
Herjuno kembali ke rumah setelah menjemput Haidar di rumah Bi Lilis, asisten rumah tangga yang sudah bekerja dengannya sejak empat tahun lalu.
“Haidar, senang tidak Abang Zhafran akan menginap?” Herjuno berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan tinggi Haidar.
“Senang.” Haidar melompat kegirangan.
“Hari ini Papa ada pekerjaan di kantor , jadi tidak bisa pulang. Haidar tidak apa-apa kan?”
“Ya. Ada Abang Zhafran.” Jawabnya lagi. Masih dengan senyum sumringah.
“Kalau begitu Papa pamit ya , Haidar ajak Abang Zhafran ke kamar.”
“Bye Papa.” Ucapnya setelah mencium tangan kanan dan kedua pipi Herjuno.
“Zhafran terima kasih ya sudah mau menemani Haidar.” Herjuno beralih menatap Zhafran.
“Sama-sama Pak.” Lalu keduanya berlari menuju kamar Haidar.
“Bi terima kasih sudah mau menginap. Saya titip Megumi dan Haidar.”
“Tidak apa-apa Pak.” Jawab Bi Lilis sungkan. Ingin bertanya ada apa , tapi tidak cukup keberanian.
“Oh ya , kamar Ibu masih berantakan saat tadi saya tinggal. Tolong bantu bereskan Bi, jangan sampai Haidar melihat.”
“Baik Pak.”
**
Aurorae menatap pantulan dirinya di cermin. Midi Dress tanpa lengan warna merah jambu dengan cutting A line memperlihatkan betisnya yang sempurna. Rambut panjang yang dibuat keriting diujungnya, dan riasan tipis yang tidak mencolok di wajahnya. Serta tidak lupa parfum mahal oleh-oleh dari kerabatnya saat bulan lalu pergi ke luar negeri.
Aurorae tersenyum. Melangkahkan kakinya keluar dari kamar pribadinya. Menunggu Herjuno yang beberapa jam lalu pamit untuk mengunjungi Megumi di rumahnya. Ada perasaan tidak rela saat Herjuno memilih meninggalkannya di hari pertama mereka berstatus suami istri, walau suaminya itu berjanji akan kembali setelah memastikan semua baik-baik saja.
“Ayah benar , Megumi pasti sangat menderita hari ini.” Batinnya menghibur dirinya sendiri. Mencoba memahami keadaan dan takdir yang ia jalani.
“Mas , kau datang?” setelah dilihatnya Herjuno masuk melalui pintu utama.
“Aku merindukanmu.” Ucapnya lekas memeluk Aurorae pelan.
Aurorae tersipu.
“Bagaimana keadaan Megumi dan Haidar?”
“Mereka baik-baik saja. Ada Bi Lilis dan putranya yang menginap.”
“Apa Megumi marah? Dia pasti terluka.”
Herjuno menatap Aurorae. Menangkup kedua pipinya.
“Jangan terlalu memikirkannya. Kita jalani saja. Terima kasih karena memutuskan tetap disisiku. Aku berjanji akan membahagiakanmu.”
“Terima kasih karena memperjuangkanku sampai akhir.” Jawab Aurorae dengan mata berkaca-kaca.
“Aku akan berusaha menjadi istri yang baik.” Lanjutnya lagi.
“Tetaplah disisiku. Itu sudah lebih dari cukup.”
“Kau, cantik sekali.” Sambungnya lagi, baru menyadari penampilan istrinya.
“Benarkah? Ah kenapa aku senang sekali mendengarnya.” Aurorae terkekeh.
“Aku serius. Apa kita makan malam di luar saja?”
“Tidak Mas , aku sudah memasak.”
“Benarkah? Aku tidak sabar.”
“Mandilah dulu, akan aku hangatkan makanannya.”
**
Sementara itu , di tempat lain seorang pria sedang meratapi nasibnya. Melampiaskan kekecewaannya dengan bernyanyi sekuat tenaga. Berteriak dengan sumbang lagu-lagu yang bahkan tidak sesuai dengan melodinya.
“Aku mencintaimuuuuu... Sungguh-sungguh mencintaimuuuu... hiks hiks...” isaknya di tengah lagu.
Beberapa orang yang ada di ruangan itu menahan tawanya , bukan tidak iba , tapi cara Farhan melampiaskan kesedihannya terlalu jauh dari perkiraan. Laki-laki cuek dan terlihat kuat itu , meluruhkan harga diri nya karena seorang wanita.
__ADS_1
“Dia akan menyesalinya besok.” Ucap Tania menahan tawanya.
“Haruskah kita dokumentasikan?” sahut Rama.
“Keluarkan ponselmu.” Farel menambahkan.
“Diamlah , atau dia akan menelanmu hidup-hidup.” Maudy menimpali.
Mereka terkekeh pelan, menahan tawa.
Rama mengulurkan segelas Orange Juice saat Farhan menyelesaikan lagu ketiganya.
“Istirahatlah sebentar.”
“Ram...” Farhan menggantungkan kalimatnya. Menerima uluran gelas , tapi tidak segera meminumnya. Ia tertunduk menatap lantai ruang karaoke yang menjadi saksi kesedihannya.
“Apa?”
“Aku....”
“Ada apa? Katakan.” Rama mulai tidak sabar.
“Sudah jangan dipikirkan. Menyanyilah sepuasmu. Malam ini kita yang traktir. “ Farel menimpali.
“Aku...” lagi-lagi Farhan menggantungkan kalimatnya.
“Aku apa? Kau ini, bicaralah.” Maudy juga mulai kesal.
“Aku.... ingin mati saja. Huaaaaa....” Farhan meraung keras sambil memeluk gelas Orange Juice nya.
“Tidak bisakah aku mati saja, hem? Rasanya aku tidak sanggup lagi.” Lanjutnya menatap teman-temannya.
Bukannya iba , teman-temannya itu justru meledakkan tawa yang sejak tadi susah payah mereka tahan.
“Ya sudah , mati saja.” Tania menjawab dengan gelak tawa.
“Aku serius. Hiks hiks.” Jawabnya masih dengan tangis yang tersisa.
“Kau pikir mati itu enak? Jaga bicaramu.” Rama menatapnya serius.
“Benar, tidak perlu terlalu dipikirkan. Lagi pula, sampai kapan Aurorae akan bertahan, tidak lama lagi dia pasti menjanda. Tunggu saja.” Farel terkekeh.
Farhan mendelik . Melempar Farel dengan topi miliknya.
“Jangan bicara sembarangan. Doakan yang baik-baik untuk rumah tangga orang lain.”
Yang lain tertawa makin keras.
“Kau serius mendoakannya yang baik-baik?” tanya Maudy ingin tahu.
“Tentu saja. Apa aku gila menginginkan Aurorae menderita?”
“Wah.. cintamu sudah di next level.” Sahut maudy lagi.
**
Herjuno melahap habis makanannya. Untuk pertama kali setelah beberapa bulan , ia bisa makan dengan baik. Bibirnya tidak berhenti tersenyum. Hatinya terlalu bahagia.
“Bagaimana?” tanya Aurorae penasaran. Sejak tadi Herjuno hanya makan dengan diam, tidak berkomentar apapun.
“Enak.” Jawabnya tersenyum.
“Benarkah?”
“Hem. Enak sekali. Apalagi sambil menatap wajah istriku yang cantik ini. Rasanya berkali-kali lipat lebih enak.”
“Hah , kau benar-benar perayu ulung.”
Aurorae mengangkat piring kosong diatas meja , sesaat setelah Herjuno meneguk habis air putihnya.
“Sungguh. Kau tahu , sejak kau memutuskan hubungan kita , aku tidak hidup dengan benar. Makan seadanya, tidur tidak teratur , hanya merokok berbatang-batang setiap malam.”
Aurorae menghentikan langkahnya , menoleh.
“Benarkah?” Ia menatap Herjuno sayu.
__ADS_1
“Hem. Aku benar-benar berantakan tanpa dirimu.”
Herjuno bangkit. Memeluk Aurorae, mendekapnya erat.
“Jangan pernah meninggalkanku lagi. Aku berjanji semuanya akan baik-baik saja , cukup bertahanlah apapun yang terjadi.”
Aurorae mengangguk. Mengusap pelan punggung suaminya.
Matanya sudah berkaca-kaca. Bukan tidak paham apa yang menunggu mereka di depan , tapi ia yakin akan mampu melewatinya dengan baik selama mereka tetap bersama.
Aurorae tersenyum melepas pelukan. Menatap Herjuno sebentar , lalu mengangkat kembali piring kosong menuju wastafel.
“Selesaikan dengan cepat. Aku tunggu di kamar.” Ucap Herjuno mengedipkan sebelah matanya, berlalu ke lantai dua.
Aurorae terperanjat. Dalam kepalanya sudah berputar-putar apa yang kiranya akan terjadi di kamar nanti.
**
“Rae...” sudah dua kali Herjuno berteriak dari dalam kamar.
Aurorae bukan tidak mendengar, sudah lima menit dia berdiri di balik pintu. Hanya menyentuh dadanya yang berdebar kencang.
“Bagaimana ini? Apa aku masuk saja? “
“Aku harus bersikap seperti apa?”
“Cuek saja, Rae. Seperti wanita dewasa. Lagi pula dia suamimu.”
“Baiklah. Ah tapi itu memalukan. Aku tidak sanggup. Bagaimana jika menunduk malu-malu saja?”
“Tapi bagaimana jika itu membuatmu terlihat bodoh, Rae.”
Begitulah sejak tadi perdebatan di dalam hatinya. Perdebatan yang menahannya di luar pintu.
Aurorae bergegas membuka pintu setelah mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Ia tak ingin ketahuan kalau sejak tadi hanya berdiri mengumpulkan keberanian untuk masuk ke dalam.
“Mas , mau kemana? “ setelah dilihatnya Herjuno tinggal beberapa langkah mendekati pintu kamar.
“Kenapa lama sekali?” Berjalan mendekat lalu mendekap Aurorae pelan.
“Aku tadi sekalian membereskan rak piring. Mas butuh sesuatu?” jantungnya berdegup kencang.
Herjuno menarik mundur kepalanya dari atas pundak Aurorae. Menatap istrinya heran.
“Ini malam pertama kita , kenapa sibuk sekali?” bisiknya pelan. Membuat Aurorae meremang.
Aurorae hanya menunduk, tersipu tidak berani mengangkat wajahnya.
Herjuno mengerti, ini yang pertama bagi istri mudanya. Ia mengangkat dagu Aurorae, memberinya kecupan pelan di bibir. Menatap kembali istrinya sekilas, lalu mulai mengecup lagi.
Aurorae membalas ciuman suaminya. Mulai membuka mulutnya perlahan , membiarkan lidah Herjuno masuk menyesap setiap inci rongga mulutnya. Semakin lama semakin menuntut. Sentuhan lembut jemari Herjuno di punggungnya, membuat jantungnya berdegup kencang. Ini bukan ciuman pertama mereka , saat menjalin hubungan terlarang, mereka sudah sering melakukannya. Saling menyesap bibir bukan hal baru. Tapi menyadari bahwa yang akan terjadi malam ini bukan hanya sekedar ciuman, membuat Aurorae berdebar. Sekujur tubuhnya sudah terasa panas seiring dengan ciuman Herjuno yang semakin menuntut.
“Ah Mas, apa aku perlu mengganti pakaianku dulu?” ucapnya terengah-engah saat Herjuno mulai menyesapi leher jenjangnya.
“Untuk apa? Toh nanti kita akan berakhir tanpa sehelai kain.” Jawabnya tanpa melepaskan kecupannya di leher Aurorae dan tangannya yang mulai meraba buah dada istrinya.
“Ah Mas..” Aurorae tidak lagi menjawab. Tubuhnya bergetar seiring sentuhan Herjuno yang memabukkan.
Ia mencengkeram bahu suaminya saat merasakan buah dadanya di remas pelan.
Herjuno mengerti. Istrinya mulai kuwalahan mengingat posisi mereka yang masih berdiri. Ia alihkan kecupan dari leher ke bibir Aurorae. ********** pelan. Tangan kanannya bergerak ke belakang, menurunkan resleting gaun Aurorae di bagian punggungnya. Sekali sentak, gaun merah jambu sepanjang betis itu luruh ke lantai.
Aurorae tersentak. Menyadari ia hanya mengenakan pakaian dalam, rasa malunya menyergap. Baru saja ia akan melepaskan diri, Herjuno mengeratkan pelukannya. Kembali menyesap bibir Aurorae.
Perlahan Herjuno membimbing istrinya untuk bergerak ke belakang sambil tetap berciuman. Setelah beberapa langkah hampir mendekati ranjang Herjuno meraba sisi kanan meja untuk mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur yang lebih temaram.
Herjuno menjatuhkan tubuh Aurorae ke ranjang , memandangnya dengan tatapan memuja sembari melepas sendiri semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Aurorae hanya diam, tersipu malu-malu tidak tahu harus berbuat apa melihat suaminya mulai menanggalkan pakaiannya hingga polos, Aurorae memalingkan wajahnya.
Herjuno menindih tubuh istrinya ,membelai lembut rambut panjangnya.
“Ini akan sakit, tapi aku berjanji akan pelan-pelan.” Bisiknya sambil terus menatap wajah istrinya.
Aurorae mengangguk.
**
__ADS_1