Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 46 - Tidak Mau Rugi


__ADS_3

Aurorae makan perlahan , mengaduk-aduk isi piringnya berkali-kali sebelum memasukkan sesuap ke dalam mulutnya.


"Ayah.." gumamnya hampir tidak terdengar disertai air mata yang kembali mengalir deras.


"Kunyah dengan baik makananmu. Ayah disini." Gumilar mengusap sayang kepala Aurorae.


"Aku benar-benar tidak tahu kenapa ada hasil tes DNA seperti itu, dan aku bersumpah tidak ada yang pernah menyentuhku selain Mas Juno." Aurorae semakin terisak, napasnya tersengal-sengal.


"Ayah percaya. Ayah sangat mempercayaimu. Tenanglah, makan dengan benar , istirahat dengan baik. Tidak perlu memikirkan apapun. Hanya fokus pada anak-anakmu. Biar Ayah urus ini." Gumilar mencoba menenangkan putrinya.


**


Keesokan harinya , Herjuno benar-benar mendaftarkan gugatan cerainya ke pengadilan. Dia tidak akan menunda lagi sebelum berubah pikiran karena rasa cintanya pada Aurorae. Ia juga tidak ingin terjebak dengan rasa sayang yang akan semakin tumbuh untuk si kembar.


Herjuno datang ke kantor sedikit lebih siang karena harus ke pengadilan lebih dulu. Saat keluar dari lift dan memasuki lantai divisinya , sudah terlihat dari kejauhan Dea yang menatapnya tajam.


Ah, Aurorae pasti sudah menceritakan tentang kejadian kemarin.


Herjuno tidak peduli , ia terus melangkah melewati sekumpulan kubikel stafnya dan memasuki ruangannya.


Dea menghela napasnya kasar. Ingin marah , tapi entah pada siapa. Aurorae, jelas Dea sangat mempercayainya. Aurorae tidak akan berkhianat di belakang Herjuno. Wanita itu bahkan rela menjadi istri kedua karena sangat mencintai Herjuno.


Tapi kemarahan Herjuno, juga bisa dimaklumi. Pria mana yang akan tahan dan baik-baik saja saat menemukan hasil test DNA yang menyatakan kedua anaknya bukanlah darah dagingnya.


Bagaimana kondisi Aurorae?


Dea mengirim pesan kepada Dira.


Dia makan dengan baik , berdandan , dan tertawa seperti biasanya. Ini lebih menakutkan.

__ADS_1


Dea menghela napasnya lagi. Aurorae pasti sangat terluka.


**


Aurorae merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sebelah lengannya cukup untuk menangkup si kembar. Ryan menggeliat, mengusap-usap wajah Ibunya lalu tergelak. Tidak lama , Ryana ikut tertawa sembari berbalik tengkurap. Menendang-nendangkan kakinya ke belakang. Ah lucu sekali.


Tidak apa-apa. Ini lebih dari cukup.


Aurorae terus membatin. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa hidupnya akan baik-baik saja.


Jangan serakah. Ini saja cukup.


Batinnya lagi sembari memandangi kedua anaknya yang sedang riang bermain.


Aurorae menoleh saat mendengar suara pintu kamar di buka. Dira masuk dengan senyuman yang ia paksakan.


"Aku akan ke ruko dan pulang sebentar. Nanti malam aku kembali lagi." Dira duduk di samping Aurorae dengan sebelah tangannya memainkan telapak kaki Ryana.


"Aku akan lebih tenang jika kau menangis saja seminggu penuh , daripada pura-pura kuat seperti ini. Suara tawamu menyakitkan kau tahu."


Aurorae hanya tersenyum , matanya mulai berkaca-kaca.


"Aku akan baik-baik saja kan, Di? Hum? Iya kan?" Tenggorokannya tercekat , dadanya sesak sekali.


"Ya. Kau akan baik-baik saja. Anak-anak akan baik-baik saja." Dira menarik Aurorae yang sudah terisak ke dalam pelukannya.


"Tidak apa-apa. Menangis saja. Jangan ditahan atau dadamu akan terasa sesak." ucapnya lagi membuat tangis Aurorae semakin menjadi-jadi.


Sejak pagi tadi ia sudah bertekad tidak akan menangis lagi, menahan semua sesaknya sendiri , tapi ternyata sakit sekali.

__ADS_1


"Pulanglah. Tidak perlu kembali jika kau lelah. Ada Ayah dan Bi Izza , tidak perlu khawatir." Aurorae mengusap sisa-sisa air matanya.


Dira mengangguk saja. Jika beberapa pekerjaan di ruko selesai , ia akan pulang sebentar kerumahnya untuk mengambil beberapa potong baju lalu kembali kesini.


"Ada Mbak Dea dibawah sedang mengobrol dengan Om Gumilar." Dira berdiri dari duduknya.


"Cih. Dia pasti akan mengomel sampai malam." Aurorae dan Dira terkekeh bersama.


**


Dea naik ke lantai atas setelah baru saja berpapasan dengan Dira yang pamit pulang. Ia menarik napas pelan sebelum membuka pintu kamar Aurorae.


Dea sudah mempersiapkan wajah se ceria mungkin berpura-pura tidak terjadi apapun. Tapi setelah masuk dan melihat wajah Aurorae, ia terkesiap. Rentetan lelucon yang sudah ia hafalkan sejak tadi menguap begitu saja.


Dea melangkah cepat menghampiri Aurorae dan memeluknya erat.


"Sudah lebih baik , hum?" tanyanya.


Aurorae menggeleng. "Tidak." Ia terisak lagi.


Setelah bicara dengan Dira tadi, Aurorae memutuskan tidak akan menahan apapun. Jika sakit , ya sudah menangis saja.


"Tidak apa-apa. Perlahan, mengerti? Rasa sakit juga berhak dirayakan. Berapa hari yang kau butuhkan?"


Aurorae berfikir sejenak. "Tujuh hari, boleh?" Ia paham betul , Dea tak ingin dirinya berlarut-larut.


Dea mengangguk. "Deal. Ini hari kedua. Berarti tersisa lima hari lagi."


Aurorae terkekeh. "Kau benar-benar perhitungan, tidak mau rugi!"

__ADS_1


**


__ADS_2