
Delapan tahun berlalu dengan sangat cepat. Aurorae menjalani hidupnya dengan bahagia. Tidak ada lagi alasan untuk ia terus meratapi masalalu. Buat apa , ada anak-anak menggemaskan yang selalu menemaninya.
"Apa Kakak Shasa juga ikut?" Ryana yang duduk di samping Ibunya memekik riang.
"Hum, Tante Dea bilang Kakak Shasa juga datang." Aurorae hanya menoleh sekilas karena sedang fokus mengemudi.
"Ck." Ryan yang duduk di belakang hanya mencebik kesal.
"Kenapa, Bang?" Aurorae menatapnya dari kaca di hadapannya.
"Gadis-gadis sangat berisik. Mereka pasti ribut sekali , Bu." Ryan nampak sebal.
Aurorae hanya terkekeh. Putranya itu entah menurun dari siapa , sikapnya dingin dan irit bicara.
Jika Ryana cerewet dan menyukai keramaian , Ryan seperti anak anti sosial yang jika diajak bicara hanya akan melirik sekilas lalu mengangguk atau menggeleng tergantung apa jawabannya.
"Abang tidak diajak!" Ryana menoleh tak kalah sebal.
"Bersikap yang baik pada Tante Dea dan Kakak Shasa ya. Mereka meluangkan waktu mengunjungi kita." Aurorae melirik lagi Ryan yang duduk di belakang.
Hari ini Aurorae membawa sekalian Ryan dan Ryana ke bandara untuk menjemput Dea yang datang berkunjung. Bukan tanpa sebab , pasalnya jam kedatangan pesawat yang ditumpangi Dea hanya selisih tiga puluh menit dari jam pulang sekolah anak-anak.
Jadi daripada harus mengantar mereka pulang dulu, Aurorae memilih langsung saja ke bandara.
Ryana memekik riang saat dari kejauan terlihat Shasa yang digandeng oleh Dea melewati pintu keluar.
"Kakak Shasa! Disini!" Ryana melambai-lambaikan tangannya.
Gadis itu langsung melompat memeluk Shasa saat Ibu dan anak itu sudah semakin dekat.
__ADS_1
"Tante , menginap lama kan?" tanyanya tidak sabar.
"Ryana , salam dulu dengan Tante Dea!" Aurorae memotong cepat.
Gadis itu beringsut mendekati Dea dan mencium tangannya.
"Apa kabar Tante?" tanya Ryana dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
"Ah , manis sekali kamu anak siapa sih?" Bukannya menjawab , Dea malah menarik pelan hidung Ryana.
"Anak Ibu Aurorae dan Ayah Herjuno." jawab gadis itu dengan sumringah.
Semua orang tertawa. Terkecuali Ryan. Dia hanya menatap datar lalu mendekat pada Dea , mencium tangannya sopan.
"Apa kabar Tante?" Ryan menanyakan hal yang sama dengan adik kembarnya.
**
"Anak-anak tumbuh dengan baik." Gumam Dea dengan tatapan yang memperhatikan Ryana dan Shasa di ruang tengah.
Aurorae tersenyum. "Hum, aku bersyukur." Ia meletakkan tumpukan beberapa piring di meja bar yang tersambung dengan dapur.
"Terimakasih sudah datang, Mbak." lanjutnya lagi.
Mereka berdua sedang membantu Bi Izza memasak untuk makan malam. Jika ada yang berkunjung, Aurorae akan menata meja makan di halaman belakang, karena dirumahnya tidak ada ruang makan, hanya meja bar yang terhubung dengan dapur.
Dari tempat mereka berdiri , terlihat jelas suasana ruang tengah yang dihuni Gumilar bersama Ryana dan Shasa. Mereka bertiga sedang tertawa terbahak-bahak, entah apa yang lucu.
Shasa sama sekali tidak canggung, sejak kecil ia tahu Ryana dan Ryan adalah saudaranya. Dan Gumilar tentu sudah seperti kakeknya sendiri.
__ADS_1
"Tidak rindu Bandung?" kali ini dia menarik tangan Aurorae untuk duduk di halaman belakang.
Aurorae tersenyum. "Rindu sekali. Sudah delapan tahun, pasti banyak yang berubah." tatapannya menerawang.
"Kembali saja. Om Gumilar pasti juga rindu ingin menengok rumah di Garut."
Aurorae mengangguk. Ayahnya itu memang selalu menyempatkan pulang ke Garut tiap satu tahun sekali. Tapi Aurorae dan si kembar , sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya disana sejak delapan tahun lalu.
"Kau sudah baik-baik saja kan?" Tanya Dea lagi karena Aurorae hanya diam.
Aurorae menoleh, lalu mengangguk. "Aku hanya terlalu canggung jika kembali."
Hubungan Aurorae dan Herjuno memang sudah membaik. Saat itu , Herjuno berhasil menghubungi Aurorae setelah perjuangan berbulan-bulan.
Mereka mengatasi kesalahpahaman, dan saling memaafkan. Tidak ada alasan bagi Aurorae untuk mendendam. Lagipula ia tahu, hal itu bukan sepenuhnya kesalahan Herjuno. Dan pria itu menunjukkan betapa keras usahanya untuk mendapatkan maaf dari Aurorae.
Dan Aurorae menerima Herjuno untuk mengunjungi rumahnya di Surabaya ini saat si kembar berusia dua tahun. Sejak itu, Herjuno rutin datang satu bulan sekali , untuk si kembar.
Hingga kini, mereka berkomunikasi dengan baik. Untuk kepentingan si kembar tentu saja.
"Aku dan Dira selalu menunggu kapan kau akan kembali , Rae. Bagaimanapun, Surabaya adalah tempat asing. Tidak ada siapapun lagi yang kau miliki selain penghuni rumah ini."
Aurorae membenarkan perkataan Dea dalam hati. Di Bandung, ia memiliki Dea dan Dira. Tidak akan kerepotan jika ia butuh pertolongan. Dan si kembar , akan bisa menghabiskan waktu lebih sering dengan Ayahnya.
"Akan aku pikirkan , Mbak. Jika disini, Bi Izza juga tidak bisa sering pulang ke kampung halamannya."
"Kau tidak berniat kembali bersama Herjuno?"
**
__ADS_1