
Sekali lagi Megumi tersentak , dadanya terasa sesak , napasnya seperti semakin habis. Entah apa lagi yang bisa ia katakan sekarang.
Megumi hanya menunduk semakin dalam , tangis yang setengah mati ia tahan , kini menjadi isakan.
"Sekarang terserah padamu. Kau ingin bercerai , aku tidak apa-apa. Akan aku lepaskan juga Haidar. Begitu juga jika kau ingin mempertahankan rumah tangga ini, aku akan menerima dengan lapang dada. Sudah ku bilang, aku sangat menyayangi Haidar." Herjuno menarik napasnya pelan.
"Tapi hubungan kita? Tidak akan kemana-mana. Dirumah ini aku hanya akan bersikap sebagai Ayah Haidar , tidak sebagai suamimu."
Herjuno menegakkan tubuhnya. Menatap Megumi beberapa saat.
"Mari berdamai. Kita gagal menjadi pasangan yang bahagia. Tapi setidaknya biarkan Haidar bahagia."
Setelah mengatakan itu Herjuno berlalu menuju kantornya. Meninggalkan Megumi yang semakin terisak-isak seorang diri.
**
Herjuno menahan pintu lift yang akan tertutup. Dilihatnya beberapa orang setengah berlari untuk masuk ke dalamnya. Ia membalas senyuman seseorang yang menunduk sopan sebagai ucapan terimakasih.
Beberapa orang yang menyusul masuk, membuat Herjuno mundur beberapa langkah hingga ke dinding lift.
Ujung matanya menangkap sosok Dea yang masuk terakhir ke dalam lift. Wanita itu terlihat sedang mengobrol dengan seseorang menggunakan ponselnya.
"Baiklah. Jaga dirimu dan anak-anak. Aku tutup." Suara Dea terdengar jelas di telinga Herjuno karena suasana lift yang hening.
Cih. Herjuno mencebik meski hanya di dalam hati. Entah kenapa dia seperti bisa memastikan bahwa yang berbicara dengan Dea di seberang sana adalah Aurorae.
Saat lift berhenti , Dea keluar lebih dulu. Herjuno berjalan perlahan agar menciptakan jarak yang lebih jauh dengan Dea.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Aurorae? Dia baik-baik saja?" Tania yang tiba-tiba muncul entah darimana , merangkul pundak Dea.
"Hum. Dia baik." Dea tersenyum.
"Ah , aku merindukannya. Bocah itu benar-benar melupakanku."
Dea terkekeh. Ia tahu, Aurorae bukan ingin memutus akses teman-temannya. Hanya saja , wanita malang itu tidak percaya diri semenjak memutuskan untuk menjadi istri kedua dari atasannya.
"Kenapa menanyakan wanita itu pada Dea? Farhan pasti lebih tau kabarnya." Herjuno yang tiba-tiba melewati Dea dan Tania berbicara begitu saja tanpa menoleh.
Dea dan Tania reflek menghentikan langkahnya. Menatap tajam punggung Herjuno.
"Dasar tidak waras." Gumam Dea kesal.
Herjuno menoleh. Menatap Dea penuh kebencian. "Kau mengatakan sesuatu?"
"Kau! Tidak waras!" Dea mengencangkan suaranya membuat Herjuno mendelik.
"Jaga batasanmu. Aku ad--"
"Sudah ku katakan , jika bukan tentang pekerjaan jangan berbicara denganku. Sekali lagi aku mendengarmu bicara buruk tentang Aurorae, aku tidak akan ragu lagi mencekikmu di hadapan semua orang. Di pecat? Tidak masalah. Setelah merobek lehermu dan memastikan kau tidak bisa bicara lagi, akan aku serahkan diriku ke polisi."
Dea menatap tajam Herjuno. Melangkah lebih dekat hingga sampai di hadapan pria itu.
"Kau benar-benar menjijikkan." kalimat terakhir sebelum Dea berlalu melewati Herjuno begitu saja.
Semua orang yang ada disana hanya diam , menatap tak kalah kesal pada Herjuno.
__ADS_1
Hanya maudy yang menunduk menyembunyikan wajahnya dibalik kubikel sambil terkikik senang.
"Wah, Mbak Dea memang yang terbaik." gumamnya pelan sambil terus terkekeh.
**
Waktu berlalu begitu saja , hari ini adalah sidang lanjutan perceraian Herjuno dan Aurorae.
Tidak seperti sidang pertama yang tidak dihadiri siapapun dari pihak tergugat, hari ini Herjuno melihat Gumilar bersama seorang pria , mungkin pengacaranya.
"Ayah.." Herjuno mendekat untuk menyapa.
"Bagaimana kabarmu?" Gumilar menerima uluran tangan Herjuno.
"Tidak baik." Herjuno terkekeh. Ia sangat menghormati Gumilar. Meski Aurorae adalah anak satu-satunya tapi Gumilar tidak pernah melewati batasannya untuk mencampuri urusan rumah tangga Aurorae dengan Herjuno.
"Seperti pernikahanmu dengan Aurorae adalah takdir , perceraian ini pun begitu. Setelah ini, Ayah harap kalian bahagia meski tidak bersama."
Herjuno mengangguk anggukkan kepalanya sambil menatap haru Gumilar. Matanya sudah berkaca-kaca. Terlebih saat tiba-tiba Gumilar memeluknya.
"Ayah memahami situasimu. Ayah tidak menyalahkanmu. Apapun yang terjadi nanti, jalani hidupmu dengan baik. Hum?"
ucapnya menepuk-nepuk pelan punggung Herjuno.
Herjuno sekuat tenaga menahan tangisnya.
Lihatlah, Rae. Akibat perbuatanmu.
__ADS_1
**