
Aurorae tengah duduk santai di sebuah cafe dekat Stockholm Group. Ia sengaja memilih meja di sisi utara yang bersisian dengan jendela besar. Dari tempatnya duduk , terlihat jelas gedung Stockholm Group yang Aurorae lupa ada berapa lantai, mungkin sembilan belas? Ah , sudah lama sekali sejak ia terakhir kali menginjakkan kaki disana.
"Maafkan aku, kau menunggu lama?" Herjuno mengambil tempat berhadapan dengan Aurorae.
Aurorae menoleh. Memindai penampilan Herjuno siang ini. Sebuah kemeja biru langit dengan lengan digulung sampai siku , dan celana bahan warna hitam. Astaga lihat , usianya hampir setengah abad tapi tidak ada perut buncit disana.
"Ehm." Aurorae berdehem , kenapa juga tiba-tiba ia gugup.
"Aku sengaja datang lebih awal." ucapnya lagi lalu meminum sedikit es coklat pesanannya tadi.
Herjuno tersenyum, ia menangkap dengan jelas wajah gugup mantan istrinya. Astaga , apa-apaan kenapa mereka berdua seperti remaja yang baru cinta-cintaan.
"Ada hal penting apa?" tanya Herjuno saat salah satu pelayan berlalu setelah mencatat pesanannya.
Aurorae berdehem lagi. Ia kembali meminum es coklatnya membuat Herjuno menahan tawa. Boleh kan dia percaya diri? Bahwa Aurorae masih mencintainya?
"Mas , tentang kita--"
"Rae! Aurorae!" Seorang wanita mendekat, sebelum Aurorae sempat melanjutkan kalimatnya.
"Ternyata benar. Astaga berapa lama kita tidak bertemu?" Wanita itu -Tania- memeluk Aurorae.
"Tania? Bagaimana kabarmu?"
__ADS_1
"Aku baik. Kau bagaimana? Sejak menikah dengan Pak Juno kau memutus kontak kami semua , saat bercerai pun kau pergi dari Bandung. Astaga , jahat sekali!" Tania memukul pelan lengan Aurorae.
Aurorae terkekeh. "Maafkan aku. Tapi aku rutin menanyakan kabarmu dan yang lain pada Mbak Dea."
"Cih. Mbak Dea juga sudah resign dari perusahaan beberapa tahun lalu. Maudy juga , dia berhenti setelah menikah dengan Far--" Tania menjeda kalimatnya sejenak. "Tunggu. Kau tahu Maudy menikah?"
Aurorae terkekeh lagi, lalu mengangguk. "Aku datang ke pesta pernikahannya kalau kau lupa!" Ia memukul pelan lengan Tania. "Lalu mungkin sembilan atau sepuluh tahun yang lalu, aku tidak sengaja bertemu dengannya di Surabaya."
Herjuno mengernyit. Nampak sekali raut tidak suka atas perkataan Tania tadi. Kenapa juga wanita itu seperti ragu-ragu memberitahu Aurorae bahwa Maudy menikah dengan Farhan. Cih. Dia pikir Aurorae akan kecewa? Yang benar saja.
"Benarkah? Ah pokoknya , tim kita dulu yang terbaik. Sekarang hanya tersisa Aku, Mbak Tita, Farel dan beberapa anak baru. Farhan juga sudah pindah ke divisi lain."
Tania masih ingin melanjutkan kalimatnya sebelum ekor matanya tanpa sengaja menangkap sosok Herjuno disana.
Aurorae terkekeh saat pandangannya mengikuti punggung Tania.
"Terima kasih." ucapnya saat pelayan selesai mengantar semua pesanan mereka.
Aurorae kembali duduk masih dengan senyum lebar karena percakapannya dengan Tania barusan. Sesekali ia menarik lebih lebar lagi senyumannya entah karena apa. Dan itu semua, tidak lepas dari pengamatan Herjuno.
"Maafkan aku." ucap Herjuno tiba-tiba membuat Aurorae mendongak.
Aurorae hampir lupa , ada pria ini di hadapannya.
__ADS_1
"Aku tidak memberimu pernikahan yang nyaman , dulu. Maafkan aku." lanjut Herjuno lagi. Perkataan Tania tadi mengganggu pikirannya. Tentang Aurorae yang memutus kontak setelah pernikahan. Karena apa lagi? Tentu saja karena Aurorae tidak nyaman , kan?
Aurorae mengerjap. Lalu tersenyum. "Pernikahan kita dulu, bukan hanya keputusanmu. Untuk apa meminta maaf."
"Makanlah dulu, setelah itu kita bicara." putus Herjuno akhirnya.
Dia ingat dengan jelas tadi Aurorae mengatakan Tentang kita sebelum kedatangan Tania menginterupsi. Sudah pasti , apa yang akan dibicarakan Aurorae adalah sesuatu yang penting, diantara hidup dan matinya. Ia ingin mereka bicara dengan tenang.
Aurorae makan perlahan , ia tidak terburu-buru. Bukan, bukan karena ingin lebih lama menghabiskan waktu dengan Herjuno tapi tiba-tiba saja kalimat yang sudah ia rangkai di kepalanya sejak semalam menghilang karena kegugupannya. Astaga , dia bahkan bukan remaja lagi. Bertemu Herjuno pun hampir setiap hari karena pria itu tidak pernah melewatkan kesempatan untuk sekedar makan malam bersama anak-anak. Tapi kenapa masih saja gugup begini.
Herjuno meminta pelayan membereskan meja mereka setelah Aurorae menyelesaikan makan siangnya. Ia tidak ingin terganggu dengan hal-hal tidak penting saat mereka bicara nanti.
"Jadi, ada hal penting apa Rae?" suara Herjuno melembut, ia tidak ingin Aurorae tegang.
"Ada masalah dengan anak-anak?" Bodoh. Sudah jelas tadi Aurorae bilang tengang kita , kenapa malah membahas anak-anak.
Aurorae menggeleng. "Anak-anak baik-baik saja."
Ia berdehem sekali lagi. "Ini tentang kita."
Aurorae menjeda kalimatnya sejenak. "Maafkan aku."
Tidak. Jangan minta maaf. Ku mohon.
__ADS_1
**