Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 11 - Pernikahan


__ADS_3

Aurorae berdiri di hadapan jendela ruang tamu rumahnya. Tatapannya jauh kedepan , menerawang. Tidak ada yang bisa di lihat di luar sana. Malam sudah larut, tidak ada satupun kendaraan yang terlihat.


“Lihat apa?”


Aurorae menoleh.


“Tidak ada , Ayah... hanya tidak bisa tidur.”


“Kemarilah.”


Gumilar menjatuhkan bokongnya di sofa ruang tamu. Menepuk-nepuk sisi sebelah kanannya.


“Apa yang kau pikirkan?”


Aurorae menggeleng.


“Ayah.. apa ini sesuatu yang benar?” Menatap Ayahnya sendu.


“Kau ragu?”


Aurorae mengangguk. Gumilar mengusap rambutnya lembut.


“Belum terlambat untuk berhenti Rae , kau tahu.”


“Kenapa Ayah menyetujuinya? Membuat Herjuno lebih bersikeras.”


Gumilar menarik kepala Aurorae ke pangkuannya.


“Ayah menyayangimu Rae kau tahu?”


Aurorae mengangguk.


“Ayah bukan menyetujui keinginan Herjuno. Tapi memberimu kesempatan.”


Aurorae mendongak. Menatap tak mengerti. Gumilar hanya tersenyum tipis.


“Memberimu kesempatan untuk lebih yakin lagi mengambil keputusan. Apa kau pikir Ayah tidak memperhatikan? Empat bulan kita disini, kau tidak pernah hidup dengan tenang. Banyak melamun, terkejut saat ada suara mobil yang datang. Dan selalu gelisah menatap ponsel, ragu-ragu apa harus menghubungi seseorang hingga sering berakhir menangis diam-diam setiap malam.”


Aurorae terisak. Ternyata Ayahnya tahu semua hal yang coba ia sembunyikan.


“Ayah ingin kau baik-baik saja, hidup dengan tenang. Menikahlah dengannya jika kau yakin. Dan lepaskan dia sepenuhnya, juga jika kau yakin. Pertimbangkan dengan baik, kaulah yang paling tahu apa yang kau inginkan.” Gumilar menahan tangisnya. Bukan hal mudah merelakan putri satu-satunya menikah dengan pria beristri.


Aurorae semakin terisak. Lalu mengangguk di tengah isaknya.


“Ingatlah Rae , Megumi memang memberi izinnya diatas kertas bermaterai, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia pasti terluka. Pernikahanmu saja sudah sangat membuatnya menderita , jangan kau tambah lagi dengan hal-hal yang bisa kau hindari. Kau mengerti maksud Ayah bukan?” Gumilar mengingat kembali saat pagi tadi Herjuno datang dengan membawa izin dari Megumi.


Aurorae terdiam.


“Aku harus menjaga perasaannya?”


“Hem..” Gumilar masih terus mengusap lembut kepala putrinya.


“Dari apa?”


“Apapun yang bisa membuatnya semakin menderita. Jagalah sikapmu di hadapannya. Jangan mencoba memonopoli suamimu. Jangan membuat Megumi menjadi asing didepan suaminya. Selalu ingatlah Rae , bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan, kau membuat wanita lain terluka. Jangan terlalu bahagia, itu tidak adil untuknya.”


Aurorae bangkit mendudukkan dirinya. Menatap Ayahnya tidak percaya.


“Aku tidak boleh terlalu bahagia?”


“Hem.. tanamkan dalam hatimu, bahwa karena dirimu , seseorang harus menanggung penderitaan seumur hidupnya. Merasa bersalah lah, jangan melewati batasmu. Tidak apa-apa , kau merusak kebahagiaan orang lain, maka menderitalah sedikit saja. “ Suara Gumilar bergetar. Berat sekali dia mengatakan itu , tapi dia tidak ingin putrinya lupa diri, melupakan penderitaan yang ia berikan kepada wanita lain.


Aurorae terisak. Memeluk Ayahnya erat. Tangisnya pecah.


“Ayah.. apa aku memalukan? Aku membuat Ayah malu?”


“Tidak, Ayah hanya sangat sedih. Putri Ayah satu-satunya memilih jalan yang tidak biasa.”


“Aku mencintainya Ayah...”


“Ayah tahu..” Gumilar semakin mengeratkan pelukannya. Tubuhnya gemetar, perasaannya berkecamuk. Ingin rasanya menghentikan keputusan Aurorae, tapi juga tidak sanggup melihatnya bersedih berlama-lama. Biarlah andai kata orang menganggapnya gila, yang terpenting baginya Aurorae bahagia.


“Jika nanti pernikahanku tidak berhasil, apa Ayah mau menerimaku kembali?”


“Bahkan jika seluruh dunia meninggalkanmu, Ayah tetap disini. Kembalilah saat kau tidak sanggup lagi.” Gumilar menahan tangisnya. Dia tidak ingin Aurorae melihatnya meneteskan air mata. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia berharap suatu saat putrinya menyerah.


**

__ADS_1


Hari ini resmi sudah Aurorae menikah dengan Herjuno. Hanya acara sederhana , akad nikah dan resepsi yang dihadiri keluarga dan sahabat.


“Wah.. ternyata bukan rumor.”


“Pak Juno benar-benar menikahi Aurorae.”


“Aku penasaran, apa isi kepala Aurorae.”


“Seperti tidak ada lagi laki-laki single di dunia ini.”


“Cinta buta.”


“Apa dia tidak waras?”


Kalimat-kalimat yang walau berbisik itu tetap terdengar jelas di telinga Aurorae. Ia mencoba tetap menguasai dirinya. Tetap tersenyum , menyambut tamu yang datang.


“Apa kau melihat istri pertamanya?”


“Bu Megumi?”


“Sepertinya dia tidak datang.”


“Lagipula untuk apa datang menyaksikan suaminya direbut perempuan lain.”


“Lebih baik menangis dirumah, daripada disini.”


“Benar. Bisa besar kepala Aurorae.”


Lagi dan lagi Aurorae pura-pura tuli. Pura-pura tidak mendengar ucapan teman-teman sekantornya dulu. Saat mereka menghampirinya untuk memberi ucapan selamat pun Aurorae tetap tersenyum manis dan mengucapkan terima kasih.


Gumilar menatapnya dari ujung ruangan, sedikit bersembunyi dibalik karangan bunga. Ia mengusap air matanya pelan.


“Om baik-baik saja?”


Gumilar menoleh.


“Farhan, kau disini?”


“Apa om butuh sesuatu?”


“Farhan, terima kasih.” Ucapnya setelah Farhan juga duduk disampingnya.


“Untuk apa om?”


“Segalanya. Om tahu kau pasti kecewa , tapi terima kasih karena tetap mendukung Aurorae sampai akhir.” Matanya mulai berkaca-kaca.


“Apa Om bahagia?”


“Apa ada seorang Ayah yang bahagia menikahkan putrinya dengan suami orang lain?” Ia tersenyum getir.


“Kenapa Om memberi izin?”


Hffff. Gumilar mendesah pelan.


“Kau tahu Farhan, semenjak kami pindah ke pinggiran kota, Aurorae tidak baik-baik saja. Om hanya ingin memberinya kesempatan, agar apapun nanti yang terjadi Aurorae tidak akan menyesal. Setidaknya dia akan yakin mengambil keputusan apapun itu.” Gumilar menoleh.


“Menurutmu, bagaimana Herjuno?” lanjutnya lagi.


“Dia laki-laki yang baik, bertanggung jawab. Entah apa yang akhirnya membuat dia mengkhianati istrinya. Setahu saya, Pak Juno bukan seseorang yang gegabah mengambil keputusan.”


“Wah.. kau memujinya?”


“Percuma saja menjelek-jelekkannya Om, Aurorae sudah menikah dengannya.”


Mereka berdua terkekeh.


“Terima kasih sekali lagi , Farhan. Om berharap kau juga segera berbahagia.” Gumilar menepuk nepuk pelan bahunya. Farhan hanya tersenyum tipis.


**


Praaaaaannggggg....


Megumi melempar sebuah bingkai foto ke arah pintu. Semua yang ada diatas meja rias sudah lebih dulu berhamburan ke lantai. Botol-botol parfum dan skincare mahal , sekumpulan alat makeup hingga aksesoris hiasan meja hancur berantakan.


Megumi terengah-engah. Diikuti dengan tubuhnya yang luruh ke lantai. Tangisnya pecah , meraung keras terdengar hingga ruang tengah.


“Bu... maaf , ada yang bisa saya bantu Bu?” Bi Lilis memberanikan diri mengetuk pintu.

__ADS_1


“Ada apa Bu? Tolong buka pintunya.” Ucapnya lagi setelah beberapa saat tidak ada jawaban. Ia panik, takut terjadi sesuatu pada majikannya.


Matanya terbelalak melihat kondisi kamar yang berantakan saat Megumi akhirnya membuka pintu. Ia sedikit mendorong pintu untuk memaksa masuk ke dalam, khawatir majikannya berubah pikiran dan kembali mengunci diri di dalam kamar.


“Biar nanti saya sayang bereskan Bu... Ibu tunggu saja di ruang tengah. Mau saya buatkan teh hangat?” ucapnya sambil menyingkirkan beberapa barang di dekat kakinya.


Megumi menggeleng.


“Tidak apa-apa Bi. Biarkan saja.”


“Tapi Bu, ini banyak pecahan kaca.”


“Tidak apa-apa. Sebentar lagi Haidar pulang sekolah , apa boleh saya minta tolong bawa Haidar ke rumah Bi Lilis sampai sore?”


Bi Lilis tidak langsung menjawab. Ia sedang menimbang, berat hatinya meninggalkan Megumi seorang diri di rumah.


“Tapi bagaimana jika Ibu butuh sesuatu?”


“Saya bisa sendiri. Tolong bawa Haidar sampai sore Bi. Saya tidak mau dia melihat saya seperti ini. Lebih baik dia bermain dengan Zhafran.”


“Baiklah. Hati-hati Bu, jika butuh sesuatu, telepon saya.”


**


“Apa-apaan ini Me?” Herjuno menatap seisi kamar yang berserakan. Menatap istrinya yang sedang tidur membelakangi pintu.


Megumi tidak menjawab.


“Me , kau tidur?”


Megumi tetap diam.


“Dimana Haidar?”


Herjuno menghampiri istrinya. Berjingkit menghindari pecahan kaca yang bisa melukai kakinya.


“Apa kau tidur?” Ia bertanya lagi, setelah duduk di tepi ranjang.


“Bangunlah , sudah jam empat sore.”


“Me..” kali ini dengan menggoyang bahunya pelan.


Herjuno mendesah pelan saat lagi-lagi Megumi tidak menjawabnya.


“Me ayo kita bicara.”


“Apalagi yang mau dibicarakan Mas?” jawabnya tanpa menoleh.


“Lagi pula sedang apa kau di sini? Bukankah tadi pagi kau menikah? Seharusnya temani istri mudamu, tidak perlu berpura-pura mempedulikanku.” Sahutnya lagi, masih memunggungi Herjuno.


“Terima kasih karena mengizinkanku menikahi Aurorae. Aku tahu kau terluka, tapi mari kita berdamai dengan keadaan. Aku harap kau dan Aurorae bisa saling menerima. Aku janji akan bersikap adil, agar tidak semakin menyakitimu.”


“Cih.” Megumi mengumpat pelan.


Herjuno mengalah. Mengusap lembut kepala istrinya. Dia sadar, bagaimanapun pasti Megumi terluka.


“Di mana Haidar?”


“Aku suruh Bi Lilis membawanya.”


“Kenapa?”


Megumi menoleh. Terlihat jelas matanya yang sembab.


“Apa aku harus mempertontonkan kesialanku ini di hadapan putraku?” emosinya mulai terpancing.


“Istirahatlah. Aku akan menjemput Haidar.” Herjuno bangkit. Dia tidak ingin bertengkar lagi.


Megumi memandangnya benci.


“Malam ini aku akan menginap di rumah Aurorae. Aku akan minta Bi Lilis menginap di sini bersama Zhafran untuk menemani Haidar.” Ucapnya saat sampai di depan pintu.


Zhafran adalah putra bungsu Bi Lilis , usianya delapan tahun , kelas dua SD. Sudah seperti kakak bagi Haidar.


Megumi tidak menjawab. Ia kembali merebahkan tubuhnya setelah Herjuno menutup pintu. Tangisnya pecah lagi.


**

__ADS_1


__ADS_2