Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 6 - Kedatangan Farhan


__ADS_3

"Me.. izinkan aku menikahi Aurorae.”


Herjuno menoleh ke arah meja rias tempat istrinya duduk sedang menatapnya.


“Me.. “ panggilnya lagi karena tidak kunjung mendapat reaksi.


Megumi hanya menatapnya tanpa berkedip. Lama. Lalu tanpa disangka-sangka , tertawa sangat keras.


“ Hahahahahahahaha.. “ Megumi tertawa panjang terpingkal-pingkal , sampai ada genangan air di sudut matanya.


“ Ah kau lucu sekali...” katanya setelah puas tertawa. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Herjuno di atas ranjang.


“ Tidurlah.. kau pasti lelah setelah menyetir seharian.” Ucapnya lagi sambil mengusap pelan pipi suaminya. Lantas ia berjalan memutari ranjang , dan merebahkan tubuhnya di sisi yang lain.


“ Me.. aku serius. “ Ucap Herjuno pelan , sambil menatap punggung istrinya.


“ Mas , kumohon.. jangan melukai ku semakin dalam. Aku akan berpura-pura tidak mendengar apapun malam ini. Aku akan melupakannya. Jadi beristirahatlah , pejamkan matamu agar pikiranmu tidak berlari kemana-mana.” Ucap Megumi menahan sesak sambil terus memunggungi suaminya.


Herjuno menghela napasnya. Sedikit menunduk ia usap lembut kepala istrinya , lalu menciumnya pelan.


“Tidurlah..” ucapnya pelan. Setelahnya , dia ikut merebahkan tubuh disamping istrinya.


Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Dia sadari sepenuhnya, jika saat ini pasti Megumi sangat terluka. Tidak mungkin lagi membahas tentang Aurorae di depannya, terlebih tentang pernikahan. Apalagi Aurorae semakin menjaga jarak dengannya. Herjuno mulai takut , takut akan bayang-bayang Aurorae yang mulai meninggalkannya.


**


Pagi-pagi sekali, Aurorae sudah berada didalam mobilnya, ia sengaja pergi lebih pagi menuju kantor cabang sebelas tempat Rakernas tahun ini diadakan untuk menghindari Herjuno. Bukan tidak mungkin, mereka akan berpapasan di koridor atau lobby hotel , atau bahkan pelataran parkir.


“ Haissh kenapa aku jadi selalu repot-repot pergi lebih awal atau masuk paling akhir hanya untuk menghindarinya?” Aurorae memukul stir kemudinya.


“ Tidak apa-apa bukan jika sesekali berpapasan? Lagipula kami rekan kerja. Dan dia juga membawa istrinya kemari. “


“ Ya, tidak apa-apa. Sudahlah , anggap saja empat bulan kemarin kau sedang ketiban sial Rae.. sekarang kau hanya perlu mengacuhkannya. Tidak apa-apa berpapasan sesekali , cukup hindari saja obrolan pribadi.” Aurorae mengepalkan tangan kiri di depan dadanya , untuk menyemangati diri sendiri.


Sepanjang jalan ia hanya bergumam sendiri , berperang melawan hati dan pikirannya.


Jarak tempuh dari hotel ke kantor cabang sebelas hanya sekitar lima belas menit berkendara. Jadi pagi buta begini, Aurorae sudah duduk dengan manis di lobby kantor tersebut.


Dia mengayunkan kedua kakinya bergantian. Suasana kantor masih sepi, masih ada kurang lebih satu jam lagi sampai jam masuk kantor di mulai. Dia merutuki keputusannya sendiri, kenapa harus repot-repot datang sepagi ini, dia bahkan tidak sempat sarapan.


“Ambillah. Kau belum sarapan?” suara seseorang mengagetkannya dan dilihat sedang mengulurkan sebungkus roti isi ke hadapannya.


“Farhan? Sedang apa kau disini? Dan sepagi ini?” bukannya menerima roti dari tangan Farhan , Aurorae malah memekik tidak percaya melihat seseorang didepannya.


“Tentu saja bekerja. Pak Herjuno memintaku menyusul kemarin, katanya butuh presentasi secara langsung dariku atau Mba Dea untuk meyakinkan CEO dan Komisaris agar mau menyetujui rencana promosi kita bulan depan. Karena Mba Dea sudah tidak mungkin bepergian terlalu jauh, seperti yang kau lihat, aku yang ada disini sekarang.” Farhan menjelaskan dengan riang.


“ Tidak , maksudku... Aku tahu kau diminta datang, tapi sepagi ini? Ku kira hanya aku yang terlalu rajin. “ Aurorae memperjelas pertanyaan nya.


“Ah.. saat aku sampai semalam sudah lewat tengah malam. Dan aku belum reservasi hotel sebelumnya, jadi.. “ Farhan cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“ Jadi apa kau tidur disini semalam? Sungguh? “ Aurorae membelalakkan matanya memotong ucapan Farhan.


Farhan mengangguk sambil tetap cengengesan.


“Wah... hahahahahaha” Aurorae tidak dapat menahan tawanya.


“Apa yang lucu? “ Sergah Farhan sebelum Aurorae tersedak karena terlalu panjang tertawa.


“Tidak, hanya saja.. aduh ..” Aurorae tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena tawanya belum benar-benar berhenti. Ia memegangi perutnya yang terasa menggelitik.


“ Cih. Kau menertawakan ku?” Farhan mulai kesal.


“ Siapa suruh kau melawak sepagi ini? Aduh perutku...” Aurorae mengambil jeda sejenak , menuntaskan tawanya.


“ Hei tempat menginap itu hotel , bukan Kantor Pos. Mereka buka dua puluh empat jam. Memangnya kenapa kalau kau datang tengah malam? “ lanjut Aurorae akhirnya.

__ADS_1


“ Aku tahu. “ potong Farhan cepat. Kesal sekali dia melihat wajah temannya ini. Astaga..


“ Hanya saja , aku tidak tahu harus menginap di hotel mana.” Lanjutnya pelan. Sangat pelan hampir tidak terdengar.


“ Alasan macam apa itu Farhan? Astaga kau ini.. buka ponsel pintarmu, disana kau bisa mencari apapun, termasuk hotel terdekat.” Lagi-lagi Aurorae tidak bisa menahan tawanya.


“ Ah, sudahlah. Lebih baik aku keluar sekarang mencari hotel terdekat, agar nanti setelah rapat selesai aku bisa langsung berisitirahat tanpa harus mencari-cari lagi.” Farhan beranjak dari sebelah Aurorae.


“ Kau benar. Rakernas biasanya akan selesai hampir tengah malam . Lebih baik kau temukan kamar hotelmu pagi ini. Bagaimana jika di hotel yang sama denganku? Aku bisa mengantarmu. Ayo..” Aurorae bangkit dari duduknya, meraih roti yang sedari tadi di pegang Farhan dan segera berjalan mendahului temannya itu yang masih terdiam menatapnya.


-“ Andai kau tahu , aku menunda reservasi hotel semalam karena tidak tahu di hotel mana kau menginap.”- Batin Farhan dengan tersenyum tipis. Lalu segera menyusul langkah Aurorae.


“Dengan mobilku saja , aku malas memindahkan barang-barang ku. “ ucap Farhan cepat saat dilihat Aurorae hendak melangkah menuju mobilnya sendiri.


“Oke.” Jawabnya berbalik dan segera masuk di bangku samping pengemudi.


**


“ Bisakah kami meminta di lantai tiga?” Jawab Aurorae cepat saat resepsionis mengatakan ada kamar kosong dengan tipe yang mereka minta di lantai lima.


“ Kenapa? Aku tidak masalah di lantai lima.” Farhan memotong cepat , sebelum sempat resepsionis itu menjawab.


“ Diamlah.” Aurorae menoleh dengan tatapan mengintimidasi.


“ Tolong di lantai tiga.” Sambungnya mengalihkan pandangannya ke arah resepsionis di depannya.


Farhan hanya menggelengkan kepalanya pelan.


“ Maaf Nona , kamar standard di lantai tiga penuh, hanya tersisa president suite.” Resepsionis itu menjelaskan.


“Tidak masalah, kami ambil.” Jawab Aurorae tanpa ragu.


Resepsionis itu mengangguk.


“Hei , apa kau tidak waras? Itu terlalu mahal.” Farhan menjerit panik.


“ Maaf Nona , jika ingin checkin pagi ini dan checkout Rabu pagi, terhitung tiga malam. Karena waktu chekin di hotel kami adalah jam satu siang setiap harinya, sedangkan checkout di jam dua belas siang.” Jelas Resepsionis itu karena saat ini waktu masih menunjukkan jam tujuh pagi.


Farhan semakin membelalakkan matanya. Dia hendak bicara membatalkan reservasinya. Tapi Aurorae lebih dulu bersuara.


“ Baiklah , tidak apa-apa tiga malam.” Jawabnya enteng.


“ Tunggu dulu, aku akan bicara dengan temanku.” Sergah Farhan menatap resepsionis didepannya. Menarik tangan Aurorae untuk sedikit menjauh.


Lalu mengalihkan pandangan ke arah Aurorae.


“Kau gila? Untuk apa aku membuang-buang uang hanya untuk kamar hotel? Aku bahkan mungkin hanya numpang tidur dan mandi. Kau sendiri yang bilang, Rapat kita berlangsung dari pagi hingga hampir tengah malam. Jangan membuatku bangkrut Rae.. aku masih punya dua adik yang harus ku biayai sekolahnya.” Kesal Farhan.


“Ck, baiklah.” Aurorae menatap sebal lalu kembali berjalan menuju meja resepsionis.


“ Wah.. tatapan apa itu tadi? Kenapa jadi kau yang kesal padaku? Hey !” Farhan menggerutu mengekori Aurorae yang berjalan lebih dulu.


“ Bisakah kami reservasi untuk dua malam? Karena pagi ini kami akan pergi rapat, dan mungkin baru selesai malam nanti. Jadi kami akan checkin nanti malam, bagaimana? “ Aurorae bernegosiasi.


“Baiklah Nona , Anda bisa datang nanti malam.” Ucap Resepsionis sambil mengetikkan sesuatu di komputer nya dan menyebutkan sejumlah harga yang harus mereka bayar.


Aurorae mengangguk pelan dan mengucapkan terima kasih setelah menerima tanda pembayarannya.


Tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi ada seseorang yang menatap dengan kesal. Kesal sekali melihat interaksi diantara Farhan dan Aurorae. Siapa lagi jika bukan Herjuno. Dia tidak sengaja melihat gadis yang dicintainya saat akan keluar menuju kantor cabang tempat dia akan rapat pagi ini.


“ Kenapa kalian meributkan harga kamar hotel? Semua biaya yang kalian keluarkan untuk sampai dan selama disini ditanggung perusahaan.” Herjuno tiba-tiba menghampiri kedua staffnya setelah memperhatikan cukup lama.


“ Pak Juno.. maaf saya tidak tahu Anda menginap disini juga.” Farhan yang terkejut segera menguasai diri.


“ Mari kita berangkat, tiga puluh menit lagi rapat akan dimulai. “ Herjuno berbalik, melangkah lebih dulu ke pelataran parkir.

__ADS_1


Di ujung koridor , Megumi menatapnya dengan air yang menggenang di pelupuk matanya. Dia tahu pasti, suaminya sedang cemburu.


**


“ Apa benar semua akomodasi dan pengeluaran kita ditanggung perusahaan?” tanya Farhan saat mereka berdua sudah ada di dalam mobil.


“ Hem.. maaf aku juga lupa kalau semua biaya akan diganti sekembalinya kita ke kantor. Jadi jangan hilangkan semua struk dan nota pembayaranmu.” Jawab Aurorae.


“ Semua struk?” Farhan tidak mengerti.


Aurorae mengangguk.


“Struk makan , struk parkir , biaya tol, bensin, hotel, dan lain-lain. Semuanya. Setelah kembali, kumpulkan itu dan serahkan pada bagian keuangan. Mereka akan mengganti biayanya seratus persen.” Jelas Aurorae


“Wah... hebat. Bahkan biaya makan dan parkir juga akan diganti?” Tanya Farhan tidak percaya.


“ Bahkan jika kau pergi ke spa untuk dipijat ,mereka juga akan menggantinya.” Aurorae menatap heran. Farhan sudah cukup lama bekerja di divisi yang sama dengannya. Tapi kenapa seperti tidak tahu hal-hal seperti ini.


“Benarkah?” Matanya berbinar-binar.


“Kau ini, berapa lama kau bekerja? Kenapa terkejut karena hal yang sudah pasti?” kesal Aurorae.


Farhan hanya menunjukkan cengiran di wajahnya.


“ Hanya saja.. “ Aurorae menggantungkan kalimatnya.


Farhan menoleh cepat.


“Ada apa?” tanyanya, memicingkan mata curiga.


“ Hehehe , kau harus menghadapi interogasi staff keuangan , saat ada pengeluaran mu yang tidak masuk akal.” Kini Aurorae yang menunjukkan cengiran di wajahnya.


“ Pengeluaran yang tidak masuk akal?” tanya Farhan lagi.


“ Hem.. seperti kamar President Suite yang kau pesan tadi.” Aurorae terhelak tidak bisa menahan tawanya.


“ Kau ini... kenapa mendorongku ke dalam masalah?” kesal Farhan.


“ Kenapa kau marah? Berterima kasihlah karena aku ingin kau istirahat dengan nyaman setelah rapat seharian.” Aurorae lagi-lagi menahan tawanya.


“ Haissh kau ini. Lagipula kenapa harus lantai tiga? Aku tidak masalah meski kamar standard hanya tersisa di lantai seribu. Kau ini berdebat seolah-olah tidak ada lift disana.” Farhan masih mengomel dengan kesalnya.


“ Karena kamarku di lantai tiga.” Jawab Aurorae pelan dengan wajah sendunya.


Farhan menoleh cepat.


“ Aku hanya tidak ingin menyusuri koridor sendirian , kalau-kalau kita benar selesai hampir tengah malam. Membayangkannya membuatku takut. Sudahlah, kau ini. Katakan saja hanya kamar itu yang tersisa dan kau tidak ada waktu lagi mencari hotel yang lain karena kedatanganmu yang mendadak. “ Bohong Aurorae. Alasan macam apa itu? Takut berjalan sendiri? Lagipula dia di hotel ,bukan di gedung kosong, apa yang dia takutkan? Bukan itu alasan sebenarnya dia memaksa Farhan mengambil kamar di lantai yang sama dengan kamarnya. Aurorae hanya berjaga-jaga , siapa tau Herjuno juga mengambil kamar di lantai yang sama dengannya. Dia hanya tidak ingin memberi sedikitpun kesempatan untuk mereka berada di tempat yang sama hanya berdua saja. Aurorae terus melamun , tidak memperhatikan perubahan air muka Farhan yang mendadak senang setelah tadi sangat kesal.


Farhan mengerjapkan matanya. Ia kembali fokus mengemudi sambil terus tersenyum tipis.


-Ah... jadi karena kamarnya ada di lantai tiga maka dia memaksaku.- batinnya senang.


Lalu tiba-tiba..


“Hiks.. hiks..” Farhan mendengar Aurorae terisak.


Dia menoleh. Benar, Aurorae menangis pelan.


Farhan menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan. Kantor cabang sudah tinggal beberapa meter didepan.


“ Ada apa?”


Aurorae tidak menjawab. Dia hanya semakin terisak.


“ Rae, ada apa?” tanya Farhan lagi.

__ADS_1


“ Aku... aku mencintainya. Sangat.. “


**


__ADS_2