Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 28 - Mulut Manis


__ADS_3

Dea memasuki ruangan divisi marketing dengan tergesa. Dua menit lagi waktu makan siang habis , dan dia harus menyiapkan beberapa materi untuk meeting setengah jam lagi.


"Makan siang di ruko lagi?" Tania menghampiri. Menyerahkan sebuah map berwarna biru kepada Dea.


Dea mengangguk. "Apa ini laporan akad kredit minggu ini?"


Tania mengangguk. "Ada beberapa pengajuan perubahan design. Maudy yang mengurusnya."


"Baiklah." Dea kembali memastikan beberapa berkas yang akan ia bawa ke ruang meeting nanti, sembari menunggu Maudy menyelesaikan pekerjaannya.


"Bagaimana kabar Aurorae? Hah , gadis itu menarik diri dari semua orang hanya karena menikah dengan Pak Juno."


Selama bekerja , sebenarnya Aurorae lebih dekat dengan Tania dan Maudy daripada Dea. Mungkin karena diantara semua staf divisi marketing, Dea dan Tita lah yang paling tua. Jadi semua orang segan kepada mereka.


Dea terkekeh. "Baik. Dia takut mendengar gosip yang menyakitkan."


"Siapa yang berani menggosipkannya? Aku akan menghajarnya." Tania mendengus.


Maudy menghampiri keduanya. Menyerahkan sebuah map yang juga akan dibawa Dea ke ruang meeting nanti.


"Bagaimana kabar Aurorae? Sesekali ayo kita makan siang bersama. Aku merindukannya." ucapnya lesu.


"Dia baik. Hanya banyak menangis. Kau akan sibuk menyeka air matanya jika bertemu." Dea terkekeh lagi sambil terus menunduk membereskan berkas.


"Aku akan sampaikan kalau kalian merindukannya." ucap Dea lagi sambil berlalu tergesa menuju ruang meeting.


Tanpa ada yang menyadari, Herjuno terdiam dibalik dinding mendengar perbincangan mereka bertiga.


**


"Ibu.. Kenapa tidak mengabari jika akan berkunjung? Aku bisa menjemput Ibu di stasiun." Aurorae menghambur ke dalam dekapan Daniah, Ibu dari Dea dan Dira.


Daniah terkekeh. "Kau sudah makan siang? Ibu akan memasak jika belum."


"Sudah , dengan Mbak Dea di ruko." Aurorae menggamit lengan Daniah dan masuk lebih dalam ke dalam rumah.


"Kenapa tidak mengabari? Stasiun lebih dekat dari rumahku." Aurorae masih saja merengek.


"Kau bicara seperti Ibu adalah Ibu kandungmu." Dira terkekeh.


"Ibu memang Ibuku." Aurorae mendengus.


Dira lebih tua empat tahun dari Aurorae. Tapi ia menolak dipanggil Mbak karena merasa belum setua itu.

__ADS_1


Aurorae menghabiskan dua jam di rumah Dira. Menceritakan banyak hal dengan Ibu dan Adik dari mantan teman sekantornya itu. Entah apa yang membuat mereka jadi sedekat itu. Padahal awal mula Aurorae bertemu dengan Dira adalah karena Dira yang meminta tolong agar Satya urung menceraikannya.


Sejak itu, perlahan entah bagaimana mereka menjadi sangat dekat , seperti sebuah keluarga meski akhirnya Dira tidak bisa mempertahankan rumah tangganya. Bukan karena Aurorae tidak ingin membantu, tapi mempertahankan Satya sama saja dengan menyakiti diri sendiri lagi dan lagi. Jadi Dira memutuskan berpisah.


Hampir jam empat sore Aurorae pamit pulang, dan berjanji akan datang lagi besok.


Ia mengemudi perlahan , sambil bersenandung pelan.


Memikirkan akan memasak apa untuk makan malam. Senyuman tidak pernah lepas dari wajah cantik nya.


Hingga di sebuah pertigaan lampu merah. Aurorae tergugu. Kaca mobil di depannya terlalu terang , hingga apa yang ada di dalam terlihat jelas.


Megumi. Jelas itu Megumi. Begelayut mesra di lengan kiri seorang lelaki yang sedang mengemudi. Tersenyum sangat cantik , lalu sesekali mengecup pipi laki-laki di sampingnya.


Laki-laki itu bukan Herjuno.


Mungkin dia Satya. Aurorae tidak tahu persis bagaimana wajah Satya , Dira hanya pernah menunjukkan fotonya sekali.


Aurorae meremas kuat roda kemudi.


"Cih. Wanita gila." gumamnya pelan.


Lalu berbelok ke kiri saat lampu lalu lintas berubah hijau. Sedang mobil yang di tumpangi Megumi melaju ke kanan.


**


Ia terperanjat kaget ketika belum habis menuruni anak tangga, pintu utama sudah terbuka dari luar.


"Mas , kenapa sudah pulang? Ini masih setengah lima sore. Aku bahkan baru saja sampai." tanyanya sambil terus berjalan.


"Sudah ku bilang , berjalan perlahan. Jangan naik turun tangga dengan tergesa." bukannya menjawab pertanyaan istrinya , Herjuno melempar tas kerjanya ke atas sofa ruang tamu. Lalu menghampiri Aurorae dengan cepat.


"Maaf , aku ingin tahu siapa yang datang di jam segini."


Herjuno memeluknya erat , mengecup pelan kening istrinya.


"Mas , aku bau matahari, belum mandi." Aurorae mendorong pelan tubuh suaminya.


"Ayo mandi, aku temani." Herjuno menggamit perlahan lengan Aurorae.


"Mas ! Tidak mau , aku bisa mandi sendiri."


Herjuno terkekeh. "Aku akan membantumu, kau pasti lelah sayang."

__ADS_1


"Tidak. Kau bukannya membantu, aku akan semakin lelah jika mandi bersamamu." Aurorae melepaskan genggaman tangan Herjuno dan melangkah menghindar.


Tapi Herjuno cepat menangkapnya dan memeluk dari belakang.


"Apa yang kau pikirkan? Aku hanya ingin membantumu mandi. Jangan berpikir mesumm."


Aurorae mendelik. "Bukan aku yang mesumm. Itu sudah tertulis jelas di keningmu apa saja yang akan terjadi nanti jika menemaniku mandi."


Herjuno terkekeh. Menuntun istrinya menaiki tangga menuju kamar mereka.


Rumah ini tidak sebesar rumah Gumilar sebelumnya. Sebuah rumah minimalis yang hanya ada satu kamar di bawah dan dua kamar di lantai atas.


"Sayang, mulai besok pindah saja ke kamar bawah ya. Agar kau tidak perlu naik turun tangga terlalu sering." Herjuno merangkul pinggang Aurorae dan membantunya duduk di atas ranjang.


"Aku belum terlalu lelah Mas." jawabnya sembari meluruskan kedua kakinya.


"Pindah saja , tidak perlu menunggu lelah. Aku akan minta seseorang untuk memindahkan pakaian dan beberapa barang ke kamar bawah besok."


Herjuno meraih kaki kanan Aurorae dan memijitnya pelan.


Aurorae hanya mengangguk.


"Aku juga akan meminta tolong Bi Lilis agar mencari orang yang bisa membantu pekerjaan rumah."


Aurorae menggeleng cepat. "Tidak perlu Mas , aku sudah hubungi Ayah dan Ayah bilang akan mengirim adik dari Bi Ita , yang dulu membantu di rumah kami. Bi Ita sudah terlalu tua, sekarang ia bilang mudah lelah."


Dan Herjuno setuju saja , yang penting Aurorae bisa lebih banyak beristirahat.


"Mas , hentikan!" Aurorae menepis tangan Herjuno saat pijitan suaminya itu merambat ke atas pahanya. Meraba-raba ke dalam midi dress yang ia kenakan.


Tapi bukannya berhenti , tangan Herjuno semakin naik ke atas. Ia mendekati istrinya lalu mengecup pelan bibir Aurorae.


"Aku rindu sekali." tatapnya memelas.


"Tapi Mas , aku belum mandi." Aurorae menjawab dengan suara lebih pelan.


"Apa bedanya? Mandi atau tidak , kau tetap sangat cantik." rayunya sambil lagi-lagi mengecup bibir istrinya.


Menatap dalam manik mata Aurorae, Herjuno menjatuhkan lagi bibirnya. Kali ini bukan sekedar kecupan , semakin dalam ciumannya , semakin lama semakin menuntut. Melesakkan lidahnya ke dalam sana membuat Aurorae membalas tak kalah menuntut.


Aurorae melepaskan sebentar pagutannya. Menatap mata suaminya.


"Kau benar-benar bermulut manis." ucapnya tersenyum , lalu kembali mencium Herjuno lebih dulu.

__ADS_1


**


__ADS_2