Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 78 - Berubah Pikiran?


__ADS_3

Herjuno menatap dalam kedua anaknya. Sejak tadi genggaman kedua tangannya di masing-masing satu tangan anak-anak tidak pernah ia lepaskan. Jantungnya berdegup kencang, ia jauh lebih gugup sekarang ketimbang saat berbicara dengan Gumilar malam itu.


Ryana melirik Ryan sekilas. Setelah mendengar pengakuan Ayahnya tadi, ia tidak tahu harus bicara apa. Ayah dan Ibunya kembali bersama? Tentu ia akan sangat bahagia. Tapi apa Ibunya bersedia? Itu yang sedang ia pikirkan. Jangan sampai nanti Ibunya terpaksa menerima kembali Ayah mereka hanya karena terlanjur melihat reaksi bahagia yang berlebihan dari Ryan dan Ryana.


"Ayah.." Ryan mengambil suara , tangannya semakin erat menggenggam tangan Herjuno.


"Ayah adalah Ayah terbaik untuk kami. Meski kita tinggal terpisah , tapi aku dan Ryana tidak pernah kekurangan apapun."


Ryana mengangguk yakin membenarkan ucapan kakaknya.


"Aku dan Ryana selalu bangga memiliki Ayah seperti Ayah. Jika ditawari Ayah lain pun , kami tidak akan mau."


Herjuno berkaca-kaca. Ada sudut hatinya yang merasa haru mendengar ucapan putranya.


Sedang Ryan menarik napas pelan , menjeda sejenak ucapannya. "Sebagai Ayah , Ayah sangat sempurna. Tapi Ayah, sebagai suami Ibuku , ku pikir Ibu layak mendapat yang jauh lebih baik."


Deg.


Herjuno tergugu.

__ADS_1


"Ayah jangan salah paham. Sudah ku bilang , Ayah adalah Ayah sempurna." Ryan seperti takut Ayahnya berpikir hal lain.


"Tapi Ayah, aku tidak ingin Ibu kembali pada Ayah hanya karena kami , karena ingin kami bahagia sampai Ibu tidak memedulikan kebahagiaannya sendiri. Kami tidak mau. Seperti ini saja , kami sudah sangat bahagia. Ayah tidak pernah meninggalkan kami, kita hanya tinggal terpisah."


Ryana mengangguk cepat. "Ayah jangan sedih, maksud Abang jika memang Ibu ingin dan bahagia , tentu saja kami juga sangat bahagia. Tapi jika kalian kembali bersama hanya karena kami, kami akan sedih."


"Begitupun Ayah , kami ingin Ayah juga bahagia. Kami menyayangi Ayah sama besar dengan kami menyayangi Ibu. Kembalilah jika memang itu membuat Ibu dan Ayah bahagia. Jangan terpaksa hanya karena merasa bersalah kepada kami." Ryan menghambur memeluk Herjuno, ia menenggelamkan wajahnya di bahu Ayahnya.


"Ku mohon jangan sedih , kami sangat menyayangi Ayah."


Air mata Herjuno lolos tidak terkendali. Ia mengeratkan pelukan Ryan.


"Ayah adalah Ayah kami, sudah Abang bilang tadi kami bangga memiliki Ayah seperti Ayah." Ryana juga menubruk tubuh kakaknya dari belakang , ikut memeluk Herjuno.


**


Dua hari berlalu sejak wisata Herjuno bersama kedua anaknya , dan selama dua hari ini baik Ryan maupun Ryana tidak bicara apapun pada Aurorae.


Siang ini , Aurorae dan Herjuno berjanji akan makan siang bersama di cafe dekat Stockholm Group, perusahaan tempat Herjuno bekerja. Membicarakan hal ini dirumah , membuat mereka kurang leluasa. Jadi Herjuno meminta Aurorae menemuinya di luar rumah.

__ADS_1


"Ada masalah apa , Mas?" tanya Aurorae karena sejak tadi Herjuno terlihat kurang bersemangat sembari terus mengaduk makanan di hadapannya.


Herjuno menarik napas sejenak. "Rae , jujurlah. Apa kau bersedia kembali kepadaku?"


Aurorae mengernyit. "Mas , kita sudah membahas ini sebelumnya kan? Akan ku pertimbangkan, jika Ayah dan anak-anak setuju."


"Lupakan dulu tentang yang lain , bagaimana dengan dirimu? Jauh di lubuk hatimu, apa kau bersedia?" Jujur , Herjuno mulai takut. Takut jika yang dikatakan anak-anak adalah benar. Tentang Aurorae yang mungkin menerimanya kembali hanya demi anak-anak. Herjuno tidak mau seperti itu , seolah Aurorae terpaksa menerimanya kembali.


"Kau ragu?" Tanya Herjuno lagi karena Aurorae belum juga bicara.


"Aku mencintaimu, Rae. Sangat mencintaimu. Kau kembali padaku adalah harapan terbesarku. Tapi jika kau bersedia hanya karena memikirkan anak-anak , jika kau mengabaikan perasaanmu sendiri, aku tidak bisa."


Herjuno menjeda sejenak kalimatnya. "Maafkan aku yang tidak tahu diri memintamu kembali. Aku bahkan mengabaikan kemungkinan kau hanya mempertimbangkan anak-anak, membuktikan sekali lagi bahwa aku sangat egois. Jika bukan karena perkataan Ryan dan Ryana , aku mungkin tidak akan pernah menyadarinya. Maafkan aku."


Herjuno menarik napas panjang, susah payah ia menahan tangisnya. "Tidak apa-apa jika kau tidak bisa menerimaku kembali , selama kau tidak menjauhiku , itu sudah cukup untukku."


"Mas , kau berubah pikiran?"


**

__ADS_1


__ADS_2