Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 7 - Menikahlah Denganku


__ADS_3

“ Aku... aku mencintainya. Sangat.. “


Farhan menatap Aurorae tak percaya. Wanita yang duduk disampingnya itu, menangis tersedu-sedu sambil menundukkan kepalanya.


Dia meraih selembar tissue di dashboard mobilnya , dengan perlahan mengulurkan ke hadapan Aurorae.


Tapi wanita itu bergeming. Dia masih menikmati tangisnya.


“Hhhh.. “ Farhan mendesah pelan. Diremasnya selembar tissue yang dia pegang.


“ Rae.. “ baru saja Farhan ingin bicara.


“ Sudah , aku sudah selesai. Ayo kita jalan. “ potong Aurorae, menatap Farhan tersenyum.


Wanita ini. Pintar sekali mengendalikan diri. Menutupi perasaannya.


“Rae... dengarkan aku. “ Farhan masih ingin bicara.


“ Jangan menyakiti dirimu lebih dalam lagi. Tidak semua yang kau inginkan , bisa menjadi milikmu. Percayalah, apa yang menjadi takdirmu tidak akan pernah melewatkan mu. Dan mereka yang melewatkanmu, tidak akan pernah menjadi takdirmu. Sayangi dirimu sendiri Rae... Lupakan Pak Herjuno. “ lanjut Farhan menatap dalam mata Aurorae.


Aurorae mengerjap.


“ Kau... tahu?” tanyanya kemudian. Apa ini, Farhan mengetahui tentang perasaan nya? Atau dia juga mengetahui tentang hubungannya dengan Herjuno? Siapa lagi yang mengetahui nya? Apa dia selama ini tidak bisa mengendalikan diri dengan baik saat di kantor? Sehingga membuat orang lain bisa mengetahui hubungan yang dia sembunyikan?. Rentetan pertanyaan demi pertanyaan berputar di dalam kepalanya.


“ Hem... dan tidak hanya aku, aku yakin beberapa orang lain di divisi kita juga sudah mengetahui ada hubungan spesial antara kau dan Pak Herjuno.” Farhan menggenggam lembut tangan Aurorae.


Aurorae kembali terisak.


“Rae.. berpalinglah kepadaku.” Ucap Farhan akhirnya.


Aurorae terdiam. Menajamkan pendengarannya, lalu menoleh ke kanan mendapati Farhan yang sedang lekat menatapnya.


“ Apa kau bilang?” tanya Aurorae memastikan. Dia berharap salah dengar.


“ Berpalinglah kepadaku. Lupakan Pak Herjuno. Mulailah semua dari awal bersamaku. “ jawab Farhan mantap. Tidak ada keraguan di dalam sorot matanya.


Aurorae mendesah. Dia tahu, sudah lama Farhan menaruh hati padanya. Dia hanya pura-pura tidak tahu.


“Han.. maafkan aku.” Aurorae tidak bisa mengatakan apapun , hanya kata maaf yang keluar dari bibirnya.


“Aku tahu. Tidak mudah bagimu. Tapi Rae .. izinkan aku selalu berada di sisimu. Jangan pernah hilang dari pandanganku, agar kau tidak pernah punya kesempatan lagi untuk memperbaiki hubunganmu dengan Pak Juno. Hem? ” Farhan menatapnya lembut.


“ Mana bisa seperti itu Han.. itu membuatku terlihat sangat jahat. Memanfaatkanmu hanya untuk kepentinganku.” Aurorae menggeleng pelan.


“ Tak masalah. Manfaatkan aku sebanyak yang kau mau. Tetaplah disisiku. Tentang perasaanmu, biarkan waktu yang memberi jawabannya.” Jawab Farhan tak ingin ada penolakan.


Aurorae hanya mentapnya iba. Menyedihkan sekali jadi Farhan. Dan , jahat sekali dirinya. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Farhan benar, berada di sisinya bisa menutup kesempatan untuk dia kembali luluh pada Herjuno.

__ADS_1


**


Suasana Rapat pagi itu begitu dingin. Semua Marketing Manager beserta staffnya dari dua puluh tiga cabang perusahaan berkumpul di ruangan itu. Evaluasi yang diadakan setahun sekali, untuk meningkatkan kinerja mereka.


Ada sebuah meja bundar berukuran sangat besar, memiliki dua puluh lima kursi di masing-masing sisinya. Dan juga empat kursi di ujung meja kanan dan kiri, yang di siapkan untuk CEO dan beberapa komisaris perusahaan yang mengikuti rapat pagi itu. Semua Manager Marketing duduk di deretan kursi yang ada di sisi kiri kursi CEO , sedangkan staff mereka di sisi sebaliknya. Saling berhadapan.


Ketegangan nampak jelas di semua wajah peserta rapat. CEO mereka dikenal teliti dan sangat tegas. Sedikit saja mereka menimbulkan masalah, jangan harap presentasi mereka berakhir dengan mudah.


“Apa suasana Rakernas selalu se tegang ini?” Farhan berbisik di samping Aurorae. Diremasnya pena yang sejak tadi ia genggam . Ini pertama kalinya mengikuti Rapat sebesar ini.


“ Hem.. tenanglah.. tidak perlu gugup, persiapkan saja presentasimu dengan baik.” Aurorae menenangkan. Padahal dia sendiri juga sedang menahan diri agar tidak pingsan, karena jantungnya yang berdetak sangat kencang. Bukan gugup karena jalannya rapat , tapi sejak rapat dimulai, tatapan Herjuno tidak pernah lepas pada dirinya. Tatapan yang entah, apa sebenarnya yang ada dipikirannya. Ada banyak sekali rasa kesal di wajahnya. Terlebih saat di seberang sana interaksi Aurorae dan Farhan terlihat sangat dekat. Herjuno kesal sekali, tidak rela ada yang sedekat itu dengan wanita yang dicintainya. Apalagi rasa penasarannya belum terjawab, kenapa tadi Aurorae dan Farhan lama sekali tidak lekas sampai di kantor, padahal saat meninggalkan hotel dia memastikan Aurorae dan Farhan mengekori mobilnya.


**


“ Rae... bisa kita bicara sebentar?” panggil Herjuno ketika mereka sudah sampai di lobby hotel setelah kembali dari kantor cabang.


Jam sudah menunjukkan pukul 22.30 , sudah larut dan Aurorae sudah sangat lelah.


Aurorae yang berjalan disamping Farhan berhenti. Menoleh ke belakang , menatap Herjuno tajam menunjukkan ketidaksukaan nya karena Herjuno memanggilnya begitu akrab.


“ Ada apa Pak?” tanya Aurorae akhirnya.


Herjuno melirik ke arah Farhan yang tadi ikut menghentikan langkahnya.


“ Aku ingin bicara tentang hal pribadi.” Herjuno mengalihkan tatapannya pada Aurorae. Dia sengaja tidak memperbaiki bahasanya, agar Farhan mengerti isyarat bahwa Herjuno ingin dia meninggalkan mereka berdua.


“ Rae... kumohon...” Herjuno mencekal pergelangan tangan Aurorae.


“ Lepaskan. Saya tidak ingin orang lain berfikir macam-macam.” Aurorae menghentakkan tangan Herjuno kasar.


“ Rae kumohon.. jangan seperti ini.. mari kita bicara.” Herjuno masih berusaha meraih tangannya. Tapi Aurorae segera mundur menghindar.


“ Pak Juno , Rae.. jangan seperti ini.. Kalian akan menarik perhatian orang lain nanti. Jika ingin bicara , bicaralah dengan tenang. Coffeeshop hotel di bagian utara lobby pasti masih buka. Kalian bisa bicara disana.” Farhan menengahi. Karena kini beberapa mata mulai memandang ingin tahu ke arah mereka bertiga. Farhan tidak ingin ada keributan. Terlebih melihat Aurorae yang mulai tidak bisa mengendalikan emosinya.


“ Han... “ Aurorae menoleh cepat dan mendelik menatap Farhan. Tanda protesnya. Bukan membantunya untuk lepas dari Herjuno , Farhan malah memperumit keadaan.


“ Baiklah. Aku tunggu di coffeeshop. “ ucap Herjuno akhirnya sambil melangkah pergi.


“ Apa ini Han? Kau tahu tidak ada lagi yang ingin kubicarakan dengannya.” Kesal Aurorae.


“ Rae.. jangan lari. Untuk terakhir kalinya dengar saja apa yang ingin dia katakan. Dan untuk terakhir kali juga katakan apa yg kau ingin dia dengar. Akhiri semuanya dengan jelas. Tegaslah. Agar dia tidak lagi mengusikmu. Memangnya kau siap menghadapi drama nya yang seperi ini setiap hari? Dia tidak akan menyerah sampai kau benar-benar meyakinkannya apa yang kau mau.” Tutur Farhan sabar, mencoba memberi jalan tengah yang terbaik dari masalah yang dihadapi Aurorae.


“Aku akan menunggumu disini. Pergilah.” Sambung Farhan lagi.


Aurorae menghembuskan nafasnya pelan.


“ Tunggu aku disini, kau sudah berjanji.” Aurorae mengacungkan jari telunjuknya di hadapan Farhan, lalu berjalan ke arah utara menyusul Herjuno.

__ADS_1


Farhan benar. Dia harus segera menyelesaikan ini semua. Dia tidak ingin Herjuno berharap hubungan mereka masih bisa diperbaiki, dan terus-terusan mengusiknya. Dia ingin melewati enam bulan terakhir dengan tenang sebelum benar-benar berhenti dari pekerjaannya.


**


Farhan berdiri dari duduknya. Menatap Aurorae yang berjalan pelan kearahnya. Terlihat jelas ia sedang menahan tangisnya.


“ Apa sudah selesai?” tanya Farhan.


Aurorae mengangguk pelan. Dia mendongak ke atas mengedip-ngedipkan matanya dan dengan gerakan kedua tangan mengipas wajahnya.


“ Ah.. ada apa denganku? Kenapa sulit sekali menahan air mata ini.” Celotehnya.


Farhan mengusap pelan kepala Aurorae.


“Tidak apa-apa. Perlahan saja hem?” ucap Farhan menenangkan.


“ Singkirkan tanganmu dari kepalanya.” Pekik Herjuno kencang. Membuat Farhan dan Aurorae tersentak kaget.


Herjuno mencekal kuat pergelangan tangan Farhan.


“Jauhkan tanganmu dari kekasihku.” Geram Herjuno.


Aurorae meradang.


“ Hentikan. Apa ini Mas? Bukankah sudah jelas aku bilang berhentilah mengusikku. Biarkan aku hidup dengan tenang. Jangan lebih dalam lagi melukaiku. Jalani hidup bersama istrimu dengan baik, akupun akan mencoba memulai hidup yang baik bersama Farhan. Kumohon, menjauhlah dari kami. “ Aurorae tak bisa lagi menahan isak tangisnya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan beberapa pasang mata yang sedang memperhatikan mereka.


“ Memulai hidup yang baik katamu? Dengan pria ini? Jangan mimpi Rae... aku tidak akan melepaskanmu.” Herjuno tak menyerah.


“ Rae .. tenanglah. Kendalikan dirimu. “ Farhan menenangkan Aurorae yang semakin terisak.


“ Pak Juno, maafkan saya jika lancang. Tapi sebuah hubungan itu harus atas keinginan kedua belah pihak. Jika Aurorae tidak ingin lagi bersama Anda , jangan memaksanya. Lagipula Anda sudah memiliki sebuah keluarga. Bukankah itu terlalu serakah jika menginginkan selingkuhan juga?” ucap Farhan tegas.


“ Jangan ikut campur urusanku dan Aurorae Farhan.. jaga batasanmu. “ kesal Herjuno.


“ Anda yang seharusnya menjaga batasan Pak Juno, seperti yang Anda dengar tadi, saya dan Aurorae tengah menjalin hubungan. Tidak mungkin saya diam saja , ketika orang lain membuat kekasih saya menangis. Semoga Anda mengerti Pak Juno.. Kami permisi dulu.” Tegas Farhan lagi.


Herjuno meradang. Apalagi saat dilihatnya Aurorae menurut saja pada Farhan yg menggenggam tangannya berbalik meninggalkan Herjuno.


Baru dua langkah mereka pergi. Herjuno berkata lagi.


“ Rae... Mari kita menikah.”


Aurorae menoleh.


“ Menikahlah denganku. Ku mohon..” ucapnya lagi.


**

__ADS_1


__ADS_2