
Herjuno terus melesak maju mundur di dalam tubuh Aurorae. Tangannya jangan ditanya , sudah bergerak menyentuh apapun yang berada dalam jangkauannya.
"Mas, ah... " lenguhan panjang Aurorae menandakan pelepasannya.
Ia mencengkeram erat bahu Herjuno.
Tapi pria itu tidak terlihat kesakitan sama sekali. Ia terus bergerak , mendongakkan kepalanya ke atas sembari tangan kanan meremmas kuat payyudaraa istrinya.
Sedetik kemudian ia menghentak lebih dalam dan meraih bibir Aurorae dengan bibirnya.
"Ah, sayang.. Aku mencintaimu Rae." ujarnya dengan napas terengah-engah mengecup pelan pipi kanan Aurorae.
**
"Habiskan! Makan yang banyak." Herjuno tersenyum manis meletakkan sepiring nasi beserta lauk pauk di hadapan Aurorae.
Malam ini mereka makan makanan delivery , mana sempat Aurorae memasak. Herjuno sama sekali tidak melepaskannya di kamar sejak pulang sore tadi.
"Mas , besok jadwalku ke dokter kandungan. Bisa pulang lebih cepat tidak?" tanya Aurorae sembari mengunyah makanannya.
Jadwal praktek dokter kandungan Aurorae memang sore hari, satu jam sebelum jam pulang kantor Herjuno.
"Ya. Aku pulang cepat besok."
Aurorae melempar senyum.
"Tapi malam ini boleh aku pulang ke rumah Megumi?"
Dan senyuman Aurorae seketika meredup.
Ia mendongak. "Mas , kamu baru dua hari disini."
Herjuno cepat menggenggam sebelah tangan istrinya.
"Megumi tidak enak badan , sayang. Tadi dia menelepon , tidak mungkin aku tinggalkan hanya dengan anak-anak dan Bi Lilis."
Tidak ada perdebatan lagi. Aurorae hanya mengangguk samar tanpa menatap suaminya.
**
Herjuno bergegas masuk lebih dalam ke ruang tengah saat Bi Lilis membuka pintu depan.
"Dimana Ibu?" tanyanya sembari terus berjalan.
"Sudah masuk kamar setelah makan malam Pak." Bi Lilis mengekori langkah Herjuno. "Bapak apa ingin saya siapkan untuk makan malam?" sambungnya lagi sebelum Herjuno benar-benar membuka pintu kamar.
"Tidak perlu Bi. Saya sudah makan. Bibi istirahat saja." jawabnya sambil meraih gagang pintu.
Lalu berbalik. "Apa Haidar sudah tidur?"
__ADS_1
"Belum Pak , masih bermain di kamar dengan Zhafran."
Herjuno mengangguk. "Nanti saya temani anak-anak setelah mandi."
Bi Lilis mengangguk dan berlalu saat Herjuno masuk ke dalam kamar.
"Kamu baik-baik saja? Mana yang sakit?" tanyanya menghampiri Megumi yang sedang berbaring di atas ranjang.
Ia duduk di sisi ranjang, melipat salah satu kakinya , sebelum siku tangan kiri bertumpu di atas pahanya.
Tangan kanannya terulur , mengusap pelan kening istri pertamanya.
"Aku hanya tidak enak badan Mas." jawab Megumi sambil menarik lebih tinggi selimutnya sampai batas leher.
Herjuno mengangguk. "Tidak demam. Istirahatlah. Apa perlu ke rumah sakit?"
"Tidak. Aku hanya sedikit kelelahan." jawab Megumi dengan sedikit gelengan kepala.
Herjuno berdiri dari duduknya , menggulung pelan lengan kemejanya. "Aku akan mandi sebentar. Kamu istirahat saja , supaya besok lebih segar."
Megumi mengangguk sambil menyunggingkan senyum kecil. Memperhatikan Herjuno yang mengambil ponsel di saku celananya , seperti mengirim pesan kepada seseorang, lalu meletakkan ponsel di nakas.
Megumi masih terus memperhatikan hingga suaminya masuk ke dalam kamar mandi.
**
"Papa!" Haidar memekik senang saat dilihat yang membuka pintu adalah Herjuno.
"Ya. Sudah selesai?" jawab Herjuno sambil meraih tubuh putranya ke dalam gendongan.
"Rindu papa tidak?" tanyanya lagi dengan sedikit mendongak karena posisi Haidar lebih tinggi di dalam gendongannya.
"Hum." Anak itu mengangguk antusias.
Herjuno lalu menurunkan Haidar ke karpet tempat ia duduk dengan Zhafran tadi.
"Sedang main apa?" tanya Herjuno menatap Zhafran.
"Zhafran membantu Haidar membuat perahu Pak." Putra Bi Lilis itu menjawabnya malu-malu.
"Oh ya? Wow hebat, Haidar sudah bisa?" kali ini Herjuno menoleh pada putranya.
"Hum. Sudah. Lihat" Anak laki-laki belum genap lima tahun itu menunjukkan perahu kertas hasil karyanya kepada sang Ayah.
"Bagus sekali." Herjuno mengacak pelan rambut putranya. "Terima kasih ya Zhafran sudah menemani Haidar bermain." kali ini Herjuno menatap Zhafran.
Dan anak itu hanya mengangguk.
"Papa apa boleh Abang Zhafran tidur di kamar Haidar?"
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Haidar takut tidur sendiri?"
"Tidak." Haidar menggeleng. "Tapi kamar Bibi terlalu sempit untuk bertiga. Kak Nadia sudah besar, tidak cocok bermain dengan Abang Zhafran. Lebih baik Abang dengan Haidar. Ya kan Bang?"
Dan lagi-lagi Zhafran hanya mengangguk malu-malu. Membuat Herjuno terkekeh.
"Papa akan bicara dengan Mama dan Bibi besok. Jika Mama dan Bibi setuju, Papa akan ganti ranjang Haidar dengan yang lebih besar. Juga menambah meja belajar. Bagaimana?"
"Hum." hanya Haidar yang bersemangat menjawab. Zhafran tentu saja masih malu-malu
**
Pagi ini Haidar sarapan dengan riang. Ia terus saja berceloteh tentang Zhafran yang akan pindah menempati kamar miliknya. Tentang bagaimana mereka akan bermain , membaca dongeng, dan tidur bersama sepanjang malam.
Diantara semua orang, hanya Herjuno yang menanggapi dengan antusias.
"Tapi tidak boleh begadang, meski ada Abang Zhafran , tetap harus segera tidur jika sudah waktunya." Herjuno mengingatkan.
"Ya Papa. Haidar selalu tidur jam sembilan malam." Anak itu benar-benar bersemangat, senyuman tidak pernah lepas dari bibirnya.
Megumi hanya meliriknya sebentar dan sesekali memijit pelipisnya pelan.
Sedang Bi Lilis , hanya menghela napas canggung. Sudah bagus diberi tempat tinggal dan makan gratis untuk dia sekaligus anak-anaknya. Gaji yang ia terima setiap bulan juga lebih dari sekedar layak. Bi Lilis sungguh tidak enak jika Zhafran terlalu menikmati semua fasilitas yang ada di rumah ini.
"Haidar ingin Zhafran tidur di kamarnya. Tidak apa-apa kan?" Herjuno menoleh pada Megumi yang duduk di sisi kanannya.
Megumi hanya mengangguk dengan senyum tipis. Herjuno tersenyum mengusap pelan lengan istrinya.
"Tidak apa-apa kan Bi?" kali ini Herjuno menatap Bi Lilis yang sedang meletakkan satu teko air putih di atas meja makan.
"Apa tidak menganggu Pak?" tanyanya ragu-ragu.
Pertanyaan macam apa itu. Entahlah, Bi Lilis hanya ingin menolak, tapi tidak menemukan cara yang lebih pas.
Herjuno terkekeh.
"Tidak apa-apa Bi. Nanti saya pesankan ranjang yang lebih luas untuk di kamar Haidar." ujar Herjuno meyakinkan.
"Beli satu ranjang lagi saja. Masih muat di kamar Haidar jika menambah satu ranjang lagi dengan ukuran yang sama." Megumi akhirnya menimpali. Masih dengan malas mengaduk-aduk makananya.
"Ah benar, supaya mereka tetap nyaman memang lebih baik ada dua ranjang. Saya khawatir mereka akan saling menendang jika diatas ranjang yang sama." Herjuno terkekeh lagi.
Megumi menatapnya heran. Entah apa yang lucu , kenapa suaminya banyak sekali tertawa pagi-pagi begini.
Sedang Bi Lilis menunduk gamang saat diliriknya Megumi yang jelas menunjukkan ketidaksukaannya. Hanya saja Herjuno tidak peka.
"Terima kasih Pak, Bu. Bapak dan Ibu sudah sangat baik sekali kepada saya dan anak-anak." Hanya itu yg akhirnya bisa dia ucapkan.
Ditanggapi dengan senyuman oleh Herjuno, dan tatapan tajam oleh Megumi.
__ADS_1
**