
Herjuno kembali menyesap bibir Aurorae. Ia mencoba perlahan, terus merangsang titik-titik sensitif istrinya agar Aurorae mulai melepaskan ketegangannya. Sebagai laki-laki berpengalaman tentu Herjuno tahu bahwa wanita butuh melakukannya dengan rileks agar tidak terlalu kesakitan.
Ia beralih menyesapi leher jenjang Aurorae, meninggalkan jejak basah kemerahan membuat Aurorae melayang.
“Ah Mas..” mengacak-acak rambut suaminya.
Tanpa dia sadari, Herjuno telah meloloskan pakaian dalamnya.
Aurorae semakin tak karuan saat Herjuno meluumati kedua buah dadanya bergantian, dengan tangan kanan yang mulai meraba bagian intinya.
Herjuno pun sudah tidak sabar, tapi dia menahan dirinya. Melakukannya perlahan, agar tidak menyakiti istrinya.
“Uh Mas..” Aurorae semakin membusungkan dadanya , seakan memerintah Herjuno untuk semakin dalam menyesapnya. Dia menjambak rambut suaminya dan menekan kuat untuk semakin dalam tenggelam kedalam buah dadanya saat Herjuno menggesek maju mundur bagian intinya dibawah sana.
Aurorae sudah tidak tahan lagi, tanpa sadar ia membuka pahanya lebar-lebar membuat naluri kelelakian Herjuno mengerti.
Aurorae mendelik. Tubuhnya mendadak menegang kembali saat dirasakan sesuatu memaksa masuk ke dalam intinya.
“Mas..” Dia menggeleng. Raut wajah cemas dan ketakutan membuatnya tanpa sadar mencengkeram bahu suaminya.
“Akan sakit sedikit sayang, aku akan perlahan.” Sudah kepalang tanggung, Ia tak mungkin menariknya kembali keluar.
“Tapi Mas , perih.”
Herjuno tidak menjawab , ia hanya menatap istrinya dengan mata berkabut. Birahinya sudah dipuncak. Ia menggoyang pelan pinggulnya, dengan peniis yang sudah masuk sepertiganya. Membuat Aurorae kembali mendesah. Herjuno kembali menyesap bibirnya dan tangan kanan memainkan puncak dada Aurorae.
“Ah Mas...”Aurorae memejamkan matanya , dan tanpa sadar melonggarkan cengkeraman tangannya di bahu Herjuno.
Saat itulah..
Bleeesss..
Herjuno kembali melesakkan peniisnya ke dalam sana. Hingga berhasil masuk seluruhnya.
“Aw.. “ Aurorae meringis.
“Mas , sakit sekali.” Buliran air mata meleleh di pipinya.
“Diam saja sebentar ya , nanti tidak sakit lagi.” Ucapnya sambil mengusap pelan air mata Aurorae.
“Kau cantik sekali.” Lanjutnya lagi. Ia sengaja tidak membuat gerakan di bawah sana, memberi kesempatan Aurorae beradaptasi.
“Benarkah?” Aurorae tersipu.
“Kau tahu, sudah lama aku menyukaimu.”
Pernyataan yang mengejutkan.
“Sejak kapan?”
“Sejak makan malam saat menyambut Maudy di tim kita.”
Aurorae terkejut. Itu terjadi hampir dua tahun lalu, saat dia sendiripun masih baru beberapa bulan bekerja di perusahaan itu.
__ADS_1
“Benarkah?”
“Hem, saat itu kau cantik sekali dengan midi dress warna perak dan rambut yang diikat tinggi.” Jawabnya sambil perlahan menggoyangkan penisnya dibawah sana tanpa disadari Aurorae.
“Ah Mas...” Aurorae mulai menikmati, mendekap erat tubuh Herjuno diatasnya.
“Goyanggkan pingguulmu sayang.”
Aurorae menurut. Menggoyangkan pinggulnya perlahan membuat Herjuno semakin tak tahan. Ia kembali menyesap buah dada Aurorae, dan itu berhasil membuat Aurorae melayang, semakin cepat menggoyangkan pinggulnya.
“Ah kau tahu sayang.. sudah lama aku memimpikan ini di dalam tidurku.” Herjuno meracau sambil terus menggerakkan pinggulnya maju mundur , semakin cepat semakin Aurorae mendesah.
“Mas , ah mas , ah..” terdengar sangat seksi di telinga Herjuno.
Tanpa diduga , Aurorae meraih kepala Herjuno dan ******* bibirnya , matanya terpejam menikmati sensasi yang baru pertama dirasakannya. Tidak lama dia menjerit , dan mencengkeram kencang bahu suaminya. Orgasme pertama dalam hidupnya.
Herjuno tersenyum ,menikmati wajah seksi istrinya yang telah mencapai puncak. Ia mempercepat gerakannya, Dengan erangan keras menyemburkan benih ke dalam rahim istrinya.
“Ah, aku mencintaimu Rae.”
**
Sinar matahari pagi memaksa Aurorae membuka matanya enggan. Ia mengerjapkan matanya pelan. Samar-samar menangkap sosok suaminya yang duduk di tepi ranjang memandangnya.
Aurorae tersipu, mengingat kembali apa yang terjadi malam tadi. Dengan malu-malu ia membuang pandangannya ke sembarang arah.
“Mas, maaf aku kesiangan.”
Herjuno tersenyum gemas melihat istrinya yang salah tingkah.
Aurorae mengangguk malu-malu menatap suaminya. Kemudian menyembunyikan separuh wajahnya di balik selimut tebal.
“Apa?” Herjuno keheranan.
“Aku akan keluar nanti. Mas keluarlah lebih dulu.”
“Kenapa?”
“Aku.. malu.” Jawabnya lirih.
Herjuno mengerti. Saat ini Aurorae tidak mengenakan apapun dibalik selimutnya.
“Baiklah. Aku tunggu di luar.”
**
Tiga puluh menit Herjuno menunggu, akhirnya Aurorae keluar dari kamar mereka. Mengenakan midi dress warna gading dan rambut yang tergerai belum sepenuhnya kering, membuatnya terlihat sangat cantik.
“Masih pagi kenapa sudah cantik sekali? Mau kemana?”
Aurorae tersipu. Setelah menikah, ia merasa Herjuno sedikit berlebihan.
“Mas jangan membuatku malu.”
__ADS_1
“Aku serius. Kau cantik sekali. Kemarilah, kita sarapan.”
Herjuno menepuk kursi di sebelah kanannya.
“Mas memasak?” tanyanya setelah ia lihat dua piring nasi goreng lengkap dengan telur ceplok dan kerupuk.
“Hem.”
“Aku tidak tahu Mas bisa memasak.” Ucapnya sambil mencicipi sesuap masakan suaminya.
“Ini enak sekali.” Lanjutnya dengan mata yang berbinar. Tak percaya bahwa suaminya benar-benar bisa memasak.
“Kita masih punya banyak waktu untuk lebih saling mengenal.” Herjuno tersenyum.
“Maafkan aku, seharusnya aku yang memasak hari ini.”
“Tidak apa-apa, aku tahu kau lelah. Habiskan sarapannya, setelah itu mari kita bicara.”
“Ada apa Mas?”
“Makanlah dulu.”
**
“Rae.. apa Ayah belum menelpon?” Herjuno membuka percakapan setelah mereka menyelesaikan sarapan dan kini tengah duduk berdua di teras belakang.
“Tidak. Hanya mengirim pesan tadi pagi, menanyakan kabar kita dan apakah kita butuh sesuatu.”
“Apa Ayah tidak bertanya tentang rumah ini?”
“Tidak. Memang kenapa?”
“Rae , maafkan aku. Seharusnya setelah kita menikah , aku membawamu tinggal di rumah kita sendiri. Semuanya sangat tiba-tiba, aku bahkan tidak berpikir untuk segera membeli sebuah rumah sebelum kita menikah. Jadi sekarang kita malah harus menumpang di rumah Ayah.” Sesal Herjuno mengingat kembali kemarin selesai acara saat Gumilar bertanya mereka akan kemana dan Herjuno baru menyadari bahwa mereka tidak ada tempat tujuan. Sehingga Gumilar memerintahkan seseorang untuk melepas spanduk dijual dan membersihkan rumah.
“Tidak apa-apa Mas , Ayah tidak mempermasalahkan itu. Lagi pula menjual rumah ini hanyak karena kami ingin menghindarimu saat itu. Syukurlah belum terjual.” Aurorae tersenyum.
Herjuno menatap Aurorae intens. Menyentuh ujung pipinya yang memerah.
“Bersiaplah. Ayo kita datangi beberapa rumah yang di rekomendasikan Farhan.”
“Farhan?”
“Kenapa terkejut?”
“Tidak.”
“Sepertinya dia benar-benar mencintaimu. Awas saja jika masih berani mendekati istriku, akan ku hajar.” Kekehnya pelan.
“Kenapa buru-buru Mas? Apa tidak lelah? Kita masih punya banyak waktu untuk mencari rumah baru.”
“Bersiaplah , Rae.. jika terus dirumah seperti ini, aku tidak dapat mengendalikan diriku.” Bisiknya pelan di telinga istrinya, hampir tidak terdengar. Membuat Aurorae bergidik.
“Mas ini ! Mesum.” Teriaknya sambil berlalu setelah memukul pelan dada suaminya.
__ADS_1
Herjuno tertawa menatap istrinya yang setengah berlari menaiki tangga.
**