
Aurorae sampai di kota Surabaya. Memasuki sebuah rumah minimalis yang baru dibeli oleh Gumilar beberapa hari yang lalu.
Ia menatap sekeliling, di lantai satu hanya ada satu kamar , ruang tamu , ruang keluarga berukuran kecil, dapur yang menyatu dengan sebuah minibar untuk meja makan, dan sebuah kamar mandi kecil di samping dapur.
Aurorae berjalan ke belakang. Ada sebuah halaman kecil tertutup untuk bersantai.
"Bi , ayo antar anak-anak ke kamar. Setelah itu Bibi istirahat saja dulu. Tidak perlu memasak , nanti kita pesan antar saja."
Bi Izza mengangguk lalu mengekori Aurorae menaiki tangga.
Di lantai atas , ada empat buah kamar yang berhadapan, di tengah-tengahnya ada space cukup luas yang diisi satu set sofa dan televisi.
Rumah ini sudah siap untuk ditinggali, beberapa hari lalu Gumilar meminta seseorang untuk mengurus semua yang diperlukan, termasuk memindahkan barang-barang pribadi milik Aurorae dan anak-anaknya.
Setelah meletakkan anak-anak yang tertidur dan Bi Izza kembali ke kamarnya di lantai bawah , Aurorae memasuki kamarnya sendiri. Merebahkan tubuhnya diatas ranjang, lalu menatap langit-langit kamar.
Ia menghela napas pelan. Sedih? tentu saja. Kecewa? apalagi. Tapi hatinya sudah tidak sesak lagi, pindah ke kota Surabaya adalah pilihan tepat.
Ia sengaja tidak kembali ke Garut, karena tidak ingin Herjuno menemukannya disana. Pria itu pasti akan menyesali keputusannya saat nanti mengetahui kebenaran dibalik tes DNA putra putrinya.
Dan Aurorae, tidak ingin melemah lagi. Jadi tidak bertemu lagi dengan Herjuno, adalah keputusan yang benar.
Pikirannya menerawang lagi. Megumi, wanita itu benar-benar mengerikan. Dia tidak akan menyerah begitu saja sebelum Herjuno dan Aurorae berpisah. Dulu , Megumi hanya bisa memfitnahnya dengan hal remeh. Aurorae tiba-tiba teringat saat Herjuno memarahinya karena mendorong Megumi dari tangga.
Saat itu, harusnya Aurorae menyadari betapa Megumi adalah wanita mengerikan.
Kali ini Megumi memfitnah anak-anak, memalsukan dokumen seperti itu adalah tindakan kriminal , dan Megumi bersedia melakukannya.
Jika Aurorae tidak menyerah juga, entah apa yang akan ia lakukan pada Ryan dan Ryana di masa depan.
Aurorae menggeleng kuat. Ya , menjauh dari Herjuno dan Megumi adalah keputusan benar, demi anak-anak. Meskipun Herjuno adalah Ayah kandung mereka.
__ADS_1
**
Herjuno menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Ia menutup kedua matanya dengan sebelah lengan. Pikirannya kacau , entah perasaan apa yang sedang menguasainya saat ini.
"Jangan menggangguku, aku lelah." ucapnya saat terdengar suara langkah kaki mendekat.
Megumi acuh. Ia tetap mendekat, lalu duduk di sisi ranjang. "Setidaknya kau harus makan malam, Mas."
Herjuno memang tadi berpesan pada Bi Lilis agar tidak memanggilnya untuk makan malam, beralasan lelah dan sudah makan.
"Tidak. Kau makanlah, temani Haidar."
"Mas , tapi--"
"Keluarlah , Me. Aku lelah."
"Aku tahu kau stress belakangan ini. Tapi kau harus menjaga dirimu." Megumi mengusap lembut kepala Herjuno.
Herjuno diam saja. Tidak ingin menanggapi.
"Tidak ada. Wanita itu tidak datang."
Megumi menahan senyumnya agar tidak memekik riang. Bagaimanapun tidak boleh terlihat jelas jika ia senang.
"Bertahanlah sedikit lagi, Mas. Jika Aurorae tidak datang, persidanganmu tidak akan lama. Kalian akan segera bercerai."
Herjuno hanya bergumam pelan tanpa menyingkirkan lengannya yang menutup kedua mata.
"Setelah ini, ayo kita hidup bahagia bertiga dengan Haidar. Lupakan wanita itu , Mas. Aku janji akan berubah. Aku akan lebih sering dirumah dan mengurangi kegiatanku dengan teman-teman."
Herjuno bergeming , hanya tersenyum samar membuat Megumi tidak puas.
__ADS_1
"Pulanglah ke rumah jika pekerjaanmu sudah selesai. Belakangan kau tidur dimana? Bahkan sejak menggugat cerai Aurorae kau sering tidak pulang." Wanita ini benar-benar tidak bisa membaca situasi. Rasa penasaran mengalahkan segalanya.
"Me , keluarlah. Aku sangat lelah." Sejujurnya mendengar ocehan Megumi membuat kepalanya pening.
Megumi mengernyit. Dia tidak ingin kecolongan lagi.
"Kau tidur dimana, Mas? Tidak mungkin kan kau masih tidur dirumah Aurorae?"
Herjuno mendengus sebal. "Hotel." ia membalik tubuhnya memunggungi Megumi.
Megumi semakin tidak puas. "Hotel? Kau tidur di hotel? Kenapa?"
"Me , keluarlah. Aku mohon." Kali ini suaranya meninggi.
"Mas. Kau tidak sedang punya perempuan lain lagi kan? Apa setelah bercerai dengan Aurorae kau akan menikah dengan perempuan lain lagi?"
Herjuno tetap diam , hanya menghela napasnya pelan.
"Mas , jawab! Apa kau pikir aku bodoh? Kau tidur di hotel? Yang benar saja! Buat apa tidur di hotel? Itu alasan paling tidak masuk akal. Mas, jawab!" Megumi mengguncang kasar sebelah lengan Herjuno.
Pria itu terduduk kasar. Matanya nyalang menatap Megumi.
"Aku memang tidur di hotel. Apanya yang aneh?"
"Tentu saja aneh. Kau punya rumah , tidak masuk akal tinggal di hotel berminggu-minggu!" Megumi tidak gentar , ia tidak ingin kecolongan lagi.
"Siapa Mas? Siapa lagi kali ini?" Megumi sudah akan menangis , tenggorokannya seperti kering tercekat. Ia berdiri dari duduknya sambil berkacak pinggang.
"Dengar , aku hanya akan bicara satu kali. Aku memang tidur di hotel. Fakta bahwa si kembar bukan darah dagingku membuatku hancur , perceraianku dengan Aurorae membuatku seperti kehilangan segalanya. Kondisiku tidak baik-baik saja dan kau berharap aku pulang kesini? Menceritakan semua permasalahanku padamu?"
"Tentu saja , aku in--"
__ADS_1
"Kenapa? Agar kau bisa mentertawakanku? Karena lagi-lagi wanita yang aku nikahi melahirkan bayi yang bukan darah dagingku, begitu? Ini pasti menyenangkan untukmu. Kau terhibur?"
**