Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 71 - Olahraga Bersama


__ADS_3

"Megumi meninggal?" Gumilar terlihat terkejut. Tentu saja , bahkan sampai siang tadi Herjuno pun tidak tahu tentang ini.


Aurorae mengangguk. "Dua tahun lalu, karena sakit. Haidar melewatinya dengan sangat baik. Dia pasti kesepian. Tidak berani menghubungi Mas Juno lebih dulu, juga tidak berani untuk mengadu pada Ayah kandungnya , karena aku dengar Satya sudah menikah lagi beberapa tahun yang lalu."


"Satya?" Gumilar mengernyit seperti menerka-nerka sebuah nama yang baru saja di sebutkan putrinya.


Aurorae mengangguk. "Satya adalah Ayah kandung Haidar. Mantan suami Dira."


Gumilar terperangah. Dunia begitu sempit.


"Tapi dia cukup bertanggung jawab kepada putranya. Menurut cerita Haidar , Satya lah yang membiayai hidupnya sejak keluar dari penjara hingga Haidar lulus kuliah. Satya juga yang memberikan sebuah unit apartemen yang sekarang di tempati Haidar."


"Syukurlah. Jangan khawatir , anak itu tumbuh dengan baik." Gumilar mengusap pelan punggung Aurorae.


Aurorae mengangguk. "Tadi aku mengatakan agar dia sering datang meski hanya sekedar makan bersama. Tidak apa-apa kan?"


"Tentu saja. Di masa lalu, dia adalah korban."


**


Herjuno melajukan mobilnya tidak terlalu kencang, meski jalanan tidak sepadat biasanya karena ini hari minggu, tapi pria itu tidak berniat kebut-kebutan. Ia bersenandung pelan sembari fokus memperhatikan pengguna jalan lain.


Sejak semalam Herjuno sudah sangat bersemangat , tidak sabar ingin pagi segera datang karena ia dan Ryan berjanji akan olahraga bersama.


Disinilah ia sekarang, membelah jalanan di pagi buta bersama dengan putranya.


"Tidak ada yang ingin dibeli dulu?" Herjuno menoleh sekilas ke arah Ryan yang duduk disampingnya.

__ADS_1


Ryan menggeleng. "Sudah lengkap , Yah."


Herjuno mengangguk lalu menoleh sebentar menatap putranya. "Abang, terima kasih.. karena menjaga adik dengan baik. Meski sering kesal dengan adik , tapi abang tidak pernah membuat adik menangis. Terima kasih ya.." ucapnya tulus.


Ryan mengedikkan bahu. " Aku hanya cari aman. Jika aku mengganggunya , Ryana bukan menangis malah jadi semakin menyebalkan."


Herjuno terkekeh. Meski memang kedua anak kembarnya sering berselisih , tapi dia tahu mereka saling menyayangi.


Beberapa hari lalu , Ryana mengadu jika di sekolah tidak ada siswa laki-laki yang berani mendekatinya. Sekali saja ada yang mendekat Ryan akan memberi peringatan dengan alasan adiknya masih sekolah tidak boleh dekat dengan lelaki manapun.


Hari ini Herjuno benar-benar menghabiskan waktu berdua dengan putranya. Ada rasa bahagia yang tidak bisa di tukar dengan apapun saat tadi ia melihat Ryan tersenyum sangat lebar di sepanjang kegiatan mereka.


Basket dan wall climbing. Olahraga yang mereka berdua pilih hari ini.


Ryan bersorak riang saat melepaskan pijakan kakinya membuat tubuhnya bergelantungan.


"Ayah , ajak aku lebih sering lagi ya." anak itu tidak habis-habis membuat Herjuno berjanji untuk mereka menghabiskan lagi waktu berdua lain kali.


"Dua minggu sekali, bagaimana? Jika setiap minggu, Ryana akan merajuk." tawar Herjuno.


"Deal!"


**


Aurorae sedang duduk di sofa ruang keluarga ditemani Dea dan Dira setelah tadi mereka makan siang bersama.


Ryana , ditemani Shasa dikamarnya. Kedua anak itu semakin hari semakin dekat. Apalagi menginjak usia remaja , sudah banyak rahasia yang bisa mereka simpan berdua.

__ADS_1


"Berhentilah kekanakan. Kau bahkan sudah empat puluh empat tahun! Jika ada masalah, bicarakan!" Dea menggerutu menatap tajam Dira yang sejak tadi berceloteh menceritakan masalah rumah tangganya.


Dira menikah lagi beberapa tahun setelah Aurorae pindah ke Surabaya. Ia memiliki seorang anak laki-laki yang sekarang duduk di bangku menengah pertama.


"Benar. Bicara baik-baik, jangan sampai menyesal di kemudian hari." Aurorae menimpali. "Jika kau menghindar, maka suamimu tidak akan tahu apa yang membuatmu terluka. Katakan dengan benar! Apa untungnya menyimpan semua sendiri, hanya kesal sepanjang hari."


"Cih. Seperti kau bisa saja mengungkapkan perasaanmu." Sindir Dira dengan tatapan sinisnya membuat Aurorae mendelik. Kenapa jadi dia.


Dea terkekeh. "Kau juga! Katakan dengan benar maumu, jangan menghindar terus tiap Herjuno memintamu kembali."


Aurorae mencebik. Tapi belum sempat ia bicara , sudah muncul Ryan di pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga.


"Abang, sudah makan?" Aurorae berdiri menerima uluran tangan Ryan.


"Sudah, Bu. Dengan Ayah tadi." jawabnya lalu melangkah menyalami Dea dan Dira.


"Apa kabar Tante?" tanyanya.


"Tante baik. Abang habis pergi dengan Ayah? Kemana?" tanya Dea sambil melirik ransel besar di bahu kanan Ryan.


"Yaampun , kau punya anak bujang seganteng ini. Menantumu nanti minimal harus spek artis." Dira menyahut sebelum sempat Ryan menjawab pertanyaan Dea.


"Olahraga , tante. Di gymnasium dekat stadion." kali ini Ryan menatap Dea , tidak ingin menanggapi celotehan Dira.


"Abang keatas Bu. Tante , permisi." ucapnya lalu berbalik menaiki tangga.


"Balik aja sama Herjuno. Anak-anak pasti senang." ucap Dea memecah keheningan karena sejak tadi ketiga wanita itu hanya menatap punggung Ryan yang akhirnya menghilang di ujung tangga.

__ADS_1


**


__ADS_2