Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 57 - Ayah Kandung Haidar


__ADS_3

Megumi mengernyit. "Tidak perlu bertele-tele. Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?"


Herjuno tertawa kecil. Menarik kasar tangan Megumi ke arah ruang keluarga.


Ia menyambungkan flashdisk yang tadi diberikan Gumilar dengan televisi disana.


"Hari itu kau yang memprovokasi Aurorae." ucap Herjuno saat layar televisi menampilkan rekaman CCTV di supermarket. Ia menatap Megumi tajam.


Dijalan tadi, Herjuno sempat melihat isi rekaman dengan laptopnya.


"Lalu berikutnya kau meninggalkan rumah Aurorae dengan sehat tanpa kurang satu apapun." lanjutnya saat rekaman berikutnya menampilkan hari dimana Megumi berkunjung ke rumah Aurorae. Rekaman itu di dapat dari toko seberang jalan.


Seperti yang saat itu Aurorae katakan , mereka bahkan tidak bersalaman. Bisa-bisanya Megumi mengaku di dorong hingga jatuh dari tangga teras.


"Jadi dimana kau dapatkan luka-luka itu untuk memfitnah Aurorae, hah?" Herjuno memekik kencang.


Ia tidak tahan lagi. Mengingat bagaimana kesalahpahaman yang diciptakan oleh Megumi, membuat dadanya sesak. Berkali-kali ia melukai hati Aurorae hanya karena aduan sepihak dari Megumi.


Megumi tergagap. Bola matanya memutar ke kiri dan kanan gelisah. Kejadian itu bahkan sudah hampir dua tahun berlalu, darimana Herjuno mendapatkan semua itu. Megumi bahkan sudah melupakannya.


"Mas , apa itu penting sekarang?" Ia mencoba mengumpulkan kembali kewarasannya. Jika ia lengah , Herjuno bisa terus menyudutkannya.


"Aku memang bersalah. Aku terlalu cemburu karena wanita itu tiba-tiba masuk merusak kebahagiaan ki--"

__ADS_1


"Kebahagiaan yang mana yang kau sebutkan?" potong Herjuno cepat.


"Kau tahu , tiga tahun yang lalu hatiku sangat hancur. Mengetahui Haidar bukan putraku, rasanya aku ingin mati. Tapi saat kondisiku tidak baik-baik saja pun , aku tidak pernah berburuk sangka padamu." Herjuno tertawa pahit, menjeda sejenak ucapannya.


"Ah , mungkin Megumi tidak menyadarinya. Megumi melakukan kesalahan itu sebelum menikah denganku. Dia pasti juga terkejut. Dia pasti juga terluka. Jika dia tahu sedang hamil, dia tidak akan menikah denganku." Herjuno mengunci tatapan mata Megumi yang mulai berkaca-kaca.


"Sekuat apapun aku menyangkal , kenyataan selalu bisa menyakitiku lebih dalam. Fakta tentang kau yang masih terus menemui pria itu , membuktikan bahwa kau mengkhianatiku." Suaranya mulai bergetar. Entah apa yang ia tahan , tangiskah? atau amarah?


Megumi mulai terisak. Tubuhnya bergetar hebat.


"Mas , sampai kapan kau akan mengungkitnya? Aku bersalah, aku minta maaf, ampuni aku." Megumi bersimpuh. Kedua lengannya erat memeluk kaki Herjuno.


"Kita sudah sepakat mempertahankan pernikahan demi Haidar , Mas. Kau sendiri yang bilang, setidaknya Haidar harus bahagia. Maafkan aku."


"Kau meminta pengorbananku demi putramu? Dengan membuang anak kandungku, begitu?" kakinya menghentak kuat untuk meloloskan diri dari pelukan Megumi.


"Mas! Kau sendiri yang mengatakan anak-anak itu bukan darah dagingmu! Kenapa masih membawa-bawa mereka dalam pembicaraan kita? Apa aku yang menyuruhmu menceraikan wanita itu? Bahkan foto perselingkuhannya pun baru aku buka setelah kau menggugat cerai jalaang it--"


"Tutup mulutmu, Megumi!" Herjuno melangkah cepat mendekati Megumi, andai ia tidak menahan diri entah bagian tubuh Megumi yang mana yang akan ia lukai.


"Atau aku akan benar-benar mencekikmu." tangannya mengepal kuat di hadapan wajah Megumi.


"Dimana kesalahanku, Mas? Dimana?" Megumi berteriak kencang. Sesungguhnya iapun lelah juga.

__ADS_1


Megumi bangkit, menatap tajam mata Herjuno.


"Kau yang menceraikannya, kau yang meninggalkannya. Kau juga yang mengatakan sangat menyayangi Haidar. Apa aku memintamu bertahan denganku? Atau aku memaksamu menceraikan jalaang itu?" Dia sudah berkacak pinggang , jika hanya menangis dan minta maaf , Herjuno pasti semakin besar kepala.


"Kau benar-benar mengerikan , Megumi." Herjuno menelisik wajah istrinya.


"Tentang kejadian di supermarket, ya! Aku memprovokasinya. Dan luka-luka itu bukan karena terjatuh atau di dorong wanita itu, aku terlibat kecelakaan kecil saat di perjalanan. Puas? Aku sangat mencintaimu, karena itu aku menjadi gila membuatku terus berpikir bagaimana bisa menyingkirkan perempuan itu."


Megumi mendorong Herjuno hingga mencapai dinding.


"Tapi ingat , Mas. Kaulah yang menceraikannya atas keinginanmu sendiri, bukan aku yang memaksamu. Jadi berhenti bersikap seolah-olah akulah penyebab perpisahanmu dengan wanita sialann itu."


Megumi melepaskan cengkeramannya di kemeja Herjuno. Ia berbalik ingin pergi darisana.


"Bagaimana dengan ini?" Herjuno menekan remote televisi menampilkan video CCTV di salah satu kedai kopi dekat rumah sakit, saat Megumi menyerahkan dua buah amplop kepada wanita yang berpura-pura menjadi perawat.


Megumi terbelalak. Tubuhnya menegang. Darimana lagi Herjuno mendapatkan ini.


"Apakah dia?" Herjuno menarik lengan Megumi , menyentaknya kasar agar menoleh menatap matanya.


"Laki-laki itu, Ayah kandung Haidar?"


**

__ADS_1


__ADS_2