Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 59 - Mana Boleh


__ADS_3

Tiga minggu sudah berlalu sejak pengadilan meresmikan perceraiannya dengan Aurorae. Dan hari ini Herjuno kembali mendatangi pengadilan untuk sidang putusan perceraiannya dengan Megumi.


Seperti harapannya , persidangan berlangsung singkat.


Dalam waktu tiga minggu, ia resmi bercerai dengan kedua istrinya.


"Mas!" Megumi mengejar Herjuno dengan isak tangis saat sidang selesai.


"Jangan lagi menyapaku , ku mohon Me. Mari bersikap seperti orang asing."


"Mas , setidaknya temui Haidar." rengek Megumi.


"Tidak. Ini hukumanku karena menelantarkan Ryan dan Ryana. Dan hukumanmu , karena menyakiti putra dan putri kandungku."


"Mas , Haidar tidak mengerti apapun , ku moh--"


"Bagaimana dengan anak-anakku? Apa yang mereka mengerti, hah?" Herjuno sudah menaikkan nada bicaranya.


"Pergilah. Aku harap kita tidak akan bertemu lagi."


Kalimat terakhir Herjuno sebelum berlalu itu membuat isak Megumi semakin kencang.


Apa yang bisa dia lakukan sekarang, sudah berminggu-minggu Haidar selalu menanyakan Ayahnya tapi Megumi tidak bisa menjawab apapun.


**


Herjuno memasuki ruang kerjanya dengan kepala menunduk tidak menyapa siapapun. Kemeja putih yang ia gulung hingga siku, dan rambut yang sudah sedikit panjang berantakan itu menandakan bagaimana kondisinya akhir-akhir ini.


Tita menghela napas pelan. "Pak Juno pasti stress sekali."


"Cih. Itu bahkan tidak setimpal." Dea menggerutu.

__ADS_1


Beberapa minggu lalu setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, Herjuno langsung meminta maaf kepada Dea dan juga Farhan. Ia bahkan berlutut di kaki keduanya , disaksikan semua orang yang juga menyaksikan bagaimana Herjuno tiba-tiba meninju Farhan dulu.


Herjuno meminta Dea memberitahukan dimana Aurorae sekarang. Tapi wanita itu bergeming.


Aku tahu. Tapi tidak sedikitpun ingin memberitahu Anda.


Jawab Dea kala itu.


Farhan juga mengatakan tidak tahu dimana Aurorae. Bukan pria itu berpura-pura, tapi ia memang tidak tahu dimana mantan istri managernya itu.


Pak Gumilar memang memberikan lagi wewenang kepadanya untuk menjual rumah mereka , tapi sama sekali tidak memberitahu kemana Aurorae pindah membawa anak-anaknya.


"Aku tidak menyangka istri Pak Juno se nekat itu. Membayangkannya saja membuatku takut." Maudy kali ini menyahut.


Farel mengangguk. "Padahal sangat cantik."


**


Megumi tengah termenung seorang diri di halaman belakang saat terdengar langkah kaki yang mendekat. Ia tidak punya keinginan untuk menoleh , bahkan ketika langkah itu berhenti tepat dibelakangnya dan lama tidak bersuara apapun , Megumi tetap bergeming.


"Hatiku hancur sekali." Lirih Megumi pelan.


Satya menggeram kesal. "Bagaimana denganku? hatiku sudah hancur sejak lama , sebentar lagi hidupku pun akan hancur."


Megumi mengangkat kakinya keatas kursi , dan memeluk lututn dengan kedua lengannya sendiri. Ia terisak.


"Kenapa Mas Juno meninggalkanku? Aku sangat mencin--"


"Apa kau akan begini terus? Setelah mendorongku pada masalah , hah?" potong Satya cepat.


Peduli setan dengan perasaan Megumi, Satya sudah teramat muak.

__ADS_1


Megumi mengangkat wajahnya. Melirik pria itu sinis. "Berhentilah bersikap seolah-olah hanya kau yang akan hancur , hidupku juga kacau!"


"Itu karena kecerobohanmu sendiri!" Satya mendengus. Ia menarik napas sejenak. "Aku menyesal pernah sangat mencintaimu hingga jadi sebodoh ini!" lirihnya.


Satya beranjak. Melangkah cepat menuju pintu depan rumah Megumi.


Megumi menatap pria itu sampai hilang dibalik pintu. Ia menyugar rambutnya kasar. Melangkah cepat menuju dapur , dan meneguk sebotol penuh air mineral.


Hidupnya benar-benar kacau sekarang.


Herjuno menceraikannya, apapun yang ia lakukan tidak sedikitpun membuat Herjuno mempertimbangkan untuk mempertahankan rumah tangga mereka.


Dan kini , ia harus berhadapan dengan hukum karena persoalan tes DNA palsu yang di temukan di tas milik Aurorae.


Gumilar , benar-benar tidak melepaskannya.


Tuntutan empat tahun penjara untuknya dan Satya , sedang wanita yang ia bayar agar berpura-pura menjadi perawat rumah sakit itu dituntut dua setengah tahun.


Megumi melempar botol air mineral tadi, dilanjutkan dengan barang-barang dapur yang ada dalam jangkauannya.


Satu set sendok garpu.


Sekotak tissue.


Dan toples-toples bumbu yang berjejer rapi, tidak luput dari amukannya.


Dia berteriak seolah sedang menyalurkan kemarahannya.


"Aurorae, Aurorae, Aurorae!" Megumi terduduk di lantai.


Ia memeluk kedua lututnya , membenamkan wajahnya disana.

__ADS_1


Mana boleh menjadi seberuntung itu. Lirihnya.


**


__ADS_2