
“Kau mau bercerai dariku? Jangan mimpi.” Herjuno berdecih, menatap Megumi dengan tatapan meremehkan.
“Untuk apa kau bertahan Mas? Situasi kita semakin hari semakin memuakkan. Lagi pula , jalaangmu itu suatu hari pasti akan berusaha menyingkirkan ku.”
“Serahkan hak asuh Haidar padaku, maka aku akan menceraikanmu.”
Herjuno berlalu. Meninggalkan Megumi yang menatapnya murka. Ia tidak peduli, betapa Megumi menderita karena dirinya , ia sama sekali tak peduli.
**
Siang ini Aurorae pergi ke supermarket berbelanja kebutuhan rumah tangga untuk sebulan ke depan. Ia mendorong troli nya pelan sambil sesekali menengok ponsel di tangannya. Tadi ia sempat mengirim pesan pada Herjuno mengatakan bahwa ia akan berbelanja. Sudah satu jam, dan Herjuno belum membalasnya.
“Aurorae..” panggil seseorang dari depan.
Aurorae menengadahkan kepalanya. Sejak tadi ia hanya menunduk , sesekali menatap ponselnya, tidak memperhatikan sekelilingnya.
Aurorae mematung. Menatap Megumi di depan sana , yang juga menatapnya tajam. Tatapan permusuhan.
“Megumi..” ucapnya lirih.
Megumi melangkah semakin mendekat.
“Apa kau sedang berbelanja? Mana suamimu? Ah , atau aku harus bertanya mana suamiku?” Megumi bertanya dengan meledek.
Aurorae terdiam. Hanya menatap tak suka. Bukan apa-apa, mereka sedang di tempat umum, Aurorae tidak ingin menarik perhatian. Satu kalimat dari bibir Megumi tadi saja sudah cukup membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka.
“Jangan menatapku seperti itu. Dasar perempuan munafik.” Megumi berbisik lagi, pelan. Ia pun sama , tidak ingin menarik perhatian. Teringat beberapa bulan lalu, Aurorae mengatakan akan menjauhi Herjuno. Nyatanya malah dia bersedia menikah dengan suaminya.
Aurorae berlalu, susah payah menahan amarahnya , dia bukan perempuan lemah lembut dengan kesabaran seluas samudera. Andai tidak memikirkan suaminya, sudah pasti dia akan meladeni Megumi dengan senang hati.
“Maling memang sebaiknya kabur sih, daripada babak belur di hajar massa.” Megumi memprovokasi.
“Maling?” Aurorae berbalik. Menatap Megumi tajam. Mulai menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka.
“Menikahi suami orang, bukankah sama dengan maling?” lantang Megumi lagi, kali ini tanpa malu-malu. Berhasil membuat beberapa orang mendelik. Menatap jengah kearah Aurorae, dan mulai berbisik-bisik.
Aurorae tak kalah kaget. Melangkah maju kedepan dan membanting sekantong bayam yang sedari tadi dia pegang ke dalam troli miliknya.
“Jangan memancingku Megumi, aku tidak sesabar itu.” Aurorae menatapnya marah.
“Marahlah, aku tidak keberatan jika harus berkelahi denganmu disini.” Jawabnya sembari tersenyum mengangkat dua kantong apel dari troli nya. Seolah mengatakan apel ini bisa jadi senjata untukku.
“Cih. Sepertinya Mas Juno mengabaikanmu, sehingga kau melampiaskan kemarahanmu padaku.” Aurorae sedikit tertawa. Membuat senyum di bibir Megumi menghilang.
__ADS_1
Aurorae maju selangkah, mendekatkan bibirnya di telinga Megumi.
“Perlakukan suami kita dengan baik, aku tidak ingin merebutnya semudah itu, tidak akan seru.” Bisiknya pelan.
Aurorae berlalu, tidak mempedulikan tatapan sinis orang-orang di sekitarnya. Tidak peduli juga dengan Megumi yang mengepalkan tangannya marah.
Setelah membayar semua belanjaannya, Aurorae melangkah keluar menuju mobilnya. Menyimpan beberapa kantong plastik di bagasi belakang , dan masuk duduk di balik kemudi.
Ia mendesah kasar, sesaat setelah mengunci mobilnya. Dan mulai terisak. Memukul-mukul sendiri dadanya , merematnya pelan.
Neraka , mulai menampakkan wajahnya.
**
Herjuno menatap berkas berisi rekomendasi rumah yang diberikan Farhan. Setiap lembarnya ada foto tampak depan dan juga beberapa foto bagian dalam. Dibawahnya diuraikan dengan jelas apa-apa saja tentang rumah itu, Luas tanah dan bangunan, jumlah ruangan , harga yang di tawarkan, hingga akses terdekat menuju fasilitas dan ruang publik.
Herjuno meneliti satu persatu, menimbang-nimbang yang kira-kira sesuai dengan selera Aurorae. Hingga ponselnya berdering.
“Ada apa?” jawabnya setelah mengangkat panggilan.
Di seberang sana , Megumi sudah berteriak.
“Perempuan macam apa sebenarnya yang kau nikahi Mas?”
“Wanita itu bahkan berani menantangku di depan umum kau tahu!” teriaknya lagi, lebih lantang.
“Kau bertemu Aurorae?” Herjuno mengernyitkan keningnya.
“Ya , di supermarket. Dan kau tahu, dia dengan tidak tahu malunya mengajakku bertengkar disana , di depan banyak orang!”
Ah benar, Aurorae tadi mengirim pesan , mengatakan akan berbelanja, Herjuno belum sempat membalas hingga terlupa karena pekerjaan.
“Kita bicara di rumah, aku masih banyak pekerjaan.” Herjuno mematikan sepihak sambungan telepon nya , memijit pelipisnya pelan.
Menatap ponselnya lama , menunggu. Kenapa Aurorae tidak menghubunginya , tidak mengadu apa yang sudah terjadi.
Lama menunggu, akhirnya ia mengalah, lebih dulu menghubungi istri keduanya.
“Iya Mas?” suara Aurorae di seberang sana.
“Sayang maaf, aku tadi sedang banyak pekerjaan , belum sempat membalas pesanmu. Apa kau masih di supermarket?”
“Masih di jalan Mas , sebentar lagi aku sampai di rumah. Mas mau aku memasak apa untuk makan malam?” tanyanya riang. Suaranya tidak terdengar sedang kesal.
__ADS_1
Herjuno menghembuskan nafasnya pelan.
“Maaf sayang, hari ini aku pulang ke rumah. Tidak apa-apa kan kau makan sendiri?”
Aurorae terdiam. Menatap jalanan di depan sana, lalu menarik nafas dalam-dalam, memaksa air matanya tidak tumpah.
“Baiklah. Tidak apa-apa.” Jawabnya berusaha terdengar biasa saja.
Setelah pembicaraan singkat mereka, Herjuno dan Aurorae tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Herjuno yang kesal karena mengetahui Aurorae menyembunyikan sesuatu darinya, mulai menerka-nerka kira-kira apa lagi yang istri keduanya itu rahasiakan.
Dan Aurorae yang juga kesal , karena merasa suaminya tidak peduli, lebih mementingkan istri pertamanya. Air matanya sudah menganak sungai , tidak bisa ditahan lagi.
**
Setelah makan malam, Herjuno menemui Megumi di kamarnya. Bertanya apa yang terjadi tadi siang hingga membuatnya kesal setengah mati.
“Istri keduamu itu terang-terangan mengatakan akan menyingkirkanku.” Ucapnya dengan melempar tatapan permusuhan.
“Aurorae tidak pernah memintaku untuk menceraikanmu.”
“Cih. Tentu saja , dia perempuan licik. Mana mungkin terang-terangan memintamu bercerai denganku.”
Herjuno memutar bola matanya malas.
Mendengar cerita Megumi tentang apa yang terjadi siang tadi hatinya sedikit kecewa. Kenapa Aurorae tega sekali menyakiti Megumi seperti itu, terlebih di tempat umum dengan banyak pasang mata yang melihat mereka.
“Aku akan bicara dengan Aurorae besok, maafkan dia.” Ujar Herjuno pelan, mengusap lembut bahu Megumi.
“Kau selalu membelanya.” Megumi mulai terisak.
“Me , kau dan Aurorae sama-sama istriku. Tidak peduli siapa yang pertama dan siapa yang kedua, kalian memiliki hak yang sama. Maafkan aku jika menyakitimu, tapi coba belajarlah menerima. Hem?”
Megumi tidak menjawab , hanya isaknya yang terdengar semakin kencang.
Herjuno menariknya ke dalam pelukan , kemudian menyesap lembut bibir Megumi. Benar-benar lembut, Megumi bahkan lupa kapan terakhir kali Herjuno memperlakukannya dengan begitu sayang. Meremas dadanya pelan , pelan tapi pasti membuat Megumi melayang. Hingga malam itu keduanya menyatu, Herjuno menghentak keras dengan Megumi menddesah nikmat dibawahnya.
Ketika peluh sama-sama membanjiri, Megumi tersenyum senang. Membelai sayang punggung suaminya, dan mengecup bibirnya pelan.
Aku akan merebutmu kembali Mas , hanya aku satu-satunya istrimu.
**
__ADS_1