
Megumi berkacak pinggang. Menatap tajam Satya yang masih saja sibuk dengan laptopnya.
"Singkirkan dulu laptopmu! Aku tidak pernah melihatmu menjauh dari laptop sialaann itu." pekiknya kesal.
Hhhh. Satya membuang napas malas. "Karena kau selalu datang di pagi hingga siang hari. Laki-laki mana yang sedang bersantai di siang hari? Datanglah malam hari, aku akan meladeni semua drama mu dengan senang hati." jawabnya acuh tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
"Ini sudah enam bulan dan tidak terjadi apa-apa. Lakukan sesuatu!" Megumi makin meninggikan suaranya.
"Apa lagi yang bisa aku lakukan? Itu sudah cara paling ekstrim , jika suami sialannmu itu memilih mempertahankan istri mudanya aku bisa apa lagi?" kali ini Satya menatap tajam Megumi, tidak bisa lagi menutupi rasa kesalnya.
"Maksudmu Mas Juno sudah mengetahui itu dan memilih tidak peduli? Tidak mungkin. Apa hebatnya jalaang itu? "
"Atau Herjuno belum menemukannya sama sekali." jawab Satya santai mengedikkan bahu.
"Siall! Seharusnya kirimkan langsung itu pada Mas Juno!" Megumi menyugar rambutnya dengan kasar.
"Gila! Akan lebih mudah bagimu jika Herjuno menemukan itu di tangan Aurorae! Apa kau pikir Herjuno bodoh? Jika dia mendapatkan itu dari paket anonim , kaulah yang pertama akan di curigai! Apalagi jika sampai dia melakukan tes ulang! Pikirkan dengan benar!"
Kekesalan Satya sudah di ambang batasnya. Setiap hari Megumi hanya datang untuk mengeluh kenapa Herjuno belum juga menceraikan Aurorae setelah enam bulan lalu Megumi memalsukan hasi tes DNA Herjuno dan anak kembarnya.
Wanita itu seakan tidak peduli dengan perasaannya. Setiap kali datang hanya untuk merengek meminta Satya menemukan cara agar Herjuno berpisah dari istri keduanya. Wanita itu seolah tidak tahu bahwa Satya sangat mencintainya.
Itu menyakitkan. Tapi Satya masih saja menuruti kemauannya.
Tubuh Megumi merosot ke lantai. Memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana. Ia menangis tersedu-sedu.
Satya membuang napas pelan. Beranjak mendekati wanita itu.
"Jangan menangis. Sakit sekali rasanya melihatmu menangis." Pria itu luluh lagi.
__ADS_1
"Aku tidak akan bisa hidup begini terus. Bagaimana caranya aku bertahan?" gumamnya di sela-sela isak tangis.
"Seharusnya kau melawan saat Herjuno akan menikahi Aurorae. Jika sudah seperti ini , apa yang bisa kau lakukan." Satya mengusap pelan punggungnya. Sakit sekali rasanya menenangkan perempuan yang dicintainya tengah menangisi pria lain.
Megumi hanya terus menangis tanpa mempedulikan apapun. Menumpahkan segala rasa sesaknya di hadapan Satya.
**
Siang ini Herjuno sengaja pulang untuk makan siang di rumah Aurorae , sekaligus bermain sebentar dengan anak-anaknya. Karena nanti malam adalah waktunya ia pulang ke rumah Megumi.
Dilihatnya Aurorae yang sudah rapi dengan dress dibawah lutut dan rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja.
Siapa yang akan mengira wanita ini adalah seorang Ibu. Aurorae sangat cantik dan terlihat seperti mahasiswi yang belum lulus kuliahnya.
"Aku antar saja , ya. Nanti jika pulang tidak terlalu sore juga aku bisa menjemputmu." Herjuno menawarkan diri. Saat makan siang tadi Aurorae memang meminta izin untuk pergi ke ruko dengan membawa anak-anak dan Bi Izza.
"Baiklah. Tapi pulangnya aku bisa naik taksi online saja. Mas lekaslah pulang nanti jika pekerjaan sudah selesai. Tiga hari ini kau tidak tidur dengan baik."
"Jangan terlalu cantik. Aku tidak ingin istriku di lirik pria lain."
"Cih. Kau benar-benar bermulut manis." Aurorae bangkit, membuka lemari dan berjinjit untuk mengeluarkan sebuah tas yang sudah lama tidak dipakai.
"Minta tolonglah , sayang. Ada suamimu disini." Herjuno yang tiba-tiba memeluknya dari belakang membuat Aurorae berjingkit.
"Mas! Lepaskan." Aurorae meronta karena Herjuno yang memeluknya semakin erat.
"Kau cantik sekali, aku jadi tidak ingin kembali ke kantor." ujarnya menghirup dalam-dalam aroma istrinya.
Wangi sekali.
__ADS_1
Aurorae mendelik. "Mas , yang benar saja. Pagi tadi kan sudah." Ia berbalik, mengecup ringan bibir Herjuno.
"Ah, kau membuatku semakin menginginkannya."
Herjuno semakin terkekeh saat Aurorae mendorongnya untuk melepaskan diri.
"Dasar mesumm. Tolong ambilkan tasku yang warna hitam sebelah kanan." pekiknya sambil melarikan diri ke kamar anak-anak karena terdengar salah satunya menangis.
Herjuno meledakkan tawanya sambil geleng-geleng kepala.
Aurorae, sudah satu tahun lebih mereka menikah , tapi masih saja malu-malu jika Herjuno menggodanya.
Ia meraih sebuah tas yang dimaksud Aurorae, karena resletingnya terbuka jadilah isinya jatuh berhamburan ketika Herjuno menariknya keluar.
Ia memunguti satu persatu barang istrinya. Ada lipstik, tissue basah , parfume. Herjuno menggeleng-gelengkan kepala teringat beberapa bulan yang lalu Aurorae uring-uringan mencari parfume yang ia belikan untuk seserahan pernikahan.
Sepertinya tas ini sudah lama tidak dipakai oleh istrinya.
Lalu matanya tertuju pada sebuah amplop putih yang tadi juga ikut terjatuh dari dalam tas.
Ia meraihnya. Ada logo rumah sakit tempat Aurorae melahirkan.
Dan saat membaca isinya , rahangnya mengeras. Tangannya bergetar , jika saja ia tidak menahan diri pastilah tubuhnya akan terhuyung.
"Mas?" Aurorae masuk dengan keheranan karena Herjuno hanya mematung dan seperti tidak menyadari kedatangannya.
Herjuno menatapnya tajam dengan mata berkaca-kaca.
Ada rasa sedih , kecewa dan marah disana.
__ADS_1
**