
"Ya , baby?"
Di seberang sana Ryana terkekeh mendengar suara Ayahnya. "Ayah, berhenti memanggilku begitu. Aku bukan bayi lagi."
Herjuno lagi-lagi tersenyum. "Kau dan Abang tetap bayi bagi Ayah."
Ryana berdecih disela tawanya. "Coba saja memanggil Abang begitu , maka dia tidak akan mau lagi bicara dengan Ayah sampai bulan depan."
Kali ini Herjuno tertawa. Anak laki-lakinya itu entah menurun siapa , dingin dan mudah kesal.
"Ayah cepatlah , kenapa belum datang?" kali ini suara Ryan yang terdengar menginterupsi.
Herjuno melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul tujuh pagi.
"Ayah berangkat sekarang. Apa kalian sudah siap?"
"Sudah. Tapi Ibu belum turun."
Herjuno melajukan mobilnya ke rumah Aurorae setelah tadi memutus sambungan telepon dengan anak-anaknya.
Hanya dua menit perjalanan , kini mobilnya sudah terparkir di halaman rumah Aurorae.
"Ayah! Ayah! Ayah!" Ryana bersorak riang saat melihat Herjuno turun dari mobil.
Ryan berdecih sebal. "Pantas saya Ayah memanggilmu baby, kau memang seperti bayi."
Ryana melotot kesal , sedang Herjuno malah menikmati keributan diantara putra-putrinya.
"Apa salahnya panggilan baby? Itu menggemaskan." Herjuno mengusap lembut kepala Ryan dan menarik Ryana ke dalam pelukannya.
"Jangan memanggilku begitu di depan orang lain , Ayah."
__ADS_1
"Kenapa? Ryana tidak suka?" Herjuno menampilkan raut kecewanya.
"Usiaku delapan belas tahun kalau Ayah lupa. Itu sedikit memalukan." Ryana terkikik geli.
"Baiklah. Berangkat sekarang? Apa Ibu belum turun?"
Ryan dan Ryana kompak menggeleng.
"Wanita selalu lama berdandan." Ryan menggumam membuat Herjuno terkekeh.
"Aku akan mengadukanmu pada Ibu!" Ryana menatap sebal pada kakaknya.
Ryan hanya memutar bola matanya malas. Adukan saja , apa yang salah dengan bicaranya, wanita memang selalu lama jika berdandan.
Tidak lama kemudian , Aurorae turun. Dengan atasan kebaya merah maroon senada dengan warna baju Herjuno, dan rok batik yang dililit ke pinggang membuatnya tampak mempesona. Jika orang yang tidak mengenalnya pasti tidak akan percaya wanita itu berusia empat puluh satu , dan sudah memiliki dua orang anak remaja.
"Ibuku sangat cantik!" Ryana memuji.
"Kau sangat cantik." ucap Herjuno setengah berbisik saat sengaja mensejajari langkah Aurorae.
Aurorae menoleh tersenyum. "Terima kasih."
Hari ini mereka berangkat ke sekolah untuk menghadiri acara kelulusan anak-anak. Ryan dan Ryana lulus sekolah menengah dengan nilai yang memuaskan. Ryan bahkan langsung di terima di salah satu universitas terbaik di Bandung tanpa melakukan tes apapun. Sedang Ryana , meski tidak mendapat jalur prestasi, tapi baik Herjuno maupun Aurorae yakin putrinya itu bisa di terima di universitas yang sama dengan Ryan melalui serangkaian tes penerimaan mahasiswa baru yang dimulai bulan depan. Meski tidak lebih unggul dari kakaknya , Ryana juga tidak pernah mengecewakan.
Aurorae mengusap pelan ujung matanya saat menatap Ryan yang menerima penghargaan sebagai wisudawan terbaik di atas sana. Herjuno mengulurkan sapu tangan miliknya.
"Terima kasih , kau membesarkan anak-anak dengan sangat baik." Herjuno berbisik tidak ingin suaranya terdengar undangan lain.
Aurorae tersenyum. "Kau juga banyak hadir , Mas. Terima kasih banyak." Mata Aurorae sudah berkaca-kaca.
"Aku tulus mengatakan itu." kata Aurorae lagi, karena Herjuno hanya menatapnya.
__ADS_1
Satu tetes air mata lolos begitu saja , Herjuno segera mengusapnya cepat sambil terkekeh. "Ah, aku cengeng sekali."
Mereka kembali memperhatikan jalannya acara. Di depan sana , Ryana berdiri dan langsung memeluk kakaknya segera setelah Ryan turun dari atas panggung.
Anak itu berdecih sebal. "Jangan memelukku di depan orang lain, ini memalukan!"
Ryana tidak peduli. Ia semakin mengeratkan pelukannya sambil tertawa. Membuat semua yang ada di dalam aula terkekeh. Dua kembar itu memang selalu membuat keributan , bukan hal baru bagi teman-temannya.
"Ibu, bangga tidak tadi melihat Abang bicara di pentas?" Ryana bergelayut di lengan Aurorae saat berjalan menuju area parkir sekolah.
Ryan mendecih. "Astaga pentas. Podium!"
"Itu maksudku!" Ryana seketika ikut kesal.
Herjuno dan Aurorae terkekeh.
"Tentu saja , semua orang pasti iri pada Ibu dan Ayah karena memiliki anak-anak pintar seperti kalian." Aurorae menarik Ryana untuk memeluknya lebih erat.
Ryana mengangguk. "Abang memang sangat pintar. Meski kadang-kadang menyebalkan , tapi aku suka memiliki kakak yang pintar." ia terkikik sendiri.
"Putri Ibu ini juga sangat pintar." Aurorae menjepit hidung Ryana dengan kedua jarinya.
Percakapan mereka terhenti , saat seseorang menghalangi langkah mereka.
Herjuno menatap lekat pria di hadapannya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba datang menusuk ke dalam hati , saat ia melihat mata pria itu berkaca-kaca.
"Haidar?" tanya Herjuno ragu-ragu.
"Papa , apa kabar?"
**
__ADS_1