Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 20 - Megumi Terluka


__ADS_3

Malam ini Aurorae memasak sendiri untuk makan malam. Bibirnya terus melengkungkan senyuman , Sayang aku akan menginap malam ini. Tunggu aku. Mengingat pesan yang dikirim suaminya sore tadi.


Membayangkan suaminya makan dengan lahap masakannya , membuat Aurorae lebih bersemangat.


Ia terus tersenyum sepanjang memasak. Diselingi dengan senandung kecil.


Setelah semua matang dan tertata rapi di meja makan, Aurorae bergegas naik keatas untuk mandi dan berganti pakaian , dress tanpa lengan dengan panjang sedikit dibawah lutut memamerkan betisnya yang sempurna. Juga tidak lupa memoles wajahnya dengan riasan tipis. Siapapun yang melihatnya pasti terpesona , cantik tidak berlebihan.


Aurorae tersenyum menatap pantulannya di cermin.


Drrrttt drrrttt


Pesan masuk. Dari Herjuno


Sayang maafkan aku, aku harus pulang. Aku akan datang besok.


Senyum yang sejak tadi menemaninya , mendadak menguap entah kemana.


Aurorae meremat kuat ponselnya , menahan sesak di dalam dada. Air matanya luruh, entah seperti apa perasaannya, marah atau sedih ia tidak bisa membedakannya.


Malam itu Aurorae tertidur tanpa membalas pesan Herjuno, setelah terisak lama.


**


“Sayang bangunlah.. sudah hampir jam tujuh.”


Herjuno menggoyang pelan bahu Aurorae. Pagi ini dia sengaja datang sebelum berangkat ke kantor. Ia merindukan Aurorae, sudah beberapa hari mereka tidak bertemu.


Aurorae membuka mata , mengerjap-ngerjapkannya pelan , lalu menatap Herjuno di depannya.


“Mas , kau datang.”


Herjuno terbelalak. Suara serak istrinya , dan mata yang baru terbuka itu jelas terlihat sedikit sembab.


“Kau menangis? Katakan!” tanyanya menyelidik.


Aurorae mengernyit.


“Katakan, apa kau menangis semalam? Karena aku tidak datang?”


Aurorae hanya diam, menunduk.


“Semalam tiba-tiba Megumi sakit, tidak mungkin aku biarkan dia mengemudi sendiri ke rumah sakit. Maafkan aku.” Ia beranjak, menarik Aurorae ke dalam pelukannya.


“Apa kau tidak makan malam semalam?” Herjuno bertanya lagi.


Tadi saat ia akan naik ke lantai dua , sempat menoleh ke arah meja makan. Disana tertata rapi beberapa menu makanan yang terlihat jelas belum di sentuh.


Aurorae menggeleng.


“Maafkan aku Rae. Tapi kumohon, jangan menyakiti dirimu sendiri. Jangan abaikan dirimu, se marah apapun kau padaku.” Herjuno memeluknya semakin erat.


“Basuh wajahmu, lalu turunlah. Aku akan memasak untuk sarapan kita.”


“Tidak usah Mas , bajumu nanti bau asap. Aku bisa makan makanan semalam. Nanti aku hangatkan.”


“Baiklah. Aku akan menghangatkan nya di microwave. Basuh wajahmu, hem?” Herjuno membelai lembut wajah istrinya, menyibak anak rambutnya, lalu menyelipkan ke belakang telinga.


Aurorae mengangguk. Bergegas menuju kamar mandi.


Herjuno menatap istrinya iba. Merasa bersalah , tapi tidak tahu harus bagaimana. Suka tidak suka , hal seperti ini pasti akan sering terjadi dalam rumah tangga mereka.


**


“Apa kau mandi?” Herjuno menatap Aurorae yang sedang menuruni tangga.


“Tidak , hanya membasuh wajahku. Kenapa?”


“Tidak mandi kenapa bisa secantik ini?” Ia menghampiri istrinya , menarik pinggang ramping itu kedalam pelukannya, lalu mengecup pelan keningnya.


“Cih. Pembohong.”


“Kau tidak percaya? Bercerminlah.”

__ADS_1


Aurorae terkekeh.


“Mas menghangatkan semuanya?” Ia menatap meja makan dengan menu semalam.


“Hem. Makanlah.”


Aurorae meraih sebuah apel , mengupasnya pelan.


“Mas sudah makan?”


Herjuno menggeleng.


“Makanlah Mas , aku makan ini saja.” Ucapnya sambil mengangkat sepotong apel dengan garpu di tangan kanannya, lalu memasukkannya ke dalam mulut.


“Aku juga itu saja.” Ucap Herjuno lagi, sambil mendekat memeluk Aurorae, meraup bibirnya agar sedikit terbuka , dan menggigit sedikit apel yang ada di dalam mulut Aurorae.


Aurorae mendelik.


“Mas !” ia mendorong Herjuno menjauh.


Herjuno terkekeh , lalu mendekat lagi. Kembali mengecup pelan bibir Aurorae, saat dirasa Aurorae tidak berontak , ia semakin melumaat kasar , semakin menuntut.


Tangannya tidak ketinggalan sudah meremaat pelan buaah dadaa kesukaannya. Lalu menelusup dibalik baju Aurorae, mengusap pelan punggung istrinya.


Aurorae pasrah. Menikmati setiap sentuhan suaminya , sesekali mendesaah pelan saat Herjuno memainkan area sensitifnya.


“Sayang, aku ingin hidangan utama.” Herjuno berbisik.


Aurorae tidak menanggapi , ia hanya mendesaah semakin kencang saat Herjuno menelusupkan jarinya dibawah sana.


Pagi itu , keduanya tidak sarapan. Hanya saling memeluk , mengecap , menghentak keras. Berpegangan dengan sisi meja makan, Aurorae membiarkan Herjuno memasukinya dari arah belakang, dengan tangan kiri memeluk erat pinggulnya , dan tangan kanan meremat kuat dua buah dadaanya bergantian.


Hingga saat mereka selesai , Herjuno menyadari jam sudah menunjukkan pukul 07.52. Ia terlambat ke kantor.


**


Aurorae berlari kecil menuruni tangga sambil terus menoleh ke arah pintu depan. Siapa kira-kira yang bertamu disaat matahari sedang terik teriknya begini.


“Ada apa kemari?”


“Kau tidak mempersilahkanku masuk?”


“Tidak , bicaralah disini.” Jawabnya sambil bersandar di daun pintu , melipat kedua tangannya di depan dada.


“Cih.” Megumi tertawa pelan. “Tinggalkan Mas Juno.”


“Apa?”


“Tinggalkan suamiku.”


“Dia juga suamiku.”


“Wah , Aurorae. Aku tahu kau keras kepala , tapi aku tidak menyangka kau se tidak tahu malu ini.”


“Kenapa?”


“Kenapa katamu? Mas Juno suamiku, apa kau tidak sadar menikahi suami orang lain hah? Haruskah aku melaporkanmu ke polisi?”


“Apa kau lupa sudah menandatangani surat izin untuk Mas Juno menikah lagi? Lapor saja , aku lebih suka kita berdebat di kantor polisi dari pada di sini. Kita lihat , siapa yang akan menang nanti.”


“Kau mengancamku?”


“Tidak. Hanya memperingatkan mu. Jangan buang waktumu untuk mengusikku. Sudah ku bilang, aku tidak se sabar itu.”


“Jika kau tidak mau meninggalkan Mas Juno, maka aku pastikan Mas Juno sendiri yang akan membuangmu.”


**


Herjuno mengernyitkan dahinya. Tidak biasanya Bi Lilis meneleponnya di jam kerja seperti sekarang.


“Halo?” jawabnya pelan setelah menerima panggilan dari nomor rumahnya.


“Pak , maaf saya menganggu di jam kerja.”

__ADS_1


Ah ternyata benar Bi Lilis yang menelepon. Jika begini, pasti ada sesuatu yang penting hingga ia tidak bisa menunggu sampai Herjuno pulang.


“Ada apa Bi?”


“Itu Pak.. anu.. Ibu baru saja pulang.”


Herjuno mengernyitkan keningnya.


"Ibu baru pulang? Kemana dia pergi saat kondisinya belum benar-benar sehat?" Terdengar jelas nada suaranya yang kesal. Pasalnya baru semalam ia mengantar Megumi ke rumah sakit, bukannya berisitirahat, istrinya malah pergi keluar , juga tanpa meminta izin padanya.


“Saya tidak tahu Ibu kemana, tapi itu Pak, wajah Ibu lebam, bibirnya berdarah. Tadi ibu sempat minta antiseptik dan obat juga , ternyata di bagian lengan dan kaki juga luka-luka.”


“Apa yang terjadi?”


“Saya tidak tahu Pak , Ibu tidak cerita. Saya minta Ibu ke dokter tapi Ibu menolak. Apa tidak sebaiknya Bapak pulang dan minta Ibu ke dokter? Saya khawatir dengan luka yang di lengannya.”


Herjuno segera keluar dari kantor tempat dia bekerja. Menyambar kunci mobilnya segera setelah meminta izin pulang lebih awal. Selain khawatir , ia juga bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Bi Lilis bilang luka di tangan Megumi cukup parah, bahkan saat Bi Lilis menyentuhnya Megumi meringis kesakitan.


**


“Me , kau terluka?” dilihatnya Megumi meringkuk di atas ranjang mereka.


“Mas , kau kenapa sudah pulang?”


Herjuno mendekat.


“Bi Lilis bilang kau terluka , coba aku lihat.”


“Tidak apa-apa Mas , hanya luka kecil.” Megumi mengelak.


Herjuno memperhatikan wajah istrinya. Pipi kanan yang sedikit membiru , dan darah yang mengering di sudut bibir sebelah kanannya.


Ia menyibak selimut Megumi, terlihat jelas lengan kanannya yang terluka, dan kaki kanan dari lutut hingga betis dengan darah yang mengering.


“Astaga Me.. apa yang terjadi? Kau kecelakaan?”


Megumi menggeleng.


“Biarkan aku istirahat Mas.” Ia bersiap merebahkan kembali tubuhnya.


“Tidak , kita ke rumah sakit sekarang.”


Herjuno segera berdiri. Mengulurkan tangannya dan mulai memapah Megumi keluar.


**


“Apa Ibu terlibat kecelakaan dengan kendaraan?”


Dokter yang memeriksa Megumi bertanya, setelah luka di tubuhnya yang cukup parah.


“Apa perlu kami buatkan surat visum untuk laporan kepolisian?” tanyanya lagi.


“Tidak Dok, hanya kecelakaan kecil. Saya terjatuh dari tangga.” Megumi menolak.


“Katakan yang sebenarnya Me apa yang terjadi, Bi Lilis bilang kau tadi pergi keluar dan pulang sudah dalam kondisi begini, di tangga mana kau terjatuh? Jika tabrak lari, kita bisa minta polisi usut pelakunya.” Herjuno mulai kesal.


“Mas tenanglah, nanti aku ceritakan.”


Merekapun akhirnya pamit, keluar dari ruang dokter dengan Herjuno yang masih bersungut kesal. Ingin marah, tapi sekuat tenaga menahannya. Setelah menebus obat di apotek , mereka beranjak pulang.


**


“Makanlah , agar bisa minum obat.” Herjuno menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya.


Megumi mengangguk tersenyum , meraih piring di hadapannya dan mulai melahapnya.


“Katakan, apa yang terjadi?” Herjuno mulai lagi, mencecarnya dengan pertanyaan yang sama.


Megumi melirik sebentar ke arah taman belakang, memastikan Bi Lilis yang sedang menemani Zhafran dan Haidar belajar tidak mendengar percakapan mereka.


“Aurorae mendorongku dari tangga teras rumahnya.”


**

__ADS_1


__ADS_2