Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 38 - Kesepakatan Bertiga


__ADS_3

"Kau pasti akan kerepotan saat anak-anak terbangun di malam hari." Herjuno semakin menarik erat Aurorae ke dalam pelukannya.


"Ada Bi Izza Mas. Tidak perlu khawatir. Beberapa hari ini Bi Izza tidak pernah datang saat malam karena tahu ada kau yang menemaniku." Aurorae mengusap-usap punggung Herjuno.


Ada baiknya memang Herjuno pulang dulu ke rumah Megumi. Beberapa hari ini suaminya itu tidak tidur dengan benar. Setiap si kembar terbangun, Herjuno selalu ikut bangun menemani Aurorae menenangkan anak-anaknya.


Herjuno semakin mendekap erat tubuh istrinya.


"Sejujurnya aku takut kau marah. Aku tidak ingin kita bertengkar lagi." ucapnya pelan.


Aurorae tersentak. "Mas , maafkan aku. Apa akhir-akhir ini aku menyulitkanmu?"


Herjuno lekas menggeleng kuat. Hingga Aurorae merasakan pergerakan kepala pria itu di bahunya. "Tidak sama sekali. Aku tahu , aku banyak melukaimu. Aku tidak ingin lagi, meski tidak dengan sengaja."


Aurorae menghela napas. "Kita sama-sama belajar lagi ya , untuk lebih saling memahami , hum?"


Herjuno mengangguk. "Aku sangat ingin membahagiakanmu, Rae. Percayalah."


"Aku bahagia , Mas." Aurorae menarik kedua lengan Herjuno. Membuatnya sedikit menjauh agar bisa menatap wajah suaminya itu.


"Pulanglah , kau juga punya Haidar. Dia pasti merindukanmu." lanjutnya sembari menatap dalam manik mata Herjuno.


Aurorae juga tersenyum. Ingin meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.


"Tinggallah di rumah Megumi beberapa hari agar bisa beristirahat dengan benar." lanjutnya lagi.


Akhirnya malam itu Herjuno pulang ke rumah Megumi. Benar juga, Haidar pasti merindukannya. Beruntung Aurorae tidak merengek macam-macam , sehingga dia bisa pulang dengan tenang tanpa banyak pikiran.

__ADS_1


Herjuno sampai di rumah hampir jam sepuluh malam. Sekeliling rumah sudah temaram , pertanda semua orang sudah tidur. Bi Lilis pun langsung kembali masuk ke dalam kamarnya setelah tadi membuka pintu untuk Herjuno.


Herjuno membuka pintu kamar Haidar lebih dulu. Mendekati bocah itu dengan berjingkit , lalu mencium keningnya pelan sebelum keluar.


Dikamarnya , Megumi juga sudah memejamkan matanya. Herjuno menarik lembut selimut Megumi hingga ke lehernya , mengusap pelan kepala istrinya. Lalu berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Ketika terdengar suara pintu kamar mandi ditutup, Megumi membuka matanya. Dan saat itu juga lah , air mata lolos jatuh ke pipinya.


Ia mengusapnya kasar.


Apa harus aku yang meminta lebih dulu baru kau pulang?


Jahat sekali kamu Mas.


Megumi hanya bisa mengeluh dalam hati , buru-buru ia memejamkan lagi matanya.


**


Sepanjang sarapan , Megumi menekuk wajahnya. Ia sama sekali tidak menanggapi apapun candaan Herjuno dengan Haidar. Dan Herjuno tahu , ini pasti tentang semalam. Tentang Herjuno yang berhari-hari tidak pulang.


"Bi, pagi ini tolong antar Haidar ke sekolah ya. Tidak apa-apa kan?" ucap Herjuno.


Dan Bi Lilis hanya mengangguk. Tidak pernah membantah apapun.


Sedang Megumi melirik suaminya sekilas. Ia tahu, jika sudah begitu pasti Herjuno ingin mengatakan sesuatu yang penting.


Jam tujuh kurang lima belas menit Bi Lilis dengan Haidar, Zhafran , dan Nadia berangkat. Herjuno memberinya uang untuk ongkos taksi. Kebetulan sekolah Nadia dengan sekolah Zhafran dan Haidar searah.

__ADS_1


"Maafkan aku." Herjuno membuka pembicaraan sesaat setelah menutup pintu depan.


Megumi bergeming.


Herjuno meraih pergelangan tangan istrinya untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Maafkan aku , hum? Aku bukan melupakanmu dan Haidar. Hanya saja , Aurorae kerepotan karena baru melahirkan." Herjuno mengusap lembut kepala istrinya.


"Aku memberimu izin menikah lagi karena kau berjanji akan adil , Mas. Sudah kesepakatan kita , tiga hari sekali kau akan pulang." Megumi melirik sinis suaminya.


"Aku tahu , tapi Aurorae ak--"


"Aurorae Aurorae Aurorae! Wanita itu memang tidak habis-habisnya menyakitiku. Dan sepertinya , bayinya itu juga begitu. Akan menyakiti putraku!" Megumi memekik kesal."


"Hentikan , Me ! Aku tidak ingin bertengkar. Aku sudah bilang, aku bersalah. Maafkan aku. Kenapa juga selalu menyebut Aurorae dalam pertengkaran kita?" Herjuno tak kalah kesal. Dia sudah berusaha bicara baik-baik tapi Megumi tidak mengerti. "Dan jangan membawa anak-anak dalam perasaan pribadimu!" lanjutnya lagi.


"Lihatlah , kau selalu saja membela perempuan itu. Dan sekarang, ada anaknya juga yang akan menguasai dirimu!"


"Dengar , aku hanya akan bicara satu kali. Aku takut menyakitimu lebih dalam jika bicara lebih lama lagi." Herjuno menghela napasnya.


"Kita bertiga memang sepakat, masing-masing tiga hari aku datang. Tapi lihatlah situasinya. Aurorae baru saja melahirkan, dia--"


Megumi mencebik. Dan langsung berdiri hendak berlalu , tapi Herjuno menahannya.


"Ingat , saat kau sakit aku juga meninggalkan Aurorae di hari kedua untuk menemanimu disini. Jangan lupakan itu! Saat itu kau membutuhkanku untuk menemanimu ke dokter kan? Aku datang. Kau tahu , aku bahkan melupakan janjiku pada Aurorae untuk mengantarnya ke dokter kandungan. Jadi berhentilah merasa bahwa kau satu-satunya yang diabaikan."


Setelah mengatakan itu, Herjuno berlalu keluar untuk pergi ke kantornya.

__ADS_1


**


__ADS_2