Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 76 - Piknik


__ADS_3

Herjuno berbaring menatap langit-langit kamarnya dengan kedua tangan dibelakang kepala. Sekitarnya gelap , hanya ada sedikit cahaya dari lampu taman di seberang kamarnya. Ia tersenyum samar. Makan siang hanya berdua dengan Aurorae, siang tadi adalah pertama kalinya sejak perceraian mereka delapan belas tahun yang lalu. Selama ini Aurorae terlalu menjaga jarak dengannya , tidak memberi sedikitpun kesempatan untuk Herjuno kembali merebut perhatiannya.


Tapi siang tadi, Herjuno jelas melihat raut salah tingkah mantan istrinya itu. Aurorae masih cantik, meski usianya sudah empat puluh satu. Dan raut wajah gugup serta malu-malu seperti tadi, adalah salah satu yang menggemaskan di mata Herjuno.


Aku tidak tahu. Tapi jika Ayah dan anak-anak tidak keberatan, mungkin akan aku pertimbangkan.


Begitu jawabannya siang tadi saat Herjuno kembali meminta kesempatan untuk memulai hubungan mereka.


Gumilar? Tentu saja langsung setuju. Padahal Herjuno sudah mempersiapkan diri andai mantan Ayah mertuanya itu melontarkan kalimat-kalimat pedas menyakitkan, tapi nyatanya tidak.


Tentu saja. Apa yang Ayah khawatirkan? Jika Rae menerimamu, Ayah akan senang.


Herjuno mendengus pelan. Di kepalanya berputar satu persatu adegan hari ini. Besok , ia akan mencoba bicara pada Ryan dan Ryana. Anak-anak pasti akan senang kan?


Herjuno meraih ponselnya di atas nakas. Pukul satu dini hari , tapi ia sama sekali belum mengantuk. Jantungnya berdebar kencang, setelah ia bicara dengan anak-anak besok , Aurorae akan kembali menjadi miliknya. Begitu kan? Membayangkannya saja membuatnya gugup.

__ADS_1


Jika anak-anak setuju, maka aku akan melamarmu besok dan kita akan menikah secepatnya. Aku tidak sabar.


Sebuah pesan ia kirimkan ke nomor ponsel Aurorae, sebelum memaksakan matanya untuk beristirahat.


**


Ryana bertopang dagu di mini bar sembari menatap Aurorae yang tengah sibuk di dapur. Ia sudah terlihat sangat cantik, dress floral dengan panjang sedikit dibawah lutut ia pilih setelah sejak pagi buta mengeluarkan semua stok baju dari lemarinya. Rambutnya yang bergelombang dibagian bawah ia biarkan tergerai sampai pinggang, jangan lupakan poni tipis yang membuatnya terlihat cantik sekaligus menggemaskan.


"Jangan lupakan strawberry nya, Bu." Ryana mengingatkan saat Aurorae sibuk memasukkan bermacam-macam buah ke dalam satu kotak bekal.


"Cerewet sekali, bukannya membantu." Ryan yang tiba-tiba saja muncul di belakang Ryana menggerutu.


Ryana mencebik. "Telepon Ayah , Bang. Kenapa belum sampai?"


Ryan memutar bola matanya malas. "Ini bahkan masih jam tujuh pagi." jawabnya sembari meraih satu lembar roti tawar yang sudah di olesi selai kacang.

__ADS_1


"Nanti kita terlambat, jalanan pasti macet."


"Siapa yang ada di jalanan hari Rabu begini? Hanya Ayah , karena membolos kerja." Ryan dan Ryana terkekeh.


Herjuno memang mengambil cuti hari ini karena ingin pergi jalan-jalan dengan kedua anaknya. Hanya mereka , tanpa Aurorae.


Tidak lama Herjuno datang. Dengan kaos polo berwarna biru langit dan celana hitam pendek selutut membuat dia terlihat sangat tampan. Jangan lupakan sneakers putihnya , siapa yang akan mengira pria ini berusia empat puluh enam.


"Aku akan pastikan menikahimu secepatnya." Bisik Herjuno di telinga Aurorae saat anak-anak sudah masuk ke dalam mobil.


Aurorae terkekeh. "Aku sangat menantikannya."


Astaga. Apa ini benar Aurorae? Wanita yang belasan tahun menjaga jarak dari semua pria? Lihatlah caranya menggigit bibir bawah untuk meredam suara , sangat seksi.. dan menggoda. Sial! Herjuno bahkan lupa berkedip.


Ehm. Herjuno berdehem untuk menutupi rasa gugupnya. "Bersiaplah! Aku tidak akan membuang waktu lagi." ucapnya sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


**


__ADS_2