Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 36 - Kenapa Lagi


__ADS_3

Ryan Pratama Ardhi dan Ryana Permata Ardhi adalah nama yang Herjuno pilih untuk kedua anak kembarnya.


Setelah dua hari menjalani pemulihan di rumah sakit, hari ini akhirnya Aurorae diperbolehkan pulang ke rumah.


Selain Herjuno , Gumilar dan Bi Izza juga ikut menjemput.


Aurorae menatap suaminya yang sedang mengemudi. Laki-laki itu sama sekali tidak beranjak dari sisinya semenjak ia melahirkan dua hari lalu. Beberapa pekerjaan yang mendesak pun Herjuno meminta Tita mengantarnya ke rumah sakit.


Dan berkali-kali juga Herjuno meminta maaf padanya, pernah sekali di tengah malam saat Aurorae menyusui Ryana yang terbangun, Herjuno memeluknya sembari terisak.


"Maafkan aku. Aku banyak bersalah padamu Rae. Maafkan aku." ucapnya malam itu.


Aurorae membuang napasnya perlahan. Sikap Herjuno dua hari ini membuat ia melunak. Mencoba memaafkan dan berdamai dengan apa yang sudah terjadi.


"Ah , cucu eyang kenapa tampan sekali." Gumilar yang duduk di samping kemudi sembari menggendong Ryan, bergumam pelan.


Sedang Ryana digendong Bi Izza di bangku belakang , tepat di samping Aurorae.


"Perlahan saja Juno, tidak perlu terburu-buru. Kasian si kembar dan Aurorae jika terlalu banyak goncangan." Lagi-lagi Gumilar mengingatkan , entah sudah yang ke berapa kali.


Herjuno hanya tersenyum.


"Sayang , apa kau ingin makan sesuatu? Kita bisa membeli sekalian sebelum pulang." Herjuno melirik Aurorae dari kaca depan.


Aurorae menggeleng. "Tidak , lagipula Bi Izza sudah memasak. Iya kan Bi?"


Dan wanita di sampingnya itu mengangguk.


**


Megumi menelusupkan wajahnya di dada Satya. Mengendus wangi tubuh pria itu. Sedangkan tangan kirinya membelai rahang Satya pelan.

__ADS_1


"Berhentilah bekerja. Kau mengabaikanku." Megumi meraih tablet dari tangan Satya dan meletakkan dibelakang tubuhnya.


Satya membelai sayang puncak kepala Megumi , lalu menciumnya sesekali.


"Sudah hampir jam lima sore. Kau tidak pulang?"


Megumi memang berdiam diri di apartemen Satya sejak Haidar berangkat ke sekolah pagi tadi. Suasana hatinya sedang tidak baik.


"Kau mengusirku?" tanyanya cemberut.


"Kalau bisa aku ingin kau tidak usah pulang." Satya meraih dagu Megumi agar wanita itu mendongak. Lalu mengecupnya pelan. "Kapan aku bisa memilikimu?" Satya menatap dalam manik mata Megumi.


Wanita itu gusar. "Kau memilikiku sekarang." Jawabnya ambigu.


"Milik yang hanya milikku. Kapan aku bisa?" Pria itu merengek , suaranya terdengar sendu.


Megumi melepaskan pelukannya. "Kita sudah pernah membahas ini." Ia berdiri , meraih tasnya di atas meja.


"Apa kau benar mencintaiku?" tanya Satya. "Aku bahkan bercerai dengan istriku agar kita bisa bersama."


"Apa katamu?"


"Aku tidak pernah memintamu bercerai. Apa aku pernah berjanji akan menikah denganmu? Tidak, Satya. Jadi berhenti merengek."


"Kenapa? Kenapa kau tidak bisa meninggalkan Herjuno? Akulah yang lebih mencintaimu. Aku bersumpah tidak akan mengkhianatimu. Tidak , aku bahkan bisa bersumpah tidak akan menatap wanita lain lebih dari tiga detik."


"Aku sangat mencintai Mas Juno , kau tahu itu." Megumi menaikkan nada suaranya.


"Jika kau sangat mencintainya kenapa kau terus datang padaku? Jangan katakan karena wanita itu ! Kita bahkan sudah kembali berbagi ranjang jauh sebelum wanita itu datang!" Satya tak kalah frustasi.


"Tutup mulutmu , Satya! Jika kau masih ingin terus bisa melihat wajahku , tetaplah jaga batasanmu." Megumi menatapnya tajam , dan berlalu keluar meninggalkan Satya begitu saja.

__ADS_1


Satya memekik kesal. Meraih kasar kotak tissue diatas meja lalu melemparnya asal. Jika bukan karena rasa cintanya pada Megumi, Satya pasti sudah meninggalkan wanita itu.


Wanita yang sangat dicintainya beberapa tahun lalu, tapi tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya untuk menikah dengan Herjuno.


Dua tahun kemudian , Megumi menemuinya lagi. Kembali menawarkan cinta dibelakang suaminya. Bahkan ketika Satya menikahi Dira pun Megumi merengek , mengatakan tidak akan bisa berbagi Satya dengan wanita manapun. Tapi wanita itu tetap tidak bisa meninggalkan suaminya untuk hidup berdua dengan Satya.


**


Sudah tiga hari sejak Aurorae diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Dan selama itu pula Herjuno pulang ke rumah Aurorae.


Seperti hari ini , pukul empat sore Herjuno sudah dirumah. Bergegas mandi lalu menggendong Ryana , sementara Ryan sedang menyusu pada Aurorae.


"Cantik sekali anak Ayah." Herjuno menciumi hidung putrinya. Ia juga memainkan telapak tangan Ryana lalu dibawanya menyentuh pipinya.


Herjuno menghentikan gerakannya saat terdengar suara pintu di ketuk.


"Maaf Pak , itu di bawah ada Mbak Dea dan Mbak Dira." ucap Bi Izza setelah pintu dibuka oleh Herjuno.


"Biar ke kamar anak-anak saja Bi, sebentar lagi saya kesana." Aurorae yang menjawab dan Bi Izza mengangguk pelan kemudian berlalu.


"Bawa Ryana ke kamarnya , Mas." titah Aurorae saat melangkah menuju kamar anak-anak yang terletak tepat di sebelah kamarnya.


"Rae , kau sehat? Maafkan aku baru sempat datang , kata Mbak Dea tiga hari pertama biarkan Ibu dan bayinya istirahat tanpa diganggu tamu-tamu tidak tahu diri." Dira langsung memeluk sekilas Aurorae karena terhalang Ryan yang ada di gendongan Ibunya.


"Benar. Jika kau datang kemarin , aku akan mengusirmu." Aurorae terkekeh sambil menyerahkan Ryan ke dalam gendongan Dira.


"Selamat ya , Ibu Rae." kali ini Dea yang memeluk Aurorae erat. Mengusap pelan punggungnya. "Ibu titip salam , belum bisa datang, mungkin bulan depan." ucapnya lagi.


"Ah , aku merindukan Ibu." gumam Aurorae.


Tidak lama Herjuno masuk dengan menggendong Ryana. Ia membalas senyum Dira yang nampak sungkan. Dan saat menoleh pada Dea , ia merasa wanita itu menatapnya tajam dengan raut kesal.

__ADS_1


Astaga.. Kenapa lagi dia.


**


__ADS_2