
Aurorae dan Herjuno kompak terbelalak. Apa Haidar bilang tadi? Megumi meninggal?
Aurorae kesulitan menelan makanannya. Susah payah ia mengatasi rasa terkejutnya.
"Mamamu meninggal?" tanyanya memastikan bahwa tadi ia tidak salah dengar.
Haidar mengangguk. "Dua tahun lalu. Saat kuliahku sudah semester akhir."
Haidar mengangkat wajahnya. Menatap Aurorae dengan mata berkaca-kaca. "Tante , aku minta maaf atas semua kesalahan Mamaku. Aku tahu , mamaku sangat bersalah pada tante dan adik-adik."
Hati Aurorae mencelos. Mendengar Haidar menyebut anak-anaknya adik-adik, ada sudut hati Aurorae yang menghangat.
"Semua sudah lama berlalu. Tante sudah lama tidak marah lagi pada Mamamu." Aurorae kembali mengusap lengan Haidar. Ia tidak ingin menambah kesedihan anak itu.
Sepanjang makan siang, Herjuno lebih banyak diam. Terlepas dari bagaimana Megumi memperlakukannya di masa lalu, Herjuno pernah sangat mencintai wanita itu. Bagaimanapun ia menyakiti Herjuno, tetap ada banyak kebaikan yang ia lakukan.
Mendengar mantan istrinya sudah meninggal , ada rasa sesal di sudut hati Herjuno.
Kenapa ia tidak pernah mencari tahu keadaan Megumi selama ini.
Ah , andai dia sedikit perhatian tentang kabar Haidar , pastilah anak itu tidak akan melewati semuanya sendiri. Bagaimanapun, Haidar tidak bersalah. Serta merta membuangnya dari hidup Herjuno , itu akan sangat tidak adil.
Sebelum mereka berpisah di halaman restoran, Herjuno memeluk erat Haidar. Ia menepuk-nepuk punggung anak itu yang entah mengapa membuat Haidar menangis.
__ADS_1
""Kau punya nomor ponsel Papa , kenapa tidak pernah menghubungi?"
"Aku malu. Dan takut Papa menolakku." jawabnya lirih membuat Herjuno semakin merasa bersalah.
"Maafkan Papa. Seharusnya Papa lebih perhatian."
Tentu saja Haidar tidak menyalahkan Herjuno. Ia sangat mengerti, bahwa dirinya bukanlah lagi tanggung jawab Herjuno. Dirinya juga laki-laki, pria mana yang mau membesarkan darah daging orang lain , hasil perselingkuhan istrinya.
Herjuno merawatnya selama dua tahun saat Megumi di penjara saja sudah lebih dari cukup, untuk menuntut lebih tentu saja Haidar masih tahu diri.
Herjuno pulang bersama Aurorae dan si kembar setelah tadi meyakinkan Haidar sekali lagi untuk lebih sering menghubunginya.
Sepanjang perjalanan , Herjuno dan Aurorae banyak diam. Sesekali menanggapi ucapan Ryan atau Ryana , tapi tidak lagi membahas tentang Haidar ataupun masa lalu mereka.
"Rae , maafkanlah Megumi. Aku tahu dia sudah sangat menyakitimu. Maksudku , jika bisa , maafkanlah Megumi." Herjuno menatap iba Aurorae.
"Aku sudah mengatakannya tadi kepada Haidar, Mas. Sudah lama aku tidak marah lagi. Itu bukan kebohongan." Aurorae menarik napasnya pelan. "Lagipula Megumi sudah di hukum di masa lalu, tidak perlu lagi mengungkit kesalahannya."
Herjuno mengangguk membenarkan. Semua sudah lama selesai.
"Aku merasa sangat bersalah. Andai sedikit saja aku lebih perhatian pada Haidar, dia tidak akan melalui semuanya sendirian."
Herjuno sedikit membungkuk. Menutup wajahnya dengan telapak tangan , dan menekan kedua sikunya di paha.
__ADS_1
Tubuh Aurorae juga reflek membungkuk, tangannya terangkat ingin meraih Herjuno yang duduk di sebelah kanan depannya , tapi urung , Aurorae menarik kembali tangan kanannya.
"Haidar tumbuh dengan sangat baik. Pasti menyakitkan untuknya , tapi dia melaluinya dengan baik. Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri , Mas. Kau dengar sendiri tadi Haidar bersyukur kau beberapa kali menemuinya setelah Megumi keluar dari penjara."
Ya , Meski tidak ingin bertemu Megumi sama sekali. Herjuno masih sering menemui Haidar di sekolahnya. Minimal dua atau tiga bulan sekali , Herjuno akan datang. Mengajak Haidar makan siang atau sekedar jalan-jalan.
Hingga terakhir kali saat Haidar kelas tiga SMA, Herjuno masih sempat menemuinya di sekolah.
Tapi selama itu , Haidar tidak pernah bercerita tentang rumahnya yang sudah lama dijual.
Ia pikir , hidup Megumi dan Haidar baik-baik saja. Saat bercerai dari Megumi, Herjuno memastikan tidak mengambil apapun yang sudah dia berikan. Rumah , Mobil, dan isi rekening Megumi yang ia pastikan tidak sedikit.
Selama Megumi di penjara pun, semua biaya hidup Haidar masih di tanggung Herjuno. Herjuno tidak menyentuh sedikitpun isi rekening Megumi.
Ia pikir , uang itu cukup untuk hidup mereka beberapa bulan sebelum mungkin Megumi mencari pekerjaan.
Tidak , isi rekening itu bahkan cukup untuk biaya hidup mereka selama tiga tahun.
Jadi Herjuno sama sekali tidak khawatir.
Herjuno menghela napasnya. "Rae , apa kau keberatan jika aku lebih sering menemui Haidar?"
**
__ADS_1