
Dari kejauhan tampak Herjuno setengah berlari menghampiri Gumilar dan Bi Izza. Napasnya tersengal-sengal, dan peluh sudah penuh membasahi keningnya.
"Yah , bagaimana Rae?" tanyanya saat sudah sampai di hadapan Gumilar.
Gumilar hanya mengedikkan dagu ke arah ruang bersalin di hadapannya.
Meski kesal , ia tidak ingin membuat keributan disini.
Belum sempat Herjuno membuka pintu ruang bersalin , terdengar suara kencang tangis bayi dari dalam ruangan.
Herjuno mematung. Kakinya seketika melemas. Ia jatuh terduduk tepat di depan pintu.
Gumilar menghampiri. Berjongkok di hadapan menantunya.
"Ayah , apa itu tangis anakku?" suaranya bergetar.
Gumilar tahu , Herjuno menahan tangisnya.
"Tenangkan dirimu. Tarik nafas dalam-dalam. Kau harus masuk ke dalam menemani istrimu."
Herjuno menarik napas panjang. Mendongak berkali-kali agar air matanya tidak tumpah. Sesekali, air itu masih memaksa keluar, Herjuno mengusapnya kasar. Lalu sesaat kemudian memeluk erat kaki Ayah mertuanya.
"Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf , Ayah."
Gumilar hanya mengangguk. Lalu menepuk pelan bahu Herjuno. "Masuklah."
"Aku banyak bersalah pada Aurorae. Maafkan aku, Yah. Maafkan aku."
"Masuklah. Rae didalam pasti membutuhkanmu." Lagi , Gumilar menepuk pelan bahu menantunya.
__ADS_1
Baru saja Herjuno berdiri , terdengar lagi suara tangis bayi yang kali ini lebih kencang dari sebelumnya.
Herjuno dan Gumilar saling pandang.
Keduanya sama-sama berpikir apa itu suara bayi yang sama. Kenapa terdengar sedikit berbeda.
Herjuno lekas membuka pintu ruang bersalin.
Dipandanginya wajah Aurorae yang terlihat jelas kelelahan.
"Apa anda suaminya?" seorang Dokter yang menangani Aurorae bertanya.
Herjuno hanya mengangguk. Tidak mengeluarkan sepatah katapun, tenggorokan nya tercekat.
Dokter itu tersenyum. Pertanda Herjuno tidak dilarang berada di dalam ruangan.
"Maafkan aku. Aku terlambat datang. Maafkan aku." Ia mengecupi pelan kepala Aurorae.
"Kau boleh menghukumku nanti. Maafkan aku hum?" Herjuno tidak melepaskan pelukannya.
Beberapa perawat yang ada disana , tersenyum kecil.
"Mas , aku ingin minum." suara Aurorae terdengar sangat lemah.
Herjuno meraih sebotol air dengan sedotan yang ada di atas meja. Dan Aurorae meneguknya hampir setengah botol.
Herjuno memeluk Aurorae lagi. "Maafkan aku hum?". Hanya itu yang ia ucapkan berkali-kali.
"Pak , silahkan dibuka kemejanya ya agar bayinya bisa skin to skin dengan Ayahnya." seorang perawat menghampiri.
__ADS_1
Herjuno menurut saja. Membuka cepat satu persatu kancing kemejanya , lalu meletakkan asal di samping kepala Aurorae.
Bayi mungil itu diletakkan tengkurap diatas dada Herjuno. Punggungnya dibalut selimut tipis. Di dalam dekapan Ayahnya , bayi itu menggeliat pelan , dengan kepalan tangan yang bergerak kesana kemari.
"Tampan sekali putranya , Pak." seorang perawat memuji.
Herjuno hanya tersenyum lalu menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.
Maafkan Ayah , Ayah pasti juga menyakitimu. Batinnya sambil mengusap pelan pipi putranya.
Ia pandangi terus wajah mungil yang berada di atas dadanya itu. Ah , hidungnya persis dengan milik Aurorae.
Tapi sedetik kemudian , tatapannya beralih pada seorang perawat yang membawa bayi lain ke pangkuan Aurorae.
Seperti tadi, perawat meletakkan tengkurap bayi itu di dada Aurorae.
"Ah, cantik sekali." gumam perawat itu pelan dengan tersenyum. "Biarkan bayinya belajar mencari putinng sussu Ibunya ya Bu." lanjutnya lagi, sebelum keluar.
"Tunggu Sus , apa bayi kami kembar?" Herjuno mengajukan pertanyaan karena ia lihat Aurorae tidak terkejut sama sekali.
Dokter disana terkekeh. "Iya Pak , bayi nya kembar. Laki-laki dan Perempuan. Yang laki-laki , lahir tiga menit lebih awal dari yang perempuan."
Aurorae melirik suaminya sekilas. Mana Herjuno tahu bayinya kembar atau tidak. Terakhir dia menemani Aurorae kontrol kandungan adalah saat usia lima bulan , lalu sekali lagi di dua minggu sebelum melahirkan. Di tengah-tengah suasana perang dingin mereka.
Herjuno bahkan tidak menemaninya membeli perlengkapan bayi. Aurorae selalu pergi sendiri, dan jika akhirnya ketahuan oleh suaminya, maka akan berakhir dengan keributan. Begitulah selama hampir tiga bulan terakhir
Tapi kali ini Aurorae tidak akan perhitungan. Semua lukanya beberapa bulan terakhir , terbayar lunas beberapa menit lalu saat berhasil melahirkan kedua bayinya.
**
__ADS_1