
Herjuno mendongak, lalu menunduk kembali. Sejenak ia menimbang-nimbang apa perlu menceritakan semua pada Ayah mertuanya. Dia pikir, tidak baik jika permasalahan dalam rumah tangganya diketahui oleh Gumilar, ia tak ingin Ayah mertuanya itu khawatir. Tapi mengingat situasi mereka sekarang, mau tidak mau Herjuno harus menceritakan semuanya.
Dimulai dengan Megumi yang terluka di tangan dan kakinya , mengatakan jika ia di dorong oleh Aurorae hingga terjatuh dari tangga, sampai bagaimana ia marah dan berujung memburuknya hubungannya dengan Aurorae. Ia ceritakan semua tanpa ada yg di tutup-tutupi.
Gumilar mendesah pelan.
“Juno.. saat kau memutuskan menikah lagi, istrimu sudah dengan lapang dada memberi izin. Begitupun dengan Aurorae, menerimamu dengan bayang-bayang luka yang akan dia rasakan.”
Herjuno mendongak lagi, belum mengerti kemana arah pembicaraan Gumilar.
“Itu saja sudah membuat mereka berdua sangat menderita. Apa lagi? Jangan serakah , menuntut mereka untuk akur dan berhubungan baik seperti tidak ada yang terjadi bukankah itu berlebihan?”
Herjuno mengangguk. Dalam hatinya membenarkan.
“Bersikaplah lebih bijaksana , kau yang memutuskan memiliki dua istri, tidak ada yang memaksamu. Maka berusahalah sebaik mungkin jangan sampai tanpa sengaja menyakiti salah satunya.”
“Ayah bukan ingin membela Rae karena Ayahpun tidak tahu, Ayah tidak ada disana. Begitupun dirimu. Yang mengetahui dengan pasti apa yang terjadi , adalah kedua istrimu. Mereka berdua sama-sama berhak memberi pernyataan maupun pembelaan. Jika penjelasan keduanya berbeda , berarti salah satunya berbohong. Itu tugasmu untuk mencari tahu. Selama belum ada yang terbukti berbohong kau harus mempercayai keduanya.”
Herjuno terdiam. Benar juga apa yang dikatakan Gumilar. Ia percaya begitu saja dengan cerita Megumi, kenapa tidak bisa percaya dengan kata-kata Aurorae. Dia bahkan tidak memberi kesempatan Aurorae untuk membela dirinya.
**
Aurorae mengerjap mengedip-ngedipkan matanya sejenak. Setelah kesadarannya kembali sepenuhnya, ia mendengus malas.
“Sedang apa kau disini Mas?” tanyanya sambil berbalik, memunggungi Herjuno yang entah sejak kapan berbaring disisinya.
“Kenapa berbalik? Tidak rindu?” bukannya menjawab , Herjuno malah bertanya balik.
Hening. Aurorae sama sekali tidak menjawab. Herjuno mengelus sayang rambut istrinya, membiarkannya tidur lebih lama. Hingga terdengar tangis yang jelas ditahan sekuat tenaga oleh istrinya.
Herjuno mendesah. Menarik napas dalam-dalam, beringsut mendekat untuk semakin mendekap Aurorae.
“Maafkan aku karena tidak mempercayaimu, tidak memberimu kesempatan untuk membela diri. Maafkan aku.” Peluknya semakin erat seiring tangis Aurorae yang semakin kuat.
“A.. aku ti.. tidak mendorongnya.” Jawab Aurorae, terbata-bata karena isak tangisnya.
Herjuno mengangguk seolah Aurorae bisa melihatnya.
“Baiklah.. Mari kita lupakan soal itu , hem?”
“Mas..” Aurorae mengambil jeda sejenak. “Aku membencinya.”
Herjuno berdebar , ia sadar rumah tangganya dalam masalah besar.
“Tidak bisakah kau hanya menjadi milikku?”
__ADS_1
“Rae.. kau tahu...”
“Aku tahu , dia istri pertamamu. Aku berusaha menerimanya. Tapi dia tidak menerimaku. Di supermarket dan di teras rumah , dia menunjukkan betapa sangat membenciku. Kini sebesar itu pula aku membencinya.” Aurorae menangis lagi.
Apa ini. Tidak hanya tentang yang terjadi di teras rumah, kejadian di supermarket pun Aurorae tidak mengakui kesalahannya.
Aurorae terus terisak. Dia bahkan memukul-mukul pelan dada suaminya.
“Aku membencinya Mas.. sangat membencinya.” Berkali-kali Aurorae mengatakan itu, betapa ia membenci Megumi.
“Tenangkan dirimu Rae.. aku disini.” Herjuno memeluk erat Aurorae, mengusap lembut punggungnya.
Terus seperti itu, hingga Aurorae kembali tertidur.
**
Megumi mematut dirinya di depan cermin. Tersenyum menatap wajahnya yang cantik dengan tubuh semampai. Sebuah dress dengan tali spaghetti dan panjang hingga mata kaki membuat penampilannya sempurna, elegan dan seksi sekaligus.
Ia biarkan rambutnya terurai panjang. Dengan riasan tipis di wajah sungguh terlihat sangat cantik.
Megumi terlalu cantik sebagai seorang Ibu satu anak. Yang tidak mengenalnya , pasti akan mengira wanita itu seorang lajang yang belum memiliki keturunan.
Ia menoleh menatap jam dinding di sudut kamarnya.
Ia beranjak. Keluar dari kamar menuju meja makan. Bertanya apakah makan malam sudah siap , mempersilahkan Bi Lilis dan kedua anaknya untuk makan lebih dulu. Sembari ia sendiri menyuapi Haidar.
Hatinya sedang membuncah bahagia. Sejak semalam ia tidak berhenti tersenyum, Megumi yakin hanya tinggal menunggu waktu sampai akhirnya Herjuno bercerai dengan Aurorae.
Sembari menunggu waktu itu tiba , ia akan membantu membuat jarak diantara Aurorae dan suaminya semakin menjauh.
Sesaat setelah selesai menyuapi Haidar, ia meraih ponselnya.
“Mas , kenapa belum pulang? Sudah hampir jam setengah delapan malam?” tanyanya sesaat panggilannya diangkat.
“Me , tidak perlu menungguku. Hari ini aku akan nenginap di rumah Aurorae.”
Megumi meremas dressnya di bagian paha, lalu mendengus pelan.
“Kenapa tidak bilang? Aku bahkan tidak makan malam bersama Haidar karena menunggumu.” Jawabnya lirih.
“Maafkan aku. Makanlah , setelah itu jangan tidur terlalu malam, hem?”
“Baiklah.”
Megumi mencengkeram kuat ponselnya. Menatap dress panjang yang ia kenakan.
__ADS_1
Menahan diri untuk tidak berteriak.
Sia-sia saja aku berdandan.
**
“Apa Megumi menelepon?” tanya Aurorae yang entah sejak kapan ada di sana.
Herjuno menoleh. Lalu mengangguk.
Aurorae meletakkan segelas kopi di meja teras.
“Mas.. Apa sebaiknya kita...”
“Rae... beri aku waktu.” Herjuno menggenggam tangan kiri Aurorae.
Aurorae mengerjap.
“Beri aku waktu untuk memperbaiki semuanya. Maafkan aku , jika menempatkanmu dalam situasi yang tidak nyaman. Maafkan aku belum bisa membahagiakanmu. Tapi Rae , tolong jangan pernah berpikir untuk berpisah. Aku... tidak akan sanggup.”
Aurorae tidak tahu harus menjawab bagaimana.
“Mulai sekarang, katakan segala yang terjadi kepadaku. Jangan menutupi apapun , agar aku tahu harus bagaimana. Hem?”
Aurorae mengangguk.
Herjuno menariknya ke dalam pelukannya.
“Apa saat di teras , tidak ada kontak fisik di antara kalian?” Herjuno bertanya dengan hati-hati, masih memeluk erat istrinya.
“Jika aku beritahu , apa kau akan percaya Mas?”
Herjuno melerai pelukannya , Menggenggam erat tangan Aurorae dan membawanya duduk di kursi.
“Katakan semuanya , kau sudah berjanji tidak akan menyembunyikan apapun bukan?”
Aurorae mengangguk.
“Kami bahkan tidak bersalaman. Aku juga tidak melihatnya keluar dari halaman karena langsung masuk ke dalam.”
Aurorae mengeratkan rahangnya. Terlihat jelas dia menahan amarah yang bisa meledak tiba-tiba.
Menyadari itu Herjuno mengalah, tidak lagi bertanya. Hanya semakin mengeratkan genggaman tangannya.
**
__ADS_1