
Herjuno melangkahkan kaki menuju ruangannya. Sejak memasuki gedung tempat ia bekerja , senyum tidak pernah lepas dari bibirnya. Mengangguk ramah pada setiap orang yang menyapa , dan beberapa kali berhenti sejenak untuk mengucapkan terima kasih pada orang yang memberinya ucapan selamat atas pernikahannya. Herjuno memang mengumumkan pernikahannya dengan Aurorae, mengundang beberapa karyawan yang dulu dekat dengan Aurorae dan juga yang bekerja dibawahnya langsung. Herjuno tidak ingin menutupi status Aurorae, ia ingin memberitahu semua orang , bahwa Aurorae miliknya.
“Cerah bener pengantin baru.” Maudy berbisik, menyenggol pelan lengan Farhan yang sejak tadi menatap Herjuno hingga masuk ke dalam ruangannya.
“Cih.” Farhan mencebik, menatap kesal sahabatnya.
Rama yang memperhatikan keduanya terkekeh.
“Kira-kira semalam mereka berapa ronde?” Rama menyambung lagi, menggoda.
“Kalian ini. Aku sumpahin jomblo seumur hidup.” Umpat Farhan sambil berlalu.
Maudy dan Rama terkekeh menatap Farhan yang berlalu dengan raut wajah kesal. Mereka baru berhenti tertawa saat mendengar suara berat Herjuno.
“Tita , bawakan laporan penjualan bulan ini.” Ucapnya dari depan pintu ruangannya.
“Baik Pak.” Tita membereskan berkas di atas mejanya dan berlalu mengekori Herjuno.
“Pak Juno terlihat lima kali lipat lebih tampan ngga sih?” Dea yang ada di ujung ruangan bersuara.
“Benar, wajah-wajah pengantin baru, cerah bercahaya.” Kekeh Maudy pelan.
Dea mengernyitkan keningnya.
“Pengantin baru? Siapa?”
“Wah , Mba Dea belum tahu? Pak Juno menikah dengan Aurorae dua hari yang lalu.” Jelas Maudy antusias.
Dea mendelik. Setelah cuti melahirkan tiga bulan yang lalu, dia memang baru kembali ke kantor hari ini.
“Aurorae? Aurorae kita?” tanyanya serius.
Maudy mengangguk.
“Wah.. sepertinya aku terlalu lama mengambil cuti.” Tawanya pelan.
“Kau ini sembarangan. Pak Juno itu sudah punya istri, sudah punya anak juga.” Dea tiba-tiba tersadar di sela-sela tawanya. Memukul pelan lengan Maudy.
“Aw.” Maudy menjerit mengusap lengannya.
“Tapi memang benar. Mereka menikah. Lihat.” Jelas Maudy lagi, mengulurkan ponselnya dan memperlihatkan foto-foto pernikahan Herjuno dan Aurorae.
Dea mendelik.
“Apa Pak Juno bercerai? Sebelum aku cuti, aku sempat melihat istrinya datang dan Pak Juno menemuinya di parkiran depan. Lalu Aurorae, bukankah dia menjalin hubungan dengan Farhan? Bahkan saat dia resign aku sempat menggodanya apa berhenti bekerja karena akan menikah dengan Farhan.” Cicitnya tanpa jeda sambil terus menggeser foto-foto pernikahan Herjuno dan Aurorae di ponsel milik Maudy.
__ADS_1
Maudy berdecak.
“Ck. Kau memang terlalu lama mengambil cuti Mba.” Kekehnya sambil mengambil lagi ponselnya dari tangan Dea.
**
Farhan memasukkan satu persatu barang-barang pribadinya ke dalam tas yang ia bawa, seharian ini moodnya sedang tidak baik. Belum sembuh luka di hatinya , sudah semakin menganga lebar melihat Herjuno begitu bahagia seharian ini. Seperti pura-pura tidak tahu, jika ia terluka.
“Cih , menyebalkan.” Gumamnya sembari mendekap tas ranselnya. Bersiap untuk pulang.
“Farhan.”
Farhan mendongak. Di depan sana Herjuno memanggil, menatapnya intens seolah mengatakan kemarilah , aku ingin bicara.
Farhan mendengus kesal. Berjalan pelan menghampiri Herjuno.
“Iya Pak?”
“Kau sudah akan pulang? Masuk sebentar ke ruanganku, aku ingin bicara.”
Farhan mengangguk. Sebelum mengekori Herjuno, ia sempat menoleh kepada teman-teman nya.
Ada Farel yang langsung bereaksi. Mengedikkan kedua bahunya sambil bertanya ‘ada apa?’ tanpa suara.
Farhan menggeleng. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa Herjuno memanggilnya.
“Yang kemarin tidak ada yang cocok Pak?” tanyanya heran.
“Hem, tolong ya.. besok bisa?” Herjuno memastikan.
“Baik Pak, besok akan saya serahkan beberapa data rumah yang sesuai kriteria Bapak.”
“Terima kasih. Aku tunggu.”
Farhan mengangguk.
“Saya permisi.” Ucapnya berbalik.
“Han..”
Farhan menoleh lagi.
“Maafkan aku. Maafkan Aurorae. Maafkan kami.”
Farhan hanya diam. Memandang dengan tatapan entah, tidak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
“Terima kasih telah menjaga Aurorae selama ini. Dan maafkan kami jika menyakitimu.” Lanjut Herjuno lagi.
Farhan lagi-lagi hanya mengangguk, lalu berbalik keluar ruangan.
**
Sesuai rencana, sore ini Herjuno pulang ke rumahnya sendiri. Sudah tiga hari tidak bertemu dengan Haidar, hatinya rindu.
“Bi dimana Haidar?” Herjuno bertanya setelah tadi mengucapkan salam dan Bi Lilis yang menjawab.
“Di taman belakang Pak , dengan Zhafran.”
“Ibu?” tanyanya lagi sambil berlalu melewati Bi Lilis di ruang tengah.
“Ibu belum pulang Pak.”
Herjuno mengernyit, menghentikan langkahnya dan menoleh.
“Ibu pergi keluar? Sejak jam berapa?”
Bi Lilis mengangguk.
“Sejak pagi tadi Pak setelah Haidar pergi ke sekolah.”
“Baiklah. Tolong buatkan saya kopi.”
Herjuno berlalu , menghampiri putranya yang sedang memberi makan ikan koi peliharaan nya.
“Papa!” Haidar berteriak riang saat melihat Herjuno di ambang pintu, berlari menghampiri.
“Papa kenapa lama sekali bekerjanya? Haidar setiap hari bobo dengan Abang Zhafran.” Celotehnya sembari melingkarkan kedua tangannya di leher sang Ayah.
“Haidar rindu papa tidak?”
“Rindu.” Jawabnya sambil mencium pipi kiri dan pipi kanan Herjuno. Membuat Herjuno terkekeh, lalu masuk ke dalam rumah dengan menggendong Haidar , dan Zhafran yang mengekori mereka.
“Papa , ayo kita makan hamburger.”
“Haidar ingin burger?”
“Iya. Dengan Abang Zhafran juga.”
Mendengar namanya di sebut-sebut, Zhafran tersenyum girang, sudah lama ia ingin sekali mencicipi makanan yang bernama hamburger itu.
“Baiklah. Papa telepon mama dulu, nanti kita pergi dengan mama juga.” Jawabnya sambil menurunkan Haidar dari gendongannya.
__ADS_1
“Dengan Om Satya juga?” tanya Haidar polos.
**