
Siang ini, Herjuno tidak kembali ke kantor. Ia lebih memilih pulang ke rumah Aurorae, belum terlambat untuk memperbaiki semuanya.
Hanya lima belas menit perjalanan dari pengadilan ke rumah Aurorae, tapi Herjuno sangat tidak sabar. Ia memukul-mukul roda kemudi saat jalanan sangat padat. Tangisnya jangan ditanya lagi, seperti tidak habis habis air dari dalam matanya keluar.
Herjuno melompat keluar dalam mobilnya. Menekan bel berulang kali tapi tidak ada jawaban.
Apa Aurorae ke ruko?
Dimana Bi Izza?
Herjuno kembali ke mobil, mengambil kunci rumah yang ia pegang lalu melesat masuk ke dalam , setengah berlari ia naik ke lantai atas tanpa memperhatikan sekelilingnya.
Tidak ada siapapun di kamar anak-anak. Saat ia mendorong keras pintu kamar utama, tidak ada siapapun juga disana.
Herjuno berbalik , merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.
Tapi tangannya menggantung begitu saja sebelum sempat menghubungi siapapun. Ia kembali berbalik, menatap ke dalam kamar.
Seperti menyadari sesuatu , setengah berlari Herjuno mendekati lemari.
Kosong.
Hanya ada beberapa helai kemeja yang menggantung, juga beberapa pakaian yang terlipat rapi. Semua itu miliknya.
Herjuno mundur sampai menyentuh ranjang. Ia terduduk lemas , tangisnya semakin kencang.
**
Herjuno mengetuk tidak sabar pintu rumah Gumilar. Rumah yang sempat ia tinggali di awal-awal pernikahan bersama Aurorae.
__ADS_1
Gumilar tersenyum lalu mempersilahkan Herjuno untuk masuk ke dalam.
"Ayah , dimana Rae? Aku baru saja dari rumah tapi tidak ada siapapun." ucap Herjuno bahkan sebelum benar-benar duduk di sofa ruang tamu.
"Ayah ke kamar sebentar. Lihatlah sendiri di lemari es ada minuman apa." Gumilar melangkah menjauh meninggalkan Herjuno seorang diri.
Dan saat ia kembali, keningnya mengernyit karena tidak melihat botol minuman apapun di meja, jadi ia berbelok ke arah dapur, mengambil sebotol air mineral dingin dari dalam lemari es.
"Di dalam sini ada rekaman CCTV supermarket saat kedua istrimu berdebat. Juga CCTV dari toko diseberang jalan." Gumilar mengedikkan dagunya menunjuk sebuah toko serba ada yang tepat berada di seberang jalan rumah Gumilar.
"Dimana Rae dan anak-anak , Yah?" Herjuno tidak mengindahkan perkataan Gumilar , dia hanya peduli pada keberadaan istri dan anak-anaknya.
"Ada. Mereka baik-baik saja. Tidak perlu khawatir."
"Yah , aku--"
"Beri waktu untuk Aurorae sendiri , Juno. Dia akan menghubungimu nanti."
"Bawalah ini. Agar tidak ada keraguan tentang apa yang terjadi di masa lalu." Gumilar kembali mendorong sebuah amplop kecil ke hadapan Herjuno.
**
Sejujurnya ingin sekali Herjuno bersimpuh dihadapan Dea agar wanita itu memberi tahu dimana Aurorae dan anak-anaknya. Dea pasti tahu. Wanita itu tidak akan memberitahunya dengan mudah , maka meski harus bersimpuh sepanjang malam di luar rumah Dea akan ia lakukan.
Herjuno menelan ludahnya kasar. Tidak mungkin kan dia harus ke rumah Dea , bagaimana tanggapan suaminya nanti? Bisa-bisa hanya akan menambah masalah baru.
Sudah sangat sore jika Herjuno kembali ke kantor sekarang, jadi dia memutuskan untuk pulang saja kerumah Megumi.
Mengingat Megumi, dadanya bergemuruh.
__ADS_1
Sejak tadi , ia hanya fokus bagaimana menemui Aurorae. Tapi kini, ketika mobilnya melaju ke arah rumah Megumi, amarahnya meluap-luap.
"Astaga Megumi." Herjuno menggumam kecil lalu memukul-mukul roda kemudinya.
**
Herjuno mendorong kasar pintu depan , ia masuk lebih dalam ke area rumahnya. Ujung matanya menangkap Megumi yang sedang memotong buah di meja makan.
Tanpa bicara apapun , Herjuno menarik kasar tangan Megumi.
"Mas , apa-apaan? Lepas!" Megumi meronta, menghentakkan tangan Herjuno yang sedang mencengkeramnya.
Megumi mundur dua langkah ketika Herjuno akan meraih tangannya kembali.
"Kendalikan dirimu! Ada Haidar." ucapnya berbisik. Berharap Herjuno sedikit melunak.
Tapi sayang, pria itu seperti sudah tidak peduli apapun lagi.
"Baiklah. Aku tidak apa-apa bicara disini. Apa tidak masalah putramu mendengar sebusuk apa Ibunya?" Herjuno menyeringai tanpa memelankan suaranya.
Megumi mendelik kaget. Ujung matanya menangkap Bi Lilis dengan reaksi yang sama. Dan Haidar yang juga seketika menoleh, menatap kedua orangtuanya.
"Bi tolong bawa anak-anak jalan-jalan keluar." Sedikit bergetar , Megumi meminta ruang untuk ia bicara berdua dengan Herjuno.
Dan Bi Lilis hanya mengangguk patuh, lalu menggiring Haidar bersama Zhafran untuk keluar. Sedang Nadia memang belum kembali dari sekolahnya.
"Tega sekali kau, Mas! Tidak mencintaiku tidak apa-apa tapi jangan mengatakan hal buruk di depan Haidar!" Megumi memekik kesal saat sudah terdengar suara pintu depan ditutup.
"Kau sungguh menyayangi anakmu , Megumi. Sampai-sampai tidak peduli pada anak orang lain."
__ADS_1
**