
Jika tidak menahan diri, hampir saja Herjuno menampar pipi Megumi. Beruntung telapak tangannya hanya berakhir terkepal menggantung di hadapan wajah istrinya.
"Kau kesal padaku silahkan , tapi jangan membawa-bawa orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Apalagi Nadia, dia anak kecil yang tidak tahu apa-apa." Rahangnya mengeras , tatapannya tajam, dan suaranya bergetar pertanda ia sedang sangat marah.
"Anak kecil yang kau bilang itu sudah pantas menikah!" Megumi tidak mau kalah. Meski sedikit gentar melihat kemarahan Herjuno, tapi ia tidak bisa diam saja.
"Astaga Megumi. Singkirkan hal itu dari kepalamu. Jika Bi Lilis mendengar, dia akan sangat kecewa--"
"Peduli apa dengan perasaan orang lain." Megumi memotongnya cepat.
"Orang lain itu yang mengasuh Haidar selama ini jika kau lupa!"
"Apa aku berhutang budi? Dia dibayar untuk itu, sudah tugasnya. Yang dia dapat lebih dari cukup, di keluarga lain belum tentu akan sama seperti ini."
Benar. Bi Lilis memang mendapat lebih dari cukup. Bahkan mungkin Bi Lilis sendiri menyadari itu. Gaji yang sangat layak, bahkan sekarang kedua anaknya diperbolehkan tinggal dan makan gratis di rumah ini.
Herjuno menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau sungguh keterlaluan." ucapnya pelan , tidak tahu harus bicara apa lagi.
"Aku hanya khawatir. Siapa yang akan menjamin kau tidak tertarik pada gadis itu?" Megumi meliriknya sinis. Untuk menatap sama tajamnya , dia tidak berani.
"Aku. Aku yang akan menjamin diriku tidak akan pernah tertarik pada Nadia atau gadis manapun. Kau tahu kenapa? Aku memiliki Aurorae, dia lebih dari cukup." ucapnya lirih, melangkah melewati Megumi , berlalu keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Megumi terhenyak.
Aurorae?
Jadi dia bahkan tidak berarti apapun di hati Herjuno?
**
Megumi melempar asal tas yang ia bawa ke atas sofa. Meraih segelas air putih lalu meneguknya sampai habis.
"Ada apa lagi?" Satya mendengus. Beberapa hari lalu wanita itu pergi begitu saja dari apartemennya, dan tidak menghubunginya sama sekali. Ia masih sangat kesal.
"Aarrgh!" Megumi menyugar rambutnya ke belakang, lalu berkacak pinggang.
Satya memutuskan untuk tidak meladeni. Ia kembali fokus dengan laptopnya. Dan itu , membuat Megumi semakin kesal.
"Apa sekarang kau juga mengacuhkan ku?" Ia memekik , dan ketika Satya menoleh , ia menatap tajam.
"Ya. Jika kau datang hanya untuk melampiaskan rasa kesalmu itu." Satya masih acuh, kembali menatap pada laptopnya.
"Apa kau juga sudah menemukan wanita lain? Seperti Herjuno? Jadi akan mencampakkanku? Aku ini bu--"
Satya bergerak cepat membungkam bibir Megumi dengan ciuman. Ciuman kasar yang menuntut , ia menelusupkan lidahnya di dalam sana , menelusuri setiap rongga yang ada. Dan tangannya sudah bergerak kemana-mana , meremaatt dan memiliinn bagian favoritnya meski dari luar pakaian dan posisi masih berdiri.
__ADS_1
Tanpa melepaskan ciumannya , Satya menggiring Megumi menjauh dari ruang tamu menuju pantry. Dengan sekali dorongan , Satya mendudukkan Megumi di meja bar yang ada disana. Ia menarik kasar celanaa dalaam Megumi dari balik dress yang tersingkap.
"Ahh.." Megumi melenguh saat telunjuk Satya menekan lembut inti tubuhnya di bawah sana.
Ciuman mereka sama sekali tidak terlepas , sesekali turun ke leher dan dadaa Megumi.
Satya memasukkan dua jarinya ke dalam inti tubuh Megumi. Menggerakkan maju mundur dengan ibu jari menekan klitorissnya.
Megumi sudah meracau tidak jelas , memejamkan mata dengan tangan bertumpu pada meja bar. Kedua kakinya ia buka lebih lebar.
Wajah penuh gairah wanita itu membuat Satya terbakar juga. Tapi sekuat tenaga ia tahan, hanya fokus memberi kenikmatann pada kekasihnya.
Entah di menit ke berapa Megumi melenguh panjang, menjepit kuat pergelangan tangan Satya dengan kedua pahanya.
"Lihatlah! Aku bisa memuaskanmu tanpa memikirkan hasratku sendiri. Jika bukan pada wanita yang sangat aku cintai, aku tidak akan sudi." ucap Satya sambil menarik tangannya , lalu berlalu menuju wastafel.
Megumi menatapnya sendu. Pria itu pasti bergairah juga, terlihat jelas tonjolan di balik celana yang ia pakai.
"Maafkan aku. Aku insecure kau tahu , semua orang seperti tidak menginginkanku." Megumi mengekori Satya , lalu memeluk tubuhnya dari belakang.
"Aku yang paling menginginkanmu, tapi kau tidak." Satya menghentikan pergerakannya tanpa menoleh.
"Sekarang apa yang kau inginkan? Bertahan dengan Herjuno? Pulanglah. Sejujurnya aku muak setiap kali kau menyebut nama itu." Satya melepaskan pelukan Megumi, dan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
**