permusuhan pada adiknya.


"Ibu.." Ryana merengek menatap Aurorae di hadapannya.


Herjuno dan Gumilar terkekeh. Dua anak kembar ini memang tidak pernah akur , ada saja yang mereka ributkan.


"Ada yang ingin Ryana beli?" Aurorae bertanya , menatap teduh putrinya.


Ryana menggeleng. "Hanya ingin jalan-jalan."

__ADS_1


"Ikut Ibu ke kantor mau?" Aurorae memberikan penawaran. Kantor yang ia maksud adalah gedung tiga lantai milik perusahaan yang ia rintis bersama Dea dan Dira. Bisnis catering dan frozen food milik mereka memang berkembang sangat pesat delapan tahun terakhir. Hingga kini bisa memiliki gedung kantor sendiri, tidak lagi mengontrak sebuah ruko seperti awal merintis dulu.


"Mau! Ibu tolong katakan pada Tante Dea untuk mengajak Kakak Shasa juga." Gadis itu bersorak riang , melupakan keinginannya untuk ikut bersama Herjuno dan Ryan.


Aurorae tersenyum. "Baiklah."


Herjuno menatap Aurorae diam-diam dengan senyum samarnya. Beberapa bulan tinggal berdekatan dan hampir setiap hari bertemu, Herjuno menyadari betapa luar biasa Aurorae memperlakukan anak-anak mereka.


Wanita itu bisa dengan mudah membujuk anak-anak yang suasana hatinya kurang baik.


Seringkali juga Herjuno memergoki Aurorae menegur anak-anak, Ryan maupun Ryana akan langsung patuh hanya dengan mendengar nasihat Ibunya meski tanpa marah atau nada suara yang meninggi.


Anak-anaknya tumbuh dengan sangat baik, entah dengan apa Herjuno bisa membayar semua kebaikan Aurorae.


"Rae , terima kasih karena sering mengizinkanku makan malam disini." ucap Herjuno sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Herjuno tahu , wanita itu hanya bercanda.


Herjuno membiarkan tangannya menggantung di pintu mobil, ia menatap dalam manik mata Aurorae.


"Rae , apa kita--"


"Sudah malam , Mas. Kau pasti lelah , pulanglah." potong Aurorae cepat. Ia bisa menebak kemana arah pembicaraan Herjuno. Sejujurnya , Aurorae belum siap mendengar tentang harapan-harapan yang di miliki Herjuno. Begitupun dengan harapannya sendiri , ia masih menerka-nerka apa yang sebenarnya di inginkan hatinya.


Herjuno cukup tahu diri , penolakan Aurorae meski tidak terang-terangan tapi mampu membuat nyalinya menciut lagi.


Ia pun mengangguk. "Baiklah , aku pulang." ucapnya sebelum benar-benar masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pulang.

__ADS_1


**


Sembilan tahun berlalu...


Herjuno mematut dirinya di depan cermin , sebuah kemeja maroon berlengan pendek nampak pas di tubuhnya. Ia menarik ujung bawah kemejanya dengan kedua tangan. Meski tidak muda lagi, tapi bentuk tubuhnya sangat proporsional untuk pria seusianya.


Herjuno tersenyum samar, menyadari usianya yang kini sudah empat puluh enam tapi belum juga bisa menaklukan lagi hati Aurorae. Sepertinya Tuhan sedang menghukumnya , atas kesalahan-kesalahan yang ia lakukan di masa lalu.


Benarkah semuanya sudah selesai?


Tidak ada lagi kesempatan?


Selama ini, Aurorae memperlakukannya dengan sangat baik. Wanita itu membuka pintu rumahnya lebar-lebar kapan saja Herjuno ingin datang. Aurorae juga tidak pernah membatasi kedekatannya dengan kedua anak mereka.


Herjuno terlena , ia pikir mereka sudah sedekat itu. Ia pikir , Aurorae sudah membuka hatinya kembali untuk dia masuki.


Tapi setahun lalu, ketika Herjuno kembali melamarnya , wanita itu lagi-lagi menolak.


Aku sudah tidak memikirkan apapun selain tentang anak-anak, Mas.


Jawabnya saat itu, seolah memberitahu bahwa ada atau tidak Herjuno , ia tetap baik-baik saja.


Herjuno mendesah pelan. Mengingat lagi kejadian satu tahun lalu, mengikis habis harapan di hatinya. Tapi ia tidak akan menyerah , selama ini Aurorae tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Wanita itu menutup diri dan menjaga jarak dengan semua pria. Herjuno berharap , suatu hari Aurorae akan luluh dan bersedia kembali padanya.


Lamunan Herjuno teralihkan saat suara ponsel menginterupsinya.


"Ya , baby?" Ia tersenyum seolah penelepon di seberang sana dapat melihatnya.

__ADS_1


**


__ADS_2