
Kurang lebih sudah hampir dua jam sejak kedatangan Dea dan Dira. Dan selama dua jam itu Herjuno memilih turun ke lantai bawah bercengkrama dengan Gumilar.
"Tahun pertama pernikahan memang akan banyak sekali ujian." Gumilar membuka topik lain setelah sejak tadi mereka berdua membicarakan hal-hal random yang kurang penting.
"Sebagai kepala keluarga , kau harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Kau harus tahu , kapan waktunya menasehati, kapan waktunya marah , kapan waktunya menegur, kapan waktunya diam , dan kapan waktunya membujuk." Gumilar menghela napas pelan.
Sedang Herjuno hanya menunduk mendengarkan.
"Sesungguhnya jauh di dalam lubuk hati Ayah tidak rela jika Aurorae menikah dengan laki-laki yang sudah berkeluarga. Kau tahu dia satu-satunya putri Ayah. Ayah ingin semua yang terbaik dalam hidupnya. Saat dia memilih kau menjadi suaminya , sekuat tenaga Ayah mencoba berdamai dengan harapan Ayah sendiri. Sejak saat itu, Ayah percayakan hidup dan kebahagiaan Aurorae kepadamu." Gumilar menoleh, menatap dalam manik mata Herjuno.
"Jangan membuat Ayah menyesali keputusan Ayah satu tahun lalu." ucapnya lagi sembari menepuk-nepuk bahu Herjuno.
"Maafkan aku, Yah. Aku banyak menyakiti Aurorae." Herjuno menunduk , tidak berani menatap Ayah mertuanya.
Gumilar mengangguk-anggukkan kepalanya. "Manusia tidak ada yang sempurna , Ayah percaya kau selalu mengusahakan yang terbaik untuk kedua istrimu. Hanya kadang-kadang, kita harus lebih belajar lagi menentukan prioritas berdasarkan pada situasinya. Ayah berdoa semua yang terbaik untuk keluargamu."
Percakapan mereka terhenti saat terdengar suara langkah kaki yang mendekat.
"Om kami pamit. Maaf sampai lupa waktu." ucap Dira sungkan karena terlihat langit di luar sana yang mulai menggelap.
"Jangan sungkan. Terima kasih sudah datang ya." Gumilar menerima uluran tangan Dira.
"Terima kasih sudah datang." Herjuno mengucapkan kalimat yang sama saat menyalami Dea.
Dan wanita itu hanya mengangguk datar. Tapi lalu tersenyum ramah saat menoleh pada Gumilar.
Aurorae memeluk mereka sebentar sebelum keduanya benar-benar pulang.
Herjuno mengelus pelan dadanya saat mobil yang ditumpangi kedua kakak beradik itu keluar dari halaman.
"Apa hanya perasaanku saja Dea seperti memusuhiku?" Herjuno menoleh pada Aurorae.
"Tidak , Ayah juga merasa begitu. Dia memusuhimu." Gumilar yang menyahut.
Dan Aurorae terkekeh. "Maaf Mas , Mbak Dea hanya sangat menyayangiku. Jangan marah padanya di kantor ya." Aurorae bergelayut manja di lengan suaminya.
__ADS_1
"Dea bawahanmu di kantor?" Gumilar bertanya.
"Iya , Yah. Tapi akhir-akhir ini dia tidak ada takut-takutnya padaku. Setiap berpapasan selalu memelototiku begitu." Herjuno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Dan Gumilar terkekeh.
"Mbak Dea bukan melotot Mas. Matanya memang lebar jadi kalau menatap orang seperti akan marah." kali ini Aurorae yang tergelak.
"Jangan marah padanya ya. Jangan membuatnya kesulitan di kantor." Aurorae butuh kepastian.
"Tidak. Aku tidak marah. Malah seharusnya aku berterimakasih, dia dan adiknya sangat menyayangimu." Herjuno mengelus puncak kepala istrinya.
Diam-diam Gumilar tersenyum memperhatikan interaksi anak dan menantunya. Herjuno sangat menyayangi Aurorae. Jikalau Aurorae terluka , itu pasti tidak disengaja.
"Naiklah. Hari sudah gelap , jangan biasakan meninggalkan anak-anak sendirian." ucap Gumilar sembari masuk ke dalam kamarnya.
Satu-satunya kamar di lantai satu, di tempati oleh Gumilar.
Sedang Bi Izza , di lantai dua tepat di samping kamar anak-anak.
**
Herjuno meraih ponselnya yang berdering sejak tadi.
"Aku angkat dulu telepon tidak apa-apa?" tanyanya pada Aurorae sambil mengangkat ponselnya.
Aurorae mengangguk. "Ya , di luar saja Mas , khawatir Ryana terganggu."
Herjuno mengangguk. Mengusap pelan kepala Aurorae lalu mengecup pipinya membuat Aurorae tergelak dan mendorong Herjuno pelan agar suaminya itu segera keluar.
"Keluarlah. Suara ponselmu berisik." ucapnya di tengah-tengah kekehannya.
Herjuno melangkah ke arah balkon lantai dua, menyandarkan tubuhnya di pembatas teras.
"Ya , Me."
__ADS_1
"Mas , kau tidak pulang lagi? Ini sudah hampir jam sembilan." terdengar jelas suara Megumi menahan kesal.
"Aku malam ini di rumah Aurorae ya." jawab Herjuno lembut.
"Mas! Kau sudah delapan hari disana, yang benar saja!" Megumi memekik kesal.
Ah benar , ini sudah delapan hari sejak Aurorae melahirkan. Dan sejak itu ia belum pernah pulang ke rumah Megumi.
"Me , maafkan aku. Tapi Aurorae baru saja melahirkan beberapa hari lalu. Aku khawatir dia kerepotan." Herjuno mencoba membujuk.
Megumi terdiam sesaat. "Apa tidak ada siapapun disana? Ingat Mas , Haidar juga anakmu!"
Megumi memutus panggilan sepihak. Herjuno mendengar jelas , suara Megumi yang menahan tangis.
Sesungguhnya ia juga merindukan Haidar , sudah seminggu ia tidak memeluk putranya itu.
Tapi meninggalkan Aurorae sekarang, rasanya tidak mungkin. Herjuno takut itu akan membuat suasana hati Aurorae memburuk.
Ia menghela napas pelan lalu berbalik menuju kamar anak-anak.
"Sudah?" Aurorae bertanya saat Herjuno memasuki kamar.
Herjuno mengangguk. "Apa Ryan sudah tidur?" ia melihat Aurorae sedang meninggikan pembatas ranjang.
Di dalamnya ada Ryana dan Ryan yang tidur bersebelahan. Aurorae sengaja memesan ranjang dengan pembatas untuk kamar anak-anak dibandingkan box bayi.
Aurorae mengangguk. Menghampiri suaminya lalu memeluk erat. "Siapa yang telepon malam-malam begini?"
Herjuno terdiam sejenak. Menimbang-nimbang apa perlu memberitahu Aurorae.
"Megumi. Dia bertanya apa aku pulang." jawabnya hati-hati. Bagaimanapun tidak ada gunanya menyembunyikan itu dari Aurorae.
"Pulanglah Mas. Kau sudah seminggu lebih tidak pulang." Aurorae tidak melepaskan pelukannya. Tidak juga terkejut saat Herjuno mengatakan Megumi menelepon.
**
__ADS_1