Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
EXTRA PART - RYAN DAN RYANA


__ADS_3

Ryana mendengus sebal. Gadis-gadis yang sedang menghadang jalannya ini, tidak habis-habis mengganggunya. Entah sudah berapa puluh kali Ryana mengatakan bahwa dia tidak punya hubungan apapun dengan Awan --mahasiswa dua tingkat diatasnya--.


"Jangan bohong, kemarin aku lihat kau mengobrol dengan Kak Awan di halaman parkir." Natasha --atau entah Tapasya-- mendelik galak.


"Dia menawari untuk mengantarku pulang , tapi aku tidak mau." Rasanya Ryana ingin menjambak satu persatu empat orang gadis di hadapannya ini.


Diantara empat gadis ini, entah siapa yang menyukai Awan. Yang jelas , mereka selalu datang berempat jika ingin memberi peringatan kepada Ryana.


"Cih. Kau pikir kau cantik?" kali ini entah siapa namanya yang bicara.


Ryana memutar bola matanya malas. "Astaga , jangan menguji kesabaranku. Kak Awan sangat baik, tapi karena kalian aku jadi malas dekat-dekat dengannya."


"Sok jual mahal. Belum tentu nanti kau dapat yang lebih tampan dari Kak Awan!" salah satu dari mereka memekik kesal.


Ryana memijit pelipisnya. Kesal , tapi tidak mungkin kan dia berkelahi disini. Bisa-bisa orang tuanya mendapat surat panggilan.


"Jadi maksudmu, aku dekati saja?" Kepalang pusing, Ryana menjawab asal.


"Beraninya!" salah satu dari gadis itu maju dan menarik rambut Ryana.


"Aw! Lepaskan!" Ryana berteriak sembari memegangi rambutnya yang terasa sakit.


"Sudah ku bilang, jauhi Kak Awan! Jangan coba-coba mendekatinya!" gadis itu sama sekali tidak berniat melepaskan tangannya.

__ADS_1


Ryana sampai membungkuk saking kuatnya tarikan di rambutnya.


"Lepaskan atau aku benar-benar akan berkencan dengannya!" Ryana menghentak kasar tangan gadis itu , lalu melotot sengit saat terlepas.


"Ck , kau berani?" Satu orang maju , ingin menarik kembali rambut Ryana tapi dengan cepat berhasil di tepis oleh...


Ryana mendelik mendapati siapa di hadapannya. Dia tidak berani bersuara , karena Abangnya itu sudah terlihat murka.


Ya , Ryan yang entah sejak kapan sudah ada disana. Padahal mereka kuliah di kampus yang berbeda.


"Kenapa mereka menjambakmu?" Ryan menatap tajam empat orang yang ada di hadapannya , dan menarik Ryana untuk berdiri dibelakangnya.


Ryana hanya meringis , menyadari mereka sedang menjadi tontonan sekarang --entah sejak kapan--


"Mereka menuduhku mendekati seorang kakak tingkat. Sudah ku bilang berkali-kali bahwa dia yang mendekatiku, tapi aku tidak mau."


Melihat empat gadis itu tergugu memandangi Abangnya tidak berkedip, Ryana jadi mengurungkan diri mengakui Ryan sebagai kakaknya. Ia menggandeng lengan pria itu posesif.


"Ini sakit sekali." Sebelah tangannya menggandeng lengan Ryan , sebelah lagi mengusap kepalanya. "Mereka bilang aku tidak akan mendapat laki-laki yang lebih tampan dari kakak tingkatku itu. Beraninya mereka bilang begitu padahal belum melihatmu." Ryana semakin menjadi-jadi. Bergelayut manja di lengan kakaknya.


Ryan maju selangkah. "Minta maaf!" Tatapannya mematikan, empat gadis itu benar-benar tidak bisa bicara.


"Hah?" dua orang serempak terkejut.

__ADS_1


"Minta maaf atau aku akan memperpanjang masalah ini!"


"Ryana, maafkan kami." Hanya itu yang mereka ucapkan , lalu buru-buru pergi menjauh dari sana tidak ingin lagi berurusan dengan laki-laki yang entah siapa itu.


"Cih, maafkan kami dia bilang. Aku bahkan belum menghajarmu." Ryana menggerutu sebal sembaru menatap punggung gadis-gadis itu yang menjauh.


"Kau bilang bisa menjaga dirimu sendiri, tapi membiarkan orang lain menjambakmu!" Kali ini Ryan menatap tajam Ryana.


Astagaa apa kakaknya ini masih dendam karena Ryana tidak mau mendaftar di universitas yang sama dengan Ryan.


"Membiarkan apanya , memang kau pikir mereka minta ijin sebelum menjambakku?"


Shasa , yang entah sejak kapan datang , terkekeh.


"Mereka mengganggumu lagi? Aku tadi ingin membantu, tapi Ryan lebih dulu datang."


Shasa berkuliah di kampus yang sama dengan Ryana.


"Ryan , sejak kapan kau jadi se keren ini? Mereka tidak bisa berkata apapun padahal kau hanya bicara pelan dan tidak marah-marah." Shasa tidak sungkan memuji Ryan, mereka sudah seperti keluarga.


"Kak Shasa tidak lihat dia tidak marah saja sudah seperti ingin memakan orang!" Ryana masih kesal.


Shasa terkekeh , lalu mengajak kedua --adiknya-- untuk pulang.

__ADS_1


**


__ADS_2