
Aurorae hanya memperhatikan interaksi Herjuno dengan Haidar. Ia tidak terkejut saat pria yang tiba-tiba ada di hadapan mereka ini memanggil Herjuno Papa. Tentang Haidar , sedikit banyak Aurorae tahu bagaimana perjalanan hidup pria muda itu.
Berbeda dengan reaksi yang di tunjukkan kedua anaknya , Ryan dan Ryana sama-sama terkejut bukan main saat melihat dan mendengar guru olahraga di sekolahnya memanggil Ayah mereka Papa.
"Papa baik. Bagaimana kabarmu? Sedang apa disini?" Herjuno menerima uluran tangan Haidar , lalu pria muda itu menciumnya.
Haidar mengangguk. "Aku juga baik-baik saja. Sudah satu tahun terakhir , aku mengajar disini Pa." Mata anak itu masih terus berkaca-kaca.
Baik Aurorae maupun Herjuno tahu, Haidar sedang menahan haru karena bertemu lagi dengan laki-laki yang sejak kecil ia panggil Papa.
"Pak Haidar!" Ryana menginterupsi karena setelah sesaat menunggu, sepertinya tidak ada yang ingin menjelaskan kepadanya tentang situasi ini.
"Kenapa memanggil Ayahku , Papa?" tanyanya terus terang.
Haidar berkedip. Ia masih mencoba mencerna perkataan salah satu muridnya. Haidar tahu semua yang terjadi , bahwa orang tuanya bercerai , bahwa Herjuno memiliki sepasang anak kembar dengan istrinya yang lain.
Tapi Haidar sama sekali tidak menyangka , bahwa anak-anak Herjuno bersekolah disini.
Ah benar juga , Haidar baru sadar ia bertemu Herjuno di sekolah sekarang. Pastilah karena anak-anaknya murid sekolah ini.
"Ehm." Haidar berdehem pelan mengatasi rasa gugupnya. "Ayah kalian adalah yang merawatku saat aku kecil." jawabnya tersenyum.
Hati Herjuno mencelos. Anak muda di hadapannya ini dulu adalah yang selalu ia gendong di balik punggungnya , yang ia temani tidur sepanjang malam , dan yang menghiburnya saat hatinya sedang sangat lelah. Anak ini, pernah sangat dicintai oleh Herjuno.
"Abang Haidar , adalah putra dari mantan istri Ayah." Herjuno tersenyum menatap Ryana dan Ryan bergantian.
Ryan dan Ryana menyalami Haidar bergantian.
"Haissshh menyebalkan!" Ryana menatap Haidar dengan memicingkan matanya.
__ADS_1
Aurorae terperanjat. Begitu juga Herjuno dan Haidar. Apa yang membuat Ryana kesal.
"Kenapa aku baru tau sekarang. Jika aku tahu lebih awal , aku bisa puas memamerkan Pak Haidar sebagai Abangku."
Semua orang melongo. Apa dia bilang? Memamerkan?
"Ibu tahu tidak , Pak Haidar ini banyak fansnya. Gadis-gadis centil itu tidak habis-habis membicarakannya." Ryana bergelayut di lengan Aurorae membuat wanita itu mengerjapkan matanya.
"Pasti keren sekali jika semua orang tahu aku memiliki dua Abang yang tampan. Ya , kan Bu?"
Semua orang belum menjawab apapun. Baik Herjuno , Aurorae dan Haidar masih mencerna ucapan gadis remaja ini.
"Beruntung sekali Abang Haidar bisa hidup dengan tenang." kali ini Ryan buka suara.
Ryana mendelik. "Apa maksudmu?"
"Percayalah , memiliki adik sepertinya bisa membuat Abang lebih cepat tua." Ryan berbisik di telinga Haidar.
Semua orang terkekeh. Jika Herjuno dan Aurorae merasa terhibur dengan pertengkaran kedua anaknya. Haidar, malah terharu. Matanya sudah berkaca-kaca, ah benar andai ia tahu lebih awal pasti akan sangat menyenangkan memiliki dua adik.
"Haidar apa sibuk? Mau makan siang dengan kami?" kali ini Aurorae menyapa ramah anak itu.
Haidar nampak menimbang-nimbang , entah apa yang membuatnya ragu.
"Makanlah dengan kami , kau pasti belum makan kan?" Aurorae mengulangi tawarannya. Untuk meyakinkan Haidar, bahwa tawaran pertama tadi bukan sekedar basa-basi.
Haidar melirik Herjuno seolah meminta persetujuan. Dan Herjuno mengangguk, sejujurnya berhadapan lagi dengan Haidar membuatnya rindu memeluk anak ini.
Haidar benar-benar bergabung untuk makan siang dengan semua orang. Di salah satu restoran yang tidak jauh dari sekolah Ryan dan Ryana , mereka berlima duduk memutari satu meja bundar.
__ADS_1
"Makanlah yang banyak , tidak perlu sungkan, hum?" Aurorae menyentuh pelan tangan kanan Haidar, ingin memastikan anak itu merasa nyaman.
Lagi-lagi Haidar mengangguk dan berterima kasih.
"Pak Haidar , tinggal dimana?" Ryan membuka obrolan , tahu jelas bahwa guru olahraga nya ini merasa sedikit canggung.
"Kenapa memanggil Pak? Kau bahkan sebentar lagi sudah bukan murid sekolah itu." Ryana menginterupsi.
"Ah , benar. Abang tinggal dimana?" Ryan mengulangi pertanyaannya.
"Di Pasteur." Haidar menjawab singkat, sembari mengunyah makananya.
"Itu dekat sekali dengan rumah kita." Ryana bersorak.
"Apartemen?" kali ini Aurorae menyambung pertanyaan.
Haidar mengangguk.
Herjuno mengernyit. "Kau tinggal di Apartemen? Kenapa tidak di rumah?" Pasalnya Apartemen yang di sebutkan Haidar , jaraknya tidak jauh dari rumah yang dulu Herjuno tempati bersama Megumi. Rumah hasil jerih payah Herjuno, yang sepenuhnya ia berikan pada Megumi saat perpisahan mereka.
"Rumah itu sudah dijual Mama saat aku kelas dua SMP. Lalu kami mengontrak sebuah rumah di Leuwigajah. Aku bersekolah disana." Jelas Haidar pelan , anak itu nampak tenang.
Herjuno terkejut. Saat ia bercerai dengan Megumi, dan wanita itu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di balik jeruji besi , Herjuno merawat Haidar dengan bantuan Bi Lilis. Bagaimanapun ia tidak tega jika harus meninggalkan anak ini seorang diri. Mereka masih menempati rumah yang sama. Baru beberapa hari sebelum Megumi di bebaskan , Herjuno mengemasi semua barang-barangnya dan pindah ke rumah Aurorae.
Aurorae yang menangkap rasa terkejut Herjuno , mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kau tumbuh dengan sangat baik." Aurorae menyentuh lengan Haidar. "Bagaimana kabar Mamamu?"
"Sudah meninggal."
__ADS_1
**