Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 64 - Apa Benar?


__ADS_3

"Lalu kenapa Ayah tidak tinggal disini?" Ryana menatap Ryan penuh harap.


"Kau mengerti bercerai tidak? Tentu saja mereka tinggal terpisah."


"Maksudku, Mama dan Papa Tiffany juga sudah bercerai tapi mereka masih tinggal bersama."


Ryan mengerutkan keningnya. "Benarkah? Tiffany bilang begitu?"


"Tidak. Aku melihat Papanya mengantar Tiffany ke sekolah setiap pagi, dan siang hari dia dijemput oleh Mamanya."


Ryan menarik napas panjang. Ia sudah sangat berusaha menahan diri agar tidak memaki adiknya.


"Mungkin rumah Papanya dekat , jadi bisa mengantar ke sekolah sembari berangkat ke tempatnya bekerja."


Ryana mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Lalu berlari menghampiri Ibunya di meja makan dekat dapur.


"Ibu , kenapa Ayah tidak bekerja di Surabaya? Atau kenapa tidak kita saja yang tinggal di Bandung?"


Aurorae yang sejak tadi mencuri dengar percakapan anak kembarnya , tidak terkejut lagi. Selama ini ia pikir , sudah cukup baik memberikan segalanya yang dibutuhkan anak-anak. Tapi ternyata tetap saja , mereka merindukan keluarga yang utuh.


"Nanti akan Ibu bicarakan dengan Ayah." Aurorae mengusap lembut kepala putrinya.


"Benar?" Matanya sudah berbinar-binar.


Aurorae mengangguk.


Ryana langsung berlalu menuju tangga untuk naik ke lantai dua.


"Abang! Nanti di masa depan kita akan lebih sering bertemu dengan Ayah." teriaknya sebelum benar-benar menaiki tangga.


Anak itu senang sekali, seolah memang sering bertemu Ayahnya adalah hal yang paling ia inginkan.

__ADS_1


Aurorae menghela napas saat melihat Ryan menyusul adiknya.


"Pelan-pelan saja , tidak perlu dipaksakan." Gumilar yang sejak tadi menyimak , mengusap sayang punggung Aurorae.


"Sebenarnya aku sudah membicarakan ini dengan Mbak Dea kemarin. Aku sudah mempertimbangkannya Ayah , jadi tidak apa-apa. Aku hanya terkejut, ternyata itu adalah hal yang diinginkan anak-anak."


Gumilar mengangguk paham. "Hubungan kita dengan Herjuno sudah lama membaik , jadi tidak ada alasan untuk menetap disini lebih lama lagi."


Gumilar sengaja menggunakan kata ganti kita ketimbang kamu, ia tidak ingin Aurorae menganggap situasi tidak nyaman ini adalah karena dirinya seorang. Bagaimanapun, Gumilar mendukung semua keputusan Aurorae.


**


Pagi ini Herjuno benar-benar menepati janji untuk datang mengambil raport anak-anak di sekolah. Sejak pagi, rumah Aurorae sudah sibuk dengan Ryana yang seperti tidak sabar ingin memamerkan Ayahnya di depan teman-teman sekolah.


Bahkan semalam , ia tidur larut karena mengobrol banyak hal dengan Herjuno. Beruntung , setiap Herjuno berkunjung ke Surabaya untuk menjenguk anak-anaknya, Aurorae mengizinkan ia menginap di kamar Ryan. Wanita itu memang murah hati, karena itu Herjuno tidak akan menuntut lebih lagi.


"Kakek , jika Ryana ada di lima besar Kakek akan beri hadiah apa?" anak itu bergelayut manja di lengan Gumilar sebelum masuk ke dalam mobil.


"Ryana ingin hadiah apa?" Gumilar balik bertanya.


"Liburan ! Ryana ingin menginap di hotel yang bagus!" Anak itu bersorak riang.


Gumilar nampak terkekeh lalu terdiam sejenak.


"Jika ada di tiga besar, kita akan pindah tinggal di Bandung."


"Benar? Sungguh? Jangan berbohong!" Ryana menarik-narik tangan Gumilar.


Tidak hanya Ryana yang menunggu jawaban , Herjuno pun sedikit terkejut dan sekarang hatinya berdebar menunggu jawaban Gumilar.


"Benar. Iya kan Bu?" Gumilar menatap Aurorae.

__ADS_1


Aurorae mengangguk saja sambil melirik sedikit ke arah Herjuno yang juga sedang menatapnya.


"Yeay! Ibu sudah berjanji!" Ryana bersorak , lalu melompat masuk ke dalam mobil.


Mobil yang dikendarai Herjuno melesat setelah berpamitan kepada Gumilar.


Herjuno berdehem pelan, ingin menanyakan maksud perkataan Gumilar tadi tapi ia bingung bagaimana caranya. Jadi sedari tadi ia hanya mencuri pandang ke arah Aurorae yang duduk disampingnya , dan sesekali berdehem mengatasi gugupnya. Begitu terus hingga mobil sampai di sekolah.


**


"Rae , bisa kita bicara sebentar?" Herjuno akhirnya memberanikan diri , setelah siang hari mereka sampai di rumah.


"Nanti Mas , kita makan siang dulu."


Herjuno melirik ke arah tangga, ada Ryan dan Ryana yang turun setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


"Ibu , nanti malam kita makan di luar kan?" setengah berlari Ryana menghampiri Aurorae.


"Hum." Aurorae hanya menggumam sambil mengangguk samar.


Selama di meja makan , Ryana tidak habis-habis menceritakan betapa senangnya ia hari ini. Bisa datang ke sekolah dan memamerkan Ayahnya kepada teman-temannya adalah yang paling ia inginkan sejak dulu. Apalagi tadi semua orang memuji , mengatakan Ayahnya sangat keren.


Meski sempat bersedih karena ia tidak masuk lima besar , Ryana lekas riang lagi karena Aurorae meyakinkan bahwa mereka tetap akan pindah ke Bandung dalam waktu dekat.


Karena jawaban Aurorae itu juga, jantung Herjuno semakin berdebar. Ia ingin segera menyelesaikan acara makan siang ini lalu mencari kepastian tentang apa yang Aurorae katakan tadi.


Aurorae lekas meminta anak-anak bermain di halaman belakang saat makan siang usai. Ia mengatakan akan membicarakan sesuatu yang penting dengan Herjuno agar anak-anak mengerti untuk tidak mengganggu.


"Tentang perkataanmu tadi, ehm.. tinggal di Bandung , boleh aku tanya apa benar?" ucap Herjuno tidak sabar saat mereka berdua baru duduk di sofa ruang tengah.


**

__ADS_1


__ADS_2