Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 26 - Tidak Bisa Berpaling


__ADS_3

Megumi memarkirkan mobilnya di pelataran rumah. Sedikit heran, karena ternyata mobil suaminya sudah terparkir lebih dulu.


Megumi menatap pergelangan tangannya.


“Masih jam tiga sore. Tumben sekali Mas Juno sudah pulang.” Gumamnya , sembari menyambar tas miliknya di bangku penumpang.


“Mas..” Panggil Megumi, setelah melihat sosok Herjuno di ruang tengah.


“Kau pulang?”


“Hem.” Megumi mengangguk kecil, dengan langkah kaki yang terus mendekat. “Tumben sekali Mas sudah pulang?”


“Hanya mengambil ini.” Tangannya terangkat , menunjukkan sebuah map berwarna putih dengan logo perusahaannya. “Aku ada meeting jam lima sore ini.”


“Baiklah, hati-hati.”


Herjuno mengangguk lalu mendekat, mencium sekilas kening istri pertamanya itu.


“Aku pergi.”


Tapi sebelum langkahnya benar-benar keluar , Herjuno kembali berbalik.


“Me , malam ini aku akan menginap dirumah Aurorae. Tidak perlu menungguku, hem?”


Megumi tergugu. Jika diingat-ingat, Herjuno memang tidak pernah berubah , sejak drama terjatuh dari tangga yang dia buat beberapa bulan lalu, Herjuno masih rutin menyambangi istri keduanya.


Tanpa sembunyi – sembunyi di belakangnya. Herjuno selalu pamit dengan benar saat akan menginap dirumah Aurorae.


Lalu kenapa selama ini ia seolah terlena , berfikir bahwa hubungan Herjuno dan Aurorae tidak dalam keadaan baik.


Hhh


Megumi mendesah pelan.


“Mas..” panggilnya setelah tergesa menyusul Herjuno keluar rumah.


Herjuno menoleh. Tangan kanannya sudah membuka pintu mobil , siap untuk masuk .


“Aurorae hamil. Apa kau bahagia?”

__ADS_1


Herjuno menatap sebentar istrinya .


“Tentu saja.”


Menutup kembali pintu mobil. Lalu mendekati Megumi.


“Kenapa? Ada yang mengganggu pikiranmu?”


“Sedikit. Pergilah Mas , nanti kau terlambat.”


Wajahnya terlihat gusar. Dan Herjuno menyadarinya. Herjuno semakin mendekat , memeluk erat istri pertamanya itu.


“Aku bahagia , sama seperti saat mendengar kau mengandung Haidar.”


Herjuno melerai pelukannya , mengunci tatapan Megumi.


“Tidak perlu memikirkan apapun , aku ingin kau dan Haidar hidup bahagia. Aku akan berusaha untuk itu. Hem?”


Megumi hanya mengangguk pelan , lalu tersenyum tipis.


Melambaikan tangan saat mobil suaminya benar-benar keluar dari halaman.


**


Ia menoleh ke arah pintu depan yang terdengar dibuka dari luar.


“Mas , kau datang?” Aurorae menghampiri suaminya. Ia berjalan pelan sambil tangan kiri memegang perutnya yg membuncit.


“Sudah mandi? Harum sekali.” Ucap Herjuno saat memeluk istrinya dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Aurorae.


Herjuno melangkahkan kakinya ke atas untuk membersihkan diri sebelum makan malam.


Malam ini setelah makan malam , Aurorae bercerita banyak hal pada Herjuno yang memeluknya erat di sofa ruang tengah. Kemana saja ia hari ini, bertemu dengan siapa dan dimana. Termasuk pertemuannya dengan Megumi siang tadi.


“Setelah melihat lagi wajahnya , aku menyadari satu hal.” Aurorae mendongak, menatap kedua mata Herjuno.


“Aku masih sangat membencinya , sebesar itu.”


Sedang Herjuno, mendengus pelan.

__ADS_1


**


Dengan gontai , Megumi melangkah masuk sebuah gedung apartemen setelah memarkirkan mobilnya.


Hatinya masih gelisah , semalaman ia tidak tidur dengan baik.


Terngiang-ngiang di kepalanya bagaimana ekspresi bahagia Aurorae dan senyum wanita itu yang membuatnya muak.


Jangan lupakan tentang Herjuno yang terang-terangan mengatakan ia bahagia karena Aurorae mengandung darah dagingnya.


Semua itu membuat Megumi kesal , hingga hanya membolak-balik tubuhnya ke kanan dan ke kiri semalaman.


Ia melangkah masuk ke sebuah unit di lantai delapan setelah seseorang membuka pintu dari dalam.


“Jangan bertanya apapun. Aku sedang kesal.” Ucapnya sesaat sebelum menjatuhkan bokongg di sofa ruang tamu.


Satya , laki-laki yang tadi membuka pintu , tersenyum tipis lalu membelai kepalanya. Kemudia ia berjalan menuju dapur, mengambil sebotol susu dingin dan meletakkannya di meja ruang tamu.


“Nikmati waktumu, aku akan mandi sebentar.” Setelahnya ia berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Satya benar-benar membiarkan Megumi menikmati rasa kesalnya sendiri. Ia tidak mengganggu, lebih memilih duduk di meja makan sembari menghadap laptop, menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah hampir satu jam , Megumi menghampiri Satya yang terlihat fokus dengan layar laptopnya.


“Aku sedang sangat kesal, dan kau malah sibuk dengan pekerjaan.” Megumi bergelayut manja di sebelah lengan pria itu.


“Ingin makan sesuatu? Aku akan pesankan.” Satya menoleh , tersenyum manis pada wanita itu.


Megumi menggeleng.


“Aku tidak nafsu makan.” Ia mendengus kesal , melepaskan lilitan tangannya di lengan Satya , lalu menjatuhkan kepalanya di meja makan.


“Kupikir... pernikahanku baik-baik saja. Tapi wanita itu malah sedang hamil sekarang. Cih.” Megumi menggerutu, masih dengan kepala yang belum mau ia angkat.


Satya mencebik. Sesungguhnya ia muak setiap kali Megumi datang hanya membahas tentang Herjuno dan pernikahannya.


“Apa aku tidak cantik lagi hem? Mas Juno seperti tidak melihatku sama sekali.” Megumi memelas , kali ini ia menoleh menatap Satya setengah mendongak, masih dengan kepala di atas meja.


Satya terdiam. Lama. Lalu menghembuskan nafasnya pelan.

__ADS_1


“Aku bahkan bercerai dengan istriku karena tidak bisa berpaling dari kecantikanmu kalau kau lupa.”


**


__ADS_2