
Megumi mematung. Membiarkan Herjuno keluar untuk tidur di kamar Haidar. Sesaat setelah Herjuno menutup pintu, tubuhnya merosot ke lantai.
Jangan kau pikir aku tidak pernah tahu.
Kalimat terakhir Herjuno terngiang-ngiang di telinga Megumi.
Apa yang Mas Juno tahu?
Tidak. Tidak mungkin tentang Satya kan?
Banyak pertanyaan yang menari-nari di kepala Megumi. Benar, tidak mungkin Herjuno hanya diam saja jika selama ini dia tahu Megumi menjalin hubungan dengan Satya.
Sejak tadi mereka membahas tentang Megumi yang selalu bertemu teman-temannya. Yang di maksud Herjuno pasti itu, kebiasaan Megumi berkumpul dengan teman-temannya hingga lupa waktu.
"Ya , pasti itu. Tidak mungkin tentang Satya." gumam Megumi menenangkan dirinya sendiri.
**
"Benar Papa memelukku semalaman?" Haidar bertanya lagi pertanyaan yang sama entah sudah ke berapa kali.
Herjuno mengangguk sambil terkekeh pelan.
"Tidak memeluk Abang Zhafran kan?" Haidar seperti belum percaya.
Dan tawa Herjuno meledak. "Tentu saja memeluk Haidar, Abang Zhafran sudah terlalu besar , ranjangnya tidak muat untuk berdua."
Haidar buru-buru mengangguk. "Hum , benar!"
Megumi hanya mengunyah sarapannya dalam diam. Tidak berani menanggapi candaan Haidar dengan Herjuno. Tidak juga berani bertanya tentang apapun pada suaminya.
"Hari ini Haidar mau jalan-jalan tidak?" Herjuno mengusap pelan bibir Haidar yang penuh dengan remah-remah makanan.
"Mau!" soraknya senang. "Ke mall boleh tidak?"
__ADS_1
"Boleh. Ingin beli sesuatu?" Herjuno menggeser piringnya yang sudah kosong.
"Ya , ingin robot yang bisa berubah jadi mobil seperti milik Saka." Haidar menyebutkan salah satu nama teman di sekolahnya.
"Boleh. Nanti kita beli , hum?"
"Yeay! Apa boleh Abang Zhafran ikut?" tanyanya sumringah membuat Megumi sontak melotot tidak suka, tapi tidak berani menyela.
Sedang Bi Lilis yang mendengar dari kejauhan, menghela napas sungkan.
"Boleh. Ini hari Sabtu, Abang Zhafran juga libur sekolah." Herjuno mengacak rambut putranya.
Zhafran yang mendengar, tersenyum malu-malu. Rasanya senang sekali, akan jalan-jalan mengelilingi mall walau tidak membeli apapun.
"Mbak Nadia juga boleh ikut." ucap Herjuno lagi. Lalu memanggil Bi Lilis yang sedang di dapur menanyakan dimana Nadia kenapa tidak ikut sarapan pagi ini.
"Di kamar, Pak. Tidak apa-apa, biar nanti sarapan di dapur saja."
"Panggil Nadia untuk sarapan , setelah itu biar saya bawa anak-anak ke mall untuk jalan-jalan." titah Herjuno lembut membuat pergerakan mata Megumi semakin kesal.
"Biar Nadia dirumah saja Pak."
"Kasian , Bi. Anak-anak butuh udara segar supaya tidak jenuh. Sekalian barangkali ada sesuatu yang ingin dia beli." Herjuno tidak menerima penolakan.
Dan Bi Lilis terlalu sungkan untuk menolak lagi. Akhirnya ia hanya mengangguk pelan berlalu memanggil anak perempuannya itu untuk sarapan.
Bersyukur sekali Herjuno sangat baik pada keluarganya. Majikannya itu mengizinkan ia beserta kedua anaknya untuk tinggal di rumah ini. Jadi ia bisa menghemat uang kontrakan dan uang makan yang selama ini hampir menghabiskan seluruh gajinya setiap bulan. Belum lagi kebutuhan Zhafran dan Nadia beberapa kali Herjuno memberi secara cuma-cuma. Jadi kini ia bisa lebih banyak menabung. Gajinya setiap bulan hanya terpakai sedikit saja.
"Mama boleh ikut tidak?" Megumi akhirnya buka suara setelah menggeser piring kosongnya.
"Boleh , jika Mama tidak sibuk. Apa hari ini mama tidak ada urusan penting?" bocah itu bertanya dengan polosnya membuat Megumi mendelik.
"Ti-tidak. Mama tidak sibuk." Entah kenapa Megumi jadi gugup disinggung tentang kesibukannya.
__ADS_1
"Tidak masalah jika kau sibuk. Biar anak-anak pergi bersamaku." Herjuno seperti menekankan bahwa ia tidak ingin Megumi ikut serta.
"Sekarang , Haidar dan Zhafran siap-siap dulu sambil menunggu Mbak Nadia sarapan." titah Herjuno sebelum Megumi menjawab lebih lagi, setelah dilihatnya Nadia yang masuk ke dapur untuk sarapan.
"Baik!" kedua bocah itu serentak berlari ke arah kamar mereka.
Herjuno berdiri , meninggalkan Megumi seorang diri.
"Makan di meja makan , Nad." ucap Herjuno saat melewati dapur menuju kamarnya.
Gadis itu hanya mengangguk sungkan , tapi tidak beranjak dari tempatnya duduk.
Megumi hanya melirik tidak suka , lalu mengekori suaminya masuk ke dalam kamar.
"Mas!" Megumi masuk dengan bersedekap di dada.
Herjuno hanya menoleh. Lalu mengeluarkan sebuah hoodie dari lemari.
"Apa aku tidak boleh ikut?" Tanyanya kesal.
"Bukankah kau sangat sibuk?" Herjuno masih sibuk memakai hoodienya.
"Berhenti menyindirku , Mas. Maaf jika aku yang bertemu dengan teman-temanku membuatmu kesal." Megumi melunak , tidak ingin memperburuk keadaan.
Sedang Herjuno terkekeh sumbang. "Habiskan waktumu dengan teman-temanmu. Aku tidak peduli."
"Lalu kau? Menghabiskan waktu dengan Nadia?" Megumi tidak lagi dapat menyembunyikan kekesalannya.
Bagaimanapun Nadia gadis remaja, bukan lagi anak kecil. Usia mereka hanya terpaut kurang lebih sepuluh tahun. Wajar bukan jika Megumi khawatir.
Herjuno menghentikan pergerakannya. Menoleh dan menatap Megumi tajam.
"Kau tertarik dengan gadis itu? Apa dia kandidat istri ketigamu?" Megimu menyunggingkan senyum sinis.
__ADS_1
Herjuno melangkah cepat mendekati istrinya. "Tutup mulutmu!"
**