
Sudah dua bulan sejak Aurorae mengundurkan diri dari perusahaan. Sejak itu pula Herjuno kehilangan jejaknya. Ponselnya mati. Sosial media nya pun hening.
“Berhentilah memikirkannya. Aku muak melihat wajahmu yang seperti itu. “ Megumi membanting asbak di hadapan Herjuno. Menyebalkan sekali melihat suaminya merokok sembari melamun, dengan sisa abu rokok berceceran.
“Jangan lihat.”
“Kalau begitu pergilah, jika kau masih dirumah ini mau tidak mau aku harus terus melihat wajahmu.”
Herjuno beranjak. Melewati Megumi tanpa menggubrisnya.
“Jika kau begitu mencintainya , kenapa tidak kau cari saja dia sampai ke ujung dunia.” Megumi berteriak.
Herjuno menghentikan langkahnya.
“Haruskah?” jawabnya tanpa menoleh.
“Kau benar-benar keterlaluan Mas. Setelah apa yang kau lakukan aku bahkan masih disini, menjalani hidupku yg memuakkan ini sebagai istrimu. Mengurus kebutuhanmu , mengasuh putramu. Setidaknya hargai aku, jangan tunjukkan wajah kehilanganmu itu.”
“Benar, kau mengasuh putraku. Jika kita bercerai, apa kau akan membiarkan Haidar bersamaku?”. Herjuno berbalik, menatap Megumi tajam.
“Jangan mimpi.”
“Karena itulah, aku tidak akan menceraikanmu.”
“Apa?”
“Tetaplah disini. Jalani hidupmu yang memuakkan sebagai istriku.”
“Hanya karena Haidar? Tidak adakah sedikit saja rasa cintamu tersisa untukku?”
“Tidak.”
Herjuno kembali berbalik. Membiarkan Megumi luruh ke lantai, menangisi percakapan mereka.
**
Herjuno menatap lurus ke Rumah yang beberapa bulan lalu ditinggali Aurorae bersama Ayahnya. Kini rumah tersebut kosong, dengan spanduk keterangan dijual dan sebuah nomor telepon. Setiap pagi Herjuno selalu mampir kesini seusai mengantar Haidar ke Taman Kanak-kanak. Ia akan berdiam diri sebentar di dalam mobilnya, menatap lurus ke arah rumah dan berharap barangkali ada seseorang yang datang bisa ia mintai petunjuk kemana Aurorae pindah. Dan pagi ini, sepertinya ia beruntung, ada seorang pemuda dan lelaki paruh baya yang terlihat berjalan memasuki gerbang utama.
“Mas , Maaf.” Herjuno menghentikan langkah pemuda itu. Pemuda itu menoleh.
“Maafkan saya, pemilik rumah ini sebelumnya adalah kenalan saya. Kalau boleh saya tahu , kemana mereka pindah?” Herjuno mengutarakan pertanyaan nya sebelum pemuda itu sempat menjawab.
“Ah, maksudnya Pak Gumilar?”
“Betul.”
“Saya kurang tau Mas.”
“Dimana Anda bertemu Pak Gumilar saat membeli rumah ini? Maafkan saya, hanya saja nomor telepon tersebut bukan milik Pak Gumilar ataupun Putrinya, Aurorae.” Herjuno menunjuk nomor telepon yang tercantum di spanduk.
“Ah , itu nomor telepon saya Mas. Kebetulan saya yang di beri kuasa untuk menjual rumah ini.”
“Benarkah? Tolong beritahu saya kemana mereka pindah.”
“Saya bahkan tidak mengenal dan tidak pernah bertemu dengan Pak Gumilar, Mas. Jadi maaf saya tidak bisa memberi tahu apapun.”
“Anda diberi kuasa menjual rumah ini tapi tidak pernah bertemu dengan Pak Gumilar?”
“Ah , saya menerima kuasa dari Pak Farhan. Kebetulan Pak Farhan yang di percaya untuk menjual rumah ini.”
Deg. Herjuno mematung. Farhan? Diberi kuasa menjual rumah milik Ayah Aurorae? Sudah sedekat itukah hubungan mereka?
Herjuno pun pamit undur diri setelah memastikan tidak bisa mendapat informasi apapun dari pemuda itu.
__ADS_1
Raut wajahnya tidak terbaca. Kesal , kecewa , terluka.
**
“Ini laporan penjualan semester pertama tahun ini. Sedangkan untuk rangkuman rencana promosi pekan depan masih di evaluasi oleh Mba Dea dan Tita” Farhan meletakkan setumpuk berkas di meja Herjuno.
Herjuno mengangguk, membuka halaman pertama berkas didepannya.
“Kalau begitu, saya permisi. “ Farhan berbalik.
“Farhan”
Farhan memutar tubuhnya.
“Iya Pak?”
“Apa Aurorae menghubungimu?”
“Tidak”
“Kemana dia pindah?”
“Saya tidak tahu.”
“Apa dia memintamu merahasiakan keberadaannya?”
Farhan menatap tajam mata Herjuno.
“Tidak perlu melotot begitu, kau ini sensitif sekali. Aku hanya ingin tahu dimana dia tinggal sekarang. Ada yang harus kami bicarakan.”
“Tanyakan saja langsung pada Aurorae. Jika dia mau, dia pasti akan memberitahu Anda.”
Farhan membalikkan tubuhnya. Dan segera melangkah keluar.
“Artinya dia tidak mau Anda tahu.” Jawabnya tanpa menoleh.
“Apa? Cih, kau mulai berlagak hanya karena Pak Gumilar mempercayakan penjualan rumahnya padamu.” Herjuno bangkit dari duduknya. Mulai merasa kesal.
“Berhentilah mengacaukan hidup Aurorae. Carilah mangsa baru , agar Anda tidak kesepian.”
Farhan mempercepat langkahnya keluar. Menutup pintu dengan kasar.
**
“Rae.. Kemarilah.” Gumilar berteriak memanggil putrinya yang sedang menyiram tanaman di halaman rumah mereka.
Aurorae menoleh , lalu segera menghampiri Ayahnya.
“Mandilah.. setelah itu temui Ayah di ruang tamu. Ayah ingin bicara.”
“Ada apa Yah? “
“Mandilah dulu, baru kita bicara.”
“Wah Rae merinding.” Cetusnya sambil mengusap-usap tangannya yang basah ke dress selutut yang sedang ia pakai.
“Kenapa?”
“Ayah menakutkan kalau mau bicara serius.” Aurorae terkekeh sambil berlalu masuk ke dalam rumah.
**
Aurorae terpaku. Pandangannya jatuh pada pria yang sedang duduk berhadapan dengan Gumilar di sofa ruang tamu mereka.
__ADS_1
Rumah minimalis di pinggiran kota, yang baru hampir empat bulan mereka tempati.
“Jangan hanya berdiri disana , kemarilah.” Suara Gumilar membuyarkan lamunan Aurorae.
“Herjuno ingin menemuimu.” Sambungnya lagi, saat Aurorae persis di hadapannya.
“Rae , duduklah.” Herjuno buka suara.
“Ada perlu apa Bapak datang kemari?”
“Rae.. mari bicara dengan tenang. “
“Tentang apa?”
“Duduklah.”
“Tidak.”
“Duduklah Rae , agar kita bisa bicara.”
“Bicaralah, telingaku akan tetap disini meski aku berdiri.”
Herjuno menghembuskan nafas nya pelan.
“Rae , bicaralah dengan tenang. Jika ingin mengakhiri , akhiri dengan baik. Agar tidak ada yang tersisa.” Gumilar menengahi.
“Ayah, Rae tidak merasa masih ada yang tersisa. Kami sudah berakhir bahkan sebelum Rae mengatakan semua pada Ayah.”
“Kalau begitu katakan sekali lagi padanya. Agar dia bisa benar-benar melepaskanmu. Katakan dengan jelas , tanpa tangisan , tanpa amarah. Pastikan dia paham, bahwa kau baik-baik saja meski dia tidak bersamamu.”
Jantung Herjuno berdegup kencang. Ia tahu, Gumilar memendam rasa kesal teramat besar padanya.
“Pak Juno.. kali ini mari kita benar-benar akhiri semuanya. Saya tidak ingin lagi mempunyai hubungan apapun dengan Anda , meski hanya pertemanan. Berhentilah mengganggu , kehadiran Anda membuat kami tidak nyaman.” Ucap Aurorae tenang, tanpa debar tanpa gemetar.
“Nak Juno sudah dengar sendiri? Apa itu cukup?”
Herjuno menatap Gumilar sebentar lalu beralih menatap Aurorae.
“Jika sudah selesai, saya permisi. Mari kita jalani hidup masing-masing dengan lebih bahagia.” Aurorae berbalik, sebelum Herjuno sempat mengatakan apapun.
“Rae.. mari kita menikah.” Kalimat yang ia tahan sejak tadi, akhirnya lolos juga.
Aurorae menatapnya tajam.
“Apa kau sudah tidak waras?”
“Aku mencintaimu Rae.”
“Kau benar-benar ingin menghancurkan hidupku, Herjuno.”
“Aku akan menceraikan Megumi.”
“Tutup mulutmu, Herjuno Ardhi. Pergilah , sebelum aku benar-benar hilang akal.”
“Mari kita menikah Rae , Ayahmu memberi izin asalkan kau setuju.”
Aurorae menatap Gumilar. Tidak ada raut wajah terkejut disana atas ucapan Herjuno. Apa ini? Apa Ayahnya tahu semua ini. Apa Ayahnya sungguh menerima semua ini. Apa Ayahnya tidak marah. Laki-laki beristri ini datang untuk melamar putri satu-satunya. Bukankah seharusnya dia marah?
“Ayah..”
“Bicaralah kalian berdua. Selesaikan saat ini juga.” Gumilar beranjak dari duduknya.
“Ingat Herjuno, seperti yang saya katakan , jika Aurorae menolak , pergilah. Jangan pernah perlihatkan wajahmu di hadapannya lagi. Tapi Jika Aurorae menerimamu, lakukan dengan benar.” Sambungnya sebelum benar-benar pergi dari ruang tamu rumahnya.
__ADS_1
**