Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 14 - Cluster Delisha


__ADS_3

Megumi mematung. Menatap lurus jauh ke depan. Ia sedang berkunjung ke rumah salah satu sahabatnya. Belum sempat ia keluar dari mobil, sudut matanya tidak sengaja menangkap dua sosok yang dikenalnya. Jauh di depan sana , di ujung tikungan berjarak empat rumah dari kediaman sahabatnya.


“Sepertinya kau memang dilahirkan hanya untuk melukaiku, Mas.” Hatinya terisis lagi.


Mengunjungi sahabatnya dengan niat hati ingin bersenang-senang melupakan rasa sakit yang ditinggalkan suaminya , ia harus menerima kenyataan bahwa kini hatinya terluka dua kali lipat. Oleh orang yang sama.


Di depan sana ia lihat Herjuno dan Aurorae baru saja memasuki sebuah rumah yang sepertinya akan dijual.


“Apa Mas Juno akan membeli rumah itu untuk Aurorae?”


Megumi mendesah. Air matanya tumpah lagi. Dulu setelah menikah dengan Herjuno, mereka tidak lekas mampu membeli sebuah rumah, tinggal menumpang di kediaman orang tua Megumi selama kurang lebih satu tahun. Saat Haidar lahir, barulah mampu membeli rumah yang sekarang mereka tempati.


Pergilah dari sana. Jangan membeli rumah itu. Rumah temanku, ada di cluster yang sama. Kumohon.


Megumi mengirim pesan ke ponsel Herjuno. Berharap suaminya itu memahaminya kali ini saja.


Tok. Tok


Jendela mobilnya di ketuk pelan. Megumi menoleh. Dan segera menurunkan kaca mobilnya.


“Kenapa lama sekali? Ayo masuk.” Temannya, Delisha , menyusulnya karena Megumi tidak kunjung masuk ke dalam rumah.


“Tunggu sebentar. Aku harus menghubungi sekolah Haidar. Masuklah lebih dulu.”


“Baiklah. Jangan lama , yang lain sudah di dalam.” Delisha berlalu masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Megumi yang masih mengawasi mobil suaminya di depan sana.


Tidak lama, ia lihat Herjuno dan Aurorae ke luar , sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil, Herjuno sempat menoleh ke arah mobil Megumi. Menatapnya sebentar lalu masuk ke dalam mobil dan berlalu.


Megumi menepuk dadanya pelan. Menatap langit-langit mobilnya dan menghembuskan napasnya kasar. Mencegah air matanya tumpah lagi.


**


“Mas , rumah yang terakhir aku suka. Tidak terlalu besar, tidak kecil juga. Bagaimana menurutmu?” Aurorae membuka pembicaraan sambil bergelayut mesra di lengan Herjuno yang sedang menyetir.


“Kita cari yang lain saja ya, tidak apa-apa kan?” jawabnya menarik lengannya dan mengusap lembut kepala Aurorae.


“Kenapa? Apa terlalu mahal? Aku punya sedikit tabungan.”


Herjuno terkekeh.


“Maafkan aku, tapi kita tidak bisa membeli rumah itu. Kita cari yang lain saja ya?” tawarnya lagi.


Aurorae mengangguk. Walau belum mengerti apa alasan suaminya menolak.


“Baiklah.”


“Kau kecewa?” Herjuno menoleh.


“Tidak. Yang akan tinggal di sana kan bukan hanya aku, sudah seharusnya kita putuskan bersama.” Aurorae tersenyum sembari menjatuhkan lagi kepalanya di lengan kiri Herjuno.

__ADS_1


“Kenapa istriku bisa berubah jadi semanis ini?”


“Berubah? Sejak dulu aku begini.”


“Tidak. Sebelum kita menikah , kau terlalu berhati-hati. Sikapmu membuatku tidak berani melewati batasku.”


Aurorae terkekeh.


“Benarkah? Aku tidak merasa begitu.”


“Jujurlah, kau takut aku menyentuhmu terlalu jauh bukan?”


Aurorae menoleh.


“Hem.” Mengangguk pelan.


“Kau suami orang lain Mas , aku takut tidak bisa mengendalikan diriku.”


Herjuno menghentikan laju mobilnya. Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal membuat pengemudi lain dibelakangnya mengumpat.


Ia memajukan tubuhnya mendekati Aurorae.


“Sekarang aku suamimu, Rae. Lepaskan kendalimu, aku akan menyukainya. Bahkan walau itu kau lakukan di sini.” Bisiknya pelan di depan wajah Aurorae, lengkap dengan kedipan sebelah matanya.


Aurorae menahan napas. Tercekat. Dia tidak bisa bicara apapun sampai Herjuno kembali ke tempatnya semula.


“Wah.. kau benar-benar perayu wanita Mas.” Ucapnya sambil mengelus dada. “Hampir saja jantungku melompat keluar.” Lanjutnya lagi.


Herjuno terkekeh.


Aurorae menoleh tepat saat Herjuno mengedipkan matanya genit.


“Apa aku akan menikahi seseorang yang tidak aku cintai, Herjuno?”


“Cih. Dasar gadis nakal. Kau pikir aku tidak tahu sudah ada berapa daftar nama yang akan kau jadikan pelarian setelah putus dariku?” Herjuno tertawa pelan. Kembali melajukan mobilnya.


Aurorae terkesiap. Apa ini, Herjuno bahkan tahu jika dia sudah mengingat-ingat beberapa nama yang pernah menyatakan cinta kepadanya , selain Farhan tentunya. Dan menimbang-nimbang siapa saja yang mungkin akan ia terima menjadi kekasihnya.


“Jangan terkejut begitu, aku sudah mengenalmu luar dalam.” Ucap Herjuno lagi memecah apa yang sedang dipikirkan Aurorae.


“Cih.” Aurorae tersenyum.


**


Farhan mengaduk-aduk makanan di hadapannya. Belum satu sendok pun ada yang masuk ke dalam mulutnya.


“Kenapa tidak makan? Masih galau? Patah hati?” Maudy yang sedari tadi memperhatikannya , jengah juga.


“Kau sudah bernyanyi berjam-jam semalam, apa belum cukup?” Farel menimpali.

__ADS_1


“Tenanglah , nanti malam kami akan menemanimu lagi. Bernyanyilah sepuasmu sampai subuh.” Rama tidak mau kalah.


“Benar , malam nanti ke rumah Rama saja , kau bisa bernyanyi sepuasmu.” Tambah Farel lagi.


“Cepat makan, tidak masalah patah hati, tapi nikmati dalam keadaan kenyang. “ Tania mendorong piring mendekat.


Mereka terkekeh pelan , seandainya ini bukan di kantin kantor sudah pasti mereka akan tertawa terbahak-bahak.


“Kalian ini sebenarnya temanku atau bukan?” Farhan mendecih.


“Pak Juno belum masuk kerja hari ini, apa mereka sedang bulan madu?” lanjut nya lagi.


“Astaga... sembunyikan wajahmu itu Han. Jangan membuat kami malu.” Maudy berbisik.


"Memang kenapa wajahku?" Nada suaranya melemah. Khas pria yang sedang patah hati.


"Kau masih bertanya? Wajahmu menyedihkan , seperti melambai-lambai minta dikasihani. Apa kau tidak sadar?" Maudy mulai kesal.


“Benar. Semua orang tahu kau menyukai Aurorae. Rumor kau bertengkar dengan Pak Juno di tangga darurat sudah menyebar kemana-mana.” Farel ikut berbisik.


“Benarkah?” Tania memotong.


“Aku tidak bohong. Kau tahu Dania? Resepsionis yang bahkan tidak pernah meninggalkan mejanya?”


“Kenapa dia?” tanya Maudy.


“Dia bahkan tahu cerita itu. Kalau Dania saja mendengarnya , artinya seluruh kantor ini juga sudah tahu.” Jelas Farel.


“Ah Farel benar. Jadi jangan kau pajang wajah nelangsamu seperti itu, semua orang akan menertawakanmu. Nanti saja, menangis dirumahku.” Rama menimpali. Menyikut lengan Farhan di sampingnya.


“Rae.. semua orang menertawakanku. Apa kau juga?” batin Farhan semakin nelangsa.


**


Megumi memasuki kediaman Delisha dengan mata sembabnya. Selain Delisha , di dalam sana sudah ada beberapa temannya yang lain.


“Ada apa? Kau habis menangis?” Delisha menghampiri.


Megumi menjatuhkan bokongnya di salah satu sofa ruang tamu. Ia mendesah pelan.


“Katakan. Ada masalah di sekolah Haidar?” tanya Delisha lagi, mengingat tadi Megumi mengatakan akan menelepon sekolah Haidar.


Megumi menggeleng.


“Lalu kenapa?” Meta mendekat. Mengusap pelan bahu Megumi.


“Hiks hiks.” Bukannya menjawab, Megumi malah semakin terisak.


“Mas Juno... menikah lagi.” Ucapnya akhirnya.

__ADS_1


**


__ADS_2