
Herjuno tergugu bingung harus menjawab apa. Tinggal bersama? Jika boleh memilih, itulah satu-satunya yang ia inginkan. Tapi mengingat apa yang sudah ia perbuat di masa lalu, Herjuno tidak berani meski sekedar membayangkan.
Herjuno berdehem pelan untuk mengatasi gugupnya. "Benarkah? Tapi Ayah akan menempel terus sepanjang hari jika kita tinggal bersama."
"Tidak apa-apa. Kita hanya akan berpisah saat aku masuk ke dalam kelas."
"Ck. Dasar anak kecil." Ryan terdengar menggerutu.
Ryana mendelik kesal , sedang Herjuno terkekeh.
"Apa Abang tidak ingin tinggal bersama Ayah?" kali ini Herjuno mengalihkan perhatiannya pada Ryan.
"Ingin. Tapi tidak mau selalu diawasi sepanjang hari. Ryan bukan anak kecil!"
"Umurmu belum genap sembilan tahun!" Ryana memekik tidak terima.
"Aku pria dewasa. Memangnya kau, seperti balita!" Ryan tak ingin kalah.
"Cih. Kau bahkan menangis kencang saat disuntik. Pria dewasa kakimu!"
"Aku tidak menangis!"
"Tidak mengaku. Aku bahkan masih ingat sebanyak apa ingusmu."
"Ryana!"
"Apa?"
"Tidak bicara lagi denganmu!"
Ryan berdiri kemudian berlalu menuju kamarnya di lantai dua.
Sedang Ryana menjulurkan lidah menatap punggung saudaranya.
Herjuno terkekeh. Matanya berkaca-kaca. Bukan bersedih, tapi ia bahagia. Melihat kedua anaknya tumbuh dengan baik, membuat hatinya menghangat.
"Ayah, lihat. Abang sangat menyebalkan." Ryana kembali mengalihkan fokusnya pada sang Ayah di seberang sana.
"Tentu saja , siapa yang tidak kesal jika ingusnya di ungkit-ungkit."
Malam itu , Herjuno berbicara sedikit lebih lama dengan putrinya. Ryana menceritakan banyak hal.
Tentang Dea yang kemarin berkunjung.
Tentang teman-teman di sekolahnya.
__ADS_1
Tentang isi kotak bekal mereka pagi tadi.
Bahkan ia juga menceritakan bagaimana macetnya jalanan Surabaya.
Di akhir , lagi-lagi gadis itu bertanya kenapa mereka tidak tinggal bersama.
**
Aurorae menatap punggung kedua anaknya yang melangkah memasuki gerbang sekolah. Ia tersenyum tipis melihat Ryan menggandeng tangan adiknya posesif, kebiasaan anak itu jika sedang berada di luar rumah. Dan Ryana sama sekali tidak keberatan.
Aurorae menarik napas pelan, lalu melajukan mobilnya meninggalkan sekolah anak-anak.
Semalam , ia mendengar pembicaraan Ryana dengan Ayahnya di telepon. Hatinya tersentil , sebanyak apapun kasih sayang yang Aurorae dan Herjuno curahkan untuk anak-anak, ternyata tetap ada bagian kosong didalam hati mereka.
Aurorae meraih ponselnya , menimbang-nimbang apakah tidak apa-apa jika dia menelepon Herjuno sepagi ini.
"Ya, Rae?" hanya dua kali nada sambung sebelum terdengar Herjuno menjawab panggilan.
"Mas , apa kau sibuk? Maafkan aku menelepon sepagi ini."
"Tidak , aku sedang dalam perjalanan ke kantor. Ada masalah? Semua baik-baik saja?"
Aurorae tidak pernah menelepon lebih dulu jika bukan karena hal penting. Jadi Herjuno selalu berdebar takut terjadi sesuatu dengan anak-anaknya.
"Ya , tidak ada masalah. Hanya saja , kau akan datang awal bulan?"
Tentu saja Aurorae tahu. Stockholm Group selalu sibuk di akhir bulan.
"Apa tidak masalah jika sedikit mundur ke tanggal sepuluh?"
Herjuno nampak terdiam sejenak. "Tidak masalah. Tapi aku sudah sangat merindukan anak-anak. Apa ada sesuatu, Rae?"
"Tidak , hanya saja tanggal sepuluh jadwal pengambilan raport anak-anak. Aku pikir , akan lebih baik jika kau bisa datang."
"Baiklah. Aku akan datang tanggal sembilan malam sepulang kerja."
Aurorae tersenyum dan mengangguk , seolah Herjuno bisa melihatnya. "Baiklah. Terimakasih Mas , anak-anak pasti senang sekali."
"Aku yang harus berterima kasih. Terima kasih Rae, kau selalu memperlakukanku dengan baik."
Hening sejenak. Baik Aurorae maupun Herjuno terjebak dengan angannya masing-masing.
Deheman Aurorae memutus lamunan mereka sendiri. "Tidak ada alasan untukku memperlakukanmu dengan buruk. Kalau begitu , aku tutup Mas."
Aurorae benar-benar menutup teleponnya sebelum Herjuno sempat menjawab.
__ADS_1
Ia melempar ponselnya ke bangku samping , lalu menarik napas pelan.
Selalu saja begini. Canggung sekali setiap Herjuno mengungkit masa lalu.
**
Aurorae mendorong trolly memasuki area belanja supermarket. Pagi tadi, Ryana mengeluh sudah lama tidak makan masakan Ibunya. Ia pikir , tidak masalah jarang memasak. Gumilar dan anak-anak menyukai masakan Bi Izza. Tapi ternyata , anak-anak tetap rindu masakan ibunya.
"Rae!" Aurorae menoleh saat mendengar namanya dipanggil.
"Benar kau Aurorae? Astaga." Maudy mendekat , memeluk Aurorae tiba-tiba.
"Maudy?" Aurorae menatap wanita itu kebingungan.
"Sedang apa kau di Surabaya?" tanyanya lagi.
"Ah, Mas Farhan sedang rapat bulanan di kantor cabang sini. Aku bosan , jadi keluar berbelanja."
"Ah, Mas?" Aurorae mengedip-ngedipkan matanya , menggoda Maudy yang terlihat malu-malu.
"Jangan menggodaku!" Maudy mendelik kesal memberi peringatan.
Aurorae terkekeh. "Sudah berapa bulan?" tanyanya sembari mengelus perut buncit Maudy.
"Bulan ke tujuh." jawabnya sumringah.
Maudy menikah dengan Farhan sekitar lima tahun yang lalu. Aurorae juga meluangkan waktu hadir di resepsi pernikahan mereka saat itu. Dan kini, Maudy sedang hamil anak kedua mereka.
"Ayo kita cari tempat untuk duduk." Aurorae menarik Maudy untuk duduk di area food court supermarket.
"Kabarmu baik? Bagaimana anak-anak?" Maudy menatap Aurorae yang sedang menarik kursi untuknya.
"Kami baik. Apa Biru sehat? Berapa usianya sekarang?"
Biru adalah putra pertama Maudy dan Farhan.
Maudy mengangguk. "Empat tahun. Dia membuatku pusing sepanjang hari. Tidak bisa diam."
Aurorae terkekeh.
"Dia bahkan tidak merengek saat aku bilang akan ke Surabaya dengan Papanya. Apa dia benar anakku? Kenapa tidak manis seperti anak orang lain?" Maudy merengut sebal.
Aurorae semakin tergelak. "Nanti kau akan merindukan saat-saat seperti ini. Waktu berlalu sangat cepat." tatapannya menerawang.
"Benar." Maudy tersenyum. "Ngomong-ngomong, apa kau tahu kabar Megumi?"
__ADS_1
**