Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 22 - Meminta maaf


__ADS_3

Gumilar menatap sendu putrinya yang sedang menyiapkan makanan untuk makan siang. Hari ini dia sengaja berkunjung, ia merindukan Aurorae.


“Ada apa dengan wajahmu? Kau banyak menangis semalam?”


Sejak tadi Gumilar menahannya untuk tidak bertanya, tapi semakin di perhatikan, semakin membuatnya sesak.


Aurorae tersentak, lalu sedikit memaksakan senyumnya.


“Tidak kok. Memang kenapa wajahku?”


Gumilar mendengus pelan.


“Ada apa? Herjuno menyakitimu?”


Aurorae segera menggeleng.


“Rae hanya rindu.” Sadar jika wajahnya terlihat jelas banyak menangis , Aurorae memilih berbohong tentang penyebabnya.


“Rae.. kau tahu kan suamimu memiliki istri lainnya, dia tidak mungkin bisa bersamamu setiap hari, sejak awal kau tahu ini.”


“Rae tahu Ayah.”


“Kuatkan dirimu. Ayah berharap rumah tanggamu baik-baik saja dan kau bisa bahagia bagaimanapun kondisinya , tapi Rae... jika terlalu sulit kau boleh menyudahinya.”


Gumilar menghela napasnya pelan, menatap putrinya iba.


Sedang Aurorae hanya menunduk menahan tangisnya.


“Makanlah, menangis juga butuh tenaga.”


Aurorae tersenyum, lalu mengangguk.


**


Herjuno menatap ponselnya sekilas. Tidak ada kabar apapun dari Aurorae hari ini. Tidak ada pesan , tidak ada panggilan.


Apa aku terlalu keras padanya.


Ah , seharusnya aku lebih sabar menghadapi Aurorae.


Perasaannya masih labil.


Tok tok


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


“Masuk.”


Dilihatnya Farhan memasuki ruangan.


“Ada apa?”


“Ini saya kumpulkan lagi beberapa rekomendasi rumah yang akan di jual Pak. Yang sebelumnya , dari dua puluh unit yang saya rekomendasikan, empat belas diantaranya sudah terjual.”


Farhan meletakkan sebuah berkas di mejanya.


“Enam unit sisanya , sudah saya masukkan juga di berkas yang baru Pak , jadi Bapak tidak perlu mengecek satu persatu lagi dari berkas yang sebelumnya.” Lanjutnya lagi.


Ah Herjuno baru ingat , ia dan Aurorae bahkan belum sempat melihat rumah-rumah itu.

__ADS_1


“Terimakasih Han.”


Farhan mengangguk lalu berbalik dan segera keluar.


Sesampai di mejanya ia mendengus pelan , menjatuhkan bokongnya di kursi dan memijat pelipisnya.


“Dari mana?” Rama bertanya


“Ruangan Pak Juno.”


“Ada apa? Kau dimarahi?”


“Memangnya aku kenapa sampai harus dimarahi?” Farhan menjawab ketus membuat Rama cekikikan.


“Ya kali aja karena kau masih mengejar-ngejar istrinya.” Rama tertawa lagi, pelan.


“Aku tidak gila.” Sungut Farhan semakin kesal.


“Kau memberi lagi rekomendasi rumah yang mau di jual?” Maudy yang sejak tadi mendengar, menimpali.


Farhan mengangguk.


“Sebelumnya aku beri dua puluh, empat belas laku. Ya sudah , aku buat lagi beberapa.”


“Ck. Kau ini. Berhentilah melibatkan diri dalam rumah tangga mereka. Apa tidak sakit?” Rama mulai kesal.


“Memangnya aku mau? Pak Juno memintaku lebih dulu, aku bisa apa.” Terlihat jelas Farhan semakin kesal.


“Coba kalian pikir, bukankah Pak Juno keterlaluan? Memintaku merekomendasikan rumah untuk tempat tinggal mereka , apa dia pikir aku ini robot tidak punya perasaan. Cih.” Lanjutnya lagi.


“Apa dia memintamu memperbarui informasi karena beberapa yang sudah terjual? Dia butuh lebih banyak pilihan?”


Rama dan Maudy berlalu pergi sebelum Farhan menyelesaikan kalimatnya.


“Apa dia bodoh? Dia yang mengundang sendiri penyakit untuk datang.” Maudy menggerutu, sedangkan Rama hanya terkekeh.


**


Sudah empat hari sejak pertengkaran Herjuno dan Aurorae di malam itu yang berakhir dengan Herjuno meninggalkan rumah Aurorae.


Herjuno mendengus kesal. Sudah empat hari dia tidak datang menemui Aurorae, dan selama itu pula Aurorae tidak menghubunginya. Sama sekali tidak mengirim pesan atau melakukan panggilan.


Rae kau benar-benar keras kepala.


Dia mengemudikan mobilnya ke rumah Aurorae. Situasi ini tidak baik jika dibiarkan terlalu lama.


Sesampainya di rumah Aurorae, Herjuno langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Ia memang memiliki kunci cadangan rumah itu.


Dilihatnya Aurorae sedang memasak di dapur. Sama sekali tidak menoleh ke arahnya.


Apa dia tidak dengar suara pintu dibuka. Batin Herjuno.


“Rae.. sedang apa?” Herjuno menghampiri Aurorae.


“Memasak.” Jawabnya tanpa menoleh , tidak juga terkejut menandakan sebenarnya Aurorae mendengar ada seseorang yang membuka pintu.


“Kau tidak dengar aku datang, hem?” tanya Herjuno lembut sambil mengusap pelan rambut Aurorae.


“Dengar.” Ya , dia bahkan mendengar suara mobil Herjuno saat baru datang.

__ADS_1


“Kau tidak senang aku datang? Tidak merindukanku?” Herjuno meraih lengan Aurorae , menghadap ke arahnya.


“Duduklah , aku sedang menyiapkan makan malam.” Jawab Aurorae acuh dengan ekspresi yang tidak terbaca.


Marah


Kecewa


Sedih


Terluka


Tidak tahu. Entah apa yang sedang dirasakan istrinya , tapi terlihat jelas tidak baik.


Mereka makan dalam diam, meski Aurorae tetap melayani dengan baik suaminya di meja makan, tapi hingga makan malam berakhir , ia sama sekali tidak menatap Herjuno. Benar-benar hanya fokus pada makanan.


“Rae.. apa kau marah?” tanya Herjuno saat mereka sudah ada di dalam kamar.


Herjuno yang sedang bersandar di kepala ranjang, menatap Aurorae yang sedang duduk di depan meja rias.


“Tidak.” Jawabnya , masih acuh.


“Kenapa mendiamkanku?”


“Kenapa aku harus bicara?”


Hah. Herjuno mendesah pelan. Serba salah dan bingung sendiri harus bagaimana menghadapi Aurorae. Selama beberapa bulan hubungan mereka , Aurorae tidak pernah begini.


Biasanya dia akan langsung mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.


Suka , dia bilang suka.


Tidak , makan akan bilang tidak.


“Rae.. maafkan aku.” Ucapnya lagi saat Aurorae melangkah mendekat , berbaring di sisi Herjuno.


“Apa kau melakukan kesalahan?”


“Sebenarnya apa maumu Rae , katakan saja. Jangan begini.”


“Begini bagaimana? Memang aku kenapa?”


“Jangan memancing kesabaranku Rae.” Herjuno mulai kesal.


Aurorae berbalik. Duduk tegap dengan mata menatap Herjuno nyalang.


“Kau memancing emosimu sendiri Mas. Memangnya apa yang aku lakukan sejak tadi?”


“Kenapa kau mendiamkanku? Aku kan sudah minta maaf, apalagi?”


“Apa kesalahanmu?”


Herjuno terkesiap.


“Minta maaflah saat tahu dengan jelas apa kesalahanmu Mas!”


Aurorae beranjak.


“Tidurlah , atau pulanglah kepada istri pertamamu. Aku akan tidur di kamar tamu.” Ucapnya sebelum keluar dari sana.

__ADS_1


**


__ADS_2